Sabtu, 15 September 2012

G-Dragon - CRAYON [lyric]


Get your crayon
Get your crayon
Meori eokkae mureup bal
Swag check swag check
Meori eokkae mureup bal
Swag check swag check
Ajikdo kkulliji anha yes i’m a pretty boy
Nan naradanyeo so fly nallari boy
Wolhwasumokgeumtoil nan bappa oppa nappa baaaad boy
I’m a g to the d gold n diamonds boy
Nuga anirae u know i beez that
Oneurui dj naneun cheori neoneun miae
Agassi agassi nan sungyeolhan jiyongssi
Iri wabwayo gwiyomi ne namjachinguneun jimotmi
Neon machi darmatji nae isanghyeong so give me some
Gimtaehuiwa gimhuiseon oh my god jeonjihyeon
Why so serious?
Get your crayon get your crayon get your cray get your crayon
Get your crayon get your crayon get your cray get your
Why so serious?
Come on girls come on boys come on come on
Get your crayon crayon come on girls come on
Boys come on come on get your crayon crayon
Meori eokkae mureup bal swag
Nae kadeuneun black muhandaero ssak geulgeobeoryeo
I noraen crack muhangwedo hwak dollyeobeoryeo
Gam tteoreojin bundeulkke nan han geuru gamnamu
Kotdae nopeun bundeulkke gijukji annneun kkangdagu
Eojungigeon tteojungigeon pyeongyeon eobsi crayon
Jal nagadeon mangnanigeon chabyeol eobsi crayon
Hana dul three four watda gatda dolligo
Chabunhage slow it down simsimhamyeon jom deo ppareuge dallyeora
Seoul daejeon daegu busan sonppyeogeul chimyeonseo
Noraereul bureumyeo jeulgeopge gachi chumeul chwo
Ringgaringgaring pateuneo bakkwo
Meori eokkae mureup bal mureup bal momeul heundeureo rock
Why so serious?
Get your crayon get your crayon get your cray get your crayon
Get your crayon get your crayon get your cray get your
Why so serious?
Come on girls come on boys come on come on get your crayon crayon come on girls come on
Boys come on come on get your crayon crayon get your crayon crayon
Come on girls come on boys come on come on come on come on
Come on girls come on boys come on come on come on come on
Meori eokkae mureup bal swag
Translation Credits: @HuisuYoon
Romanizations by: kpoplyrics.net


English:
Get your crayon
Get your crayon
Head shoulders knees and toes
Swag check swag check
Head shoulders knees and toes
Swag check swag check
I’m still not inferior, yes I’m a pretty boy,
I fly off so flyyy, a punk boy,
Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sunday,
I’m busy, oppa you’re bad, baaad boy
I’m a G to the D, Gold N Diamonds boy,
who told you I’m not, U know I beez that,
Today’s DJ, I’m Cheol and you’re Miae
Miss Miss, I’m a pure Ji Yong Chy,
come here cutie, you’re boy friend is just,
I’m sorry that I cannot support him
you’re a bit like my ideal girl,
so give me some Kim TaeHee and Kim HuiSun, Oh my god, Jun JiHyun.
Why so serious?
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your crayon
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your
Why so serious?
Come on girls Come on boys Come on come on Get your crayon crayon Come on girls Come on
boys Come on come on Get your crayon crayon
Head shoulders knees and toes swag
My credit card is black, just use it infinitely,
This music is crack, spin the track infinitely.
To all ppl who lost their sense, I’m a persimmon tree
A tenacity that I’m not discouraged by the sniffish
Whether you’re odds or sods, w/o prejudice, CRAYON,
whether you’re best or yahoo, w/o discrimination, CRAYON
One two three four, come here and there,
spinning it, calmly slow it down, run faster if you’re bored.
Seoul Daejeon Daegu Busan clapping your hands,
singing the songs, dance together w/ joy
RingaRingaRing, change your parter,
head shoulders knees and toes, shake your body ROCK
Why so serious?
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your crayon
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your
Why so serious?
Come on girls Come on boys Come on come on Get your crayon crayon Come on girls Come on
boys Come on come on Get your crayon crayon
Head shoulders knees and toes swag





Kamis, 30 Agustus 2012

Sabtu, 07 Juli 2012

At A Time [5] FF by @Light91916




Kimbeom berjalan dengan gontai tak tentu arah. Pulang dari rumah sakit dengan wajah pucat dan badan yang sedikit bergetar. Ia baru saja melihat seseorang mati di hadapannya, memang tidak dengan cara yang tragis, namun sesuatu yang dikatakannya membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya hingga sekarang.

“Tolong berikan mataku.. pada Hongki.. setelah aku mati..”

Kalimat itu tak bisa berhenti berdengung di telingannya, dan senyum terakhir yang diberikan orang itu padanya, sebelum akhirnya ia terpejam dan menghembuskan nafas terakhirnya. Wajah itu masih diingat Kimbeom. Tapi bahkan ia tak tahu siapa pria itu dan siapa keluarganya. Maka ia tak bisa melakukan prosedur apa-apa untuk mengurus amanah yang diberikannya. Mendonorkan matanya untuk Hongki.

Entah bagaimana caranya, kakinya melangkah menuju ke tempat rehabilitasi dimana Hongki dirawat. Namun ia tidak masuk, ia berhenti di luar pagar. Matanya menatap kosong ke tanah. Hingga seseorang yang baru muncul memanggilnya.

“K..Kim Sangbeom?”

Kimbeom mendongak. Seorang gadis berada di hadapannya dengan wajah takjub, setengah malu, namun memberanikan diri untuk menyapanya. Park RaeIn. Entah apa yang dilakukannya jam segini, yang jelas ia tahu tempat itu tidak akan buka pada jam selarut ini, jadi bisa dipastikan RaeIn tidak muncul dari dalam sana. Tapi Kimbeom tak peduli.

Entah sadar atau tidak, sesaat kemudian ia sudah memeluk gadis itu erat, hingga Raein hendak terhuyung kebelakang, namun karena Kimbeom, ia tidak terjatuh. Gadis itu tak mengerti apa yang dipikirkan bocah lelaki itu. Apa yang sedang terjadi, hingga membuatnya melakukan ini. Yang jelas yang di rasakan RaeIn adalah kebingungan dan perasaan bahagia tiada tara. Makin menjelaskan bagaimana perasaannya pada Kimbeom.

---

“Mau jus?” Tanya Kimbeom, mereka duduk di sebuah halte kecil tak jauh dari sana, disampingnya ada vending machine yang menjual minuman jus dan soda. Kimbeom berada di hadapannya, memilih-milih minuman apa yang ingin ia beli.

RaeIn menggeleng, menolak tawarannya. “Aku sudah bawa minum!” ia menunjukkan air mineral di tangannya dengan senyum kecil. Kimbeom mengangguk-angguk, kemudian menekan satu tombol setelah sebelumnya memasukan 3 keping uang logam, dan sesaat jus peach keluar dari sana.

Kimbeom membuka kaleng jusnya, kemudian menenggaknya sedikit seraya duduk di samping Raein. “Kamu ngapain keluar jam segini?” Tanya Kimbeom basa-basi.

Raein tak bisa berhenti tersenyum meski ia menahannya. Namun ia berusaha mati-matian untuk terlihat biasa saja di hadapan Kimbeom. “Baru selesai beres-beres untuk pameran besok..” jawabnya. “Neo?”

Kimbeom tak bisa segera menjawab. Ia menatap kaleng jusnya beberapa saat sebelum ia menghela nafas cukup panjang. “Aku.. tidak tahu apakah ini berkaitan denganmu, tapi..” Kimbeom mengarahkan pandangannya pada Raein yang juga tengah menatap ke arahnya. “Ini berkaitan dengan Lee Hongki-ssi..”

Sesaat pikiran serba bahagia di kepala Raein sedikit memudar. Entah bagaimana ia merasa akan mendapatkan kabar buruk dari nada bicara yang dipakai Kimbeom. Namun ia tak menyelanya, ia membiarkan bocah lelaki itu meneruskan apa yang ingin di katakannya.

“Aku baru menemukan seseorang, ia tenggelam di sungai beberapa jam yang lalu setelah tertabrak mobil di jembatan.. dan aku melihatnya sendiri..” Kimbeom menghela nafas lagi. Ia merasa begitu sulit menceritakannya. “Aku menelpon rumah sakit dan mereka membawanya dengan ambulan bersamaku yang menemukannya..”

Kimbeom menatap kembali ke arah kaleng jus yang ia pegang di kedua tangannya. “Tapi ia meninggal setelah meminta sesuatu padaku..” lanjutnya.

Mwo?” Tanya Raein penasaran.

“Ia memintaku menyumbangkan matanya untuk Hongki-ssi..” Kimbeom membasahi bibirnya yang tiba-tiba mengering, dan melanjutkannya lagi. “Tapi aku tak tahu keluarganya, makanya aku tak bisa menguruskan untuknya..”

“Tapi kau tahu namanya kan?” Tanya Raein antusias.

Kimbeom mengangguk. “Dari tanda pengenalnya, aku membawa kopiannya yang diberikan pihak rumah sakit untukku! Tapi terlalu sulit karena tak ada nomor yang terdaftar untuk di hubungi sama sekali! Bahkan ia tak memiliki ponsel!” ujar Kimbeom, mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya dan memberikannya pada Raein. “Dan ini fotonya, apa dia kenalannya Lee Hongki-ssi? Aku sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat.. Rae In-aGwaenchanayo?” menyadari perubahan air muka RaeIn, Kimbeom berpikir, pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Tak satu katapun keluar dari bibir Raein begitu ia melihat foto yang diberikan Kimbeom padanya. Pas foto 3x4 yang dicurinya dari dompet Geunsuk untuk mencari kenalan bocah itu, karena bahkan nomor telepon dan ponsel pun tak tertera di tanda pengenal Geunsuk. Dan setitik air mata jatuh ke pipi Raein. “Geunsuk-i?” gumamnya lirih.

Kimbeom tersentak. “Geunsuk-i?” Kimbeom memandang bergantian ke arah foto, kemudian RaeIn. “Kau mengenalnya?” Tanya Kimbeom tak percaya. Memandang RaeIn ternganga, karena mungkin salah ia menanyakan soal ini pada RaeIn, melihat reaksi gadis itu setelah mengetahuinya.

Raein tak mengatakan apapun, bahkan menjawab dengan gelengan atau anggukkan pun tidak. Namun dari tangisnya, Kimbeom tahu gadis ini mengenal Geunsuk. Atau mungkin sangat mengenalnya. Yang ia lakukan hanya terus menangis. Diremasnya kertas di tangannya tanpa sengaja, ia letakkan kedua tangannya di pangkuannya, menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-sejadinya. “Wae..” bisiknya entah kepada siapa.

“Raein-a?” Kimbeom bingung harus melakukan apa. Dengan gugup ia menepuk-nepuk punggung Raein tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sementara Raein tak berhenti menangisi Geunsuk.

*

“Aku akan bisa melihat sebentar lagi? Jinjja?? Dokter, kau tidak bohong?” Hongki tampak senang mendengar apa yang baru saja diinformasikan oleh dokter kepadanya, sementara RaeIn duduk di sampingnya dengan senyum gamang. Ia bahagia untuk Hongki, namun tak bisa terlalu merasakannya karena Geunsuk. Semua ini membuatnya sebal.

“Kau senang?” Tanya dokter kemudian.

“Umh! Karena sebentar lagi aku bisa melihatnya..” kalimatnya ditujukan pada RaeIn. Sang dokter hanya tersenyum, sementara RaeIn tersipu.

Selesai dengan persiapannya, dokter mengijinkan Hongki meninggalkan tempat ini untuk pindah ke rumah sakit tempat dimana ia akan di operasi nanti. RaeIn mendorong kursi roda Hongki keluar menuju mobil yang akan membawa mereka kesana, sementara seorang perawat membantunya membawakan tas besar berisi perlengkapan Hongki.

Karena itulah Raein tak datang ke pameran kampusnya pagi ini, meski ada hal penting yang harus di laksanakannya, tapi ia merasa hal ini lebih penting. Ia lebih memilih untuk mengurus apa yang diamanahkan Geunsuk pada Kimbeom. Setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan dari keluarga Geunsuk yang perwakilannya datang ke rumah sakit dengan pakaian serba hitam itu, mereka akan melaksanakan operasinya malam ini.

Hongki senang karena ia akan mendapatkan penglihatannya kembali, dan ia akan bertemu dan bisa melihat bagaimana wajah malaikatnya itu. Mungkin dengan itu, ia akan bisa mengingat semuanya nanti. Tentang siapa dirinya, dan siapa Raein, juga mungkin mimpinya yang tiba-tiba datang setelah Geunsuk sering main dengannya akhir-akhir ini.

“Aku tak sabar bisa melihatmu nanti, RaeIn-a!” Hongki berkata gembira didalam mobil menuju ke rumah sakit tempat dimana ia akan mendapatkan operasinya malam ini. Raein mengangguk, mencoba tersenyum meski ia tahu bagaimanapun ekspresinya Hongki tak akan bisa melihatnya. “Aku tak sabar, aku juga akan bisa melihat bocah yang sering menggantikanmu datang itu!” lanjutnya.

Sesaat hatinya seperti di tusuk duri, sakit. Mengingat bagaimana kenyataan yang ada sekarang. Hongki tak akan bisa melihat Geunsuk lagi. Sahabat baiknya sejak lama. Padahal ia ingin ketiganya seperti dulu lagi. Namun sudah tak mungkin lagi sekarang, Geunsuk sudah meninggalkan mereka selamanya.

---

Kau baik-baik saja?” Tanya Kimbeom dari sebrang, melalui ponselnya. Raein hanya mengangguk dan berdeham menjawabnya. Ia duduk di kursi tunggu rumah sakit, sementara Hongki melakukan cek kesehatan sebelum operasi sebagai prosedurnya agar tak terjadi kesalahan yang fatal saat operasi nanti.

Gomawoyo.. pamerannya..”

Gwaenchana!” Kimbeom menyela. “Aku akan menyusulmu kesana nanti kalau pamerannya sudah selesai!”

Raein memandangi jari-jarinya yang menarik-narik ujung bawah jaketnya sendiri. “Oh!” katanya mengiyakan.

Lalu kapan operasinya?” Tanya Kimbeom kemudian.

“Malam ini, jam 7!” jawab RaeIn singkat. Sesaat terasa kesunyian di antara mereka, dan RaeIn angkat bicara lagi. “Setelah operasi, jenazahnya akan langsung dibawa keluarga untuk di kremasi..” suara RaeIn bergetar, namun ia berusaha untuk terdengar baik-baik saja.

Keduanya terdiam, keheningan menyelimuti mereka. Tak satupun dari mereka berniat bicara, namun entah kenapa keduanya juga enggan untuk memutuskan sambungan telepon mereka. Kimbeom menghela nafas pendek. “Mianhae..”

“Untuk apa? Kau tak pernah bersalah..”

Kimbeom mendengus. “Entahlah.. aku hanya merasa harus meminta maaf padamu..” jawabnya pelan. Mereka terdiam lagi. “Lukisanmu bagus..” tiba-tiba saja Kimbeom bicara nggak nyambung. RaeIn hanya tersenyum tipis. Menyadari perkataannya sedikit bodoh, Kimbeom juga tersenyum kecil. “Aku menyukainya..” Kimbeom melebarkan senyumnya. “Dan menyukaimu..”

Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, namun entah mengapa perkataan itu terlontar begitu saja dari bibirnya. Kimbeom pikir ia akan mendapatkan reaksi yang sama dari RaeIn. Amarahnya akan meletup-letup karena sebal pada Kimbeom. Namun reaksi yang didapatnya dari RaeIn diluar dugaan. Tak ada teriakan marah-marah, tak ada perlawanan dari RaeIn sedikitpun. Dan entah mengapa RaeIn sedikit melupakan apa yang sedang terjadi pada sahabatnya. Ia merasa berdosa, namun ia tak bisa menahan ini. Ia merasa sangat bahagia. Dan ia merasa sangat mengerti bagaimana perasaannya kini.

“Kau memerlukan jawaban?” RaeIn bertanya ragu.

Tidak terlalu.. aku sedah senang kau tidak berte..

Nado!” hening sesaat.

Mwo???” kini malah Kimbeom yang berteriak padanya.

Nado.. Jhoayo!” dan tak ada pembicaraan lagi setelah ini. RaeIn memutuskan sambungan teleponnya segera dan mematikan ponselnya.

*

RaeIn baru kembali dari melawat. Pagi tadi Geunsuk di kremasi, dan makin banyak kerabat yang melawat ke rumahnya setelah upacara pemakaman usai. Walau ingin, RaeIn tak bisa berlama-lama disana. Ia terlalu sedih kehilangan sosok sahabat yang sudah di anggapnya sebagai saudara. Seseorang yang melindunginya sejak ia masih kecil, seorang pria dengan mimpi besar yang sudah tak mungkin diraihnya lagi.

RaeIn memandangi benda di tangannya. Kacamata renang Geunsuk yang di ambilnya dari rumah sewanya saat ia membereskannya kemarin. Semua barang-barangnya dikembalikan ke rumah orang tuanya, dan ia hanya mengambil kacamata renang Geunsuk. Hadiah ulang tahun darinya, sekaligus hadiah saat ia menang turnamen antar sekolah di provinsinya. Begitu banyak kenangan yang terlintas dipikirannya, membuatnya semakin sakit untuk mengingatnya.

“Ayo pulang, pameran hari kedua kau harus datang, atau dosenmu akan mengurangi nilaimu nanti!” Kimbeom yang datang bersamanya memperingatkannya. Ia duduk di kap depan mobil, tepatnya hanya menyandarkan pantatnya disana. Disebelahnya, RaeIn dengan pakaian serba hitam mengusap-usap kacamata renang Geunsuk.

“Kita ke rumah sakit saja.. aku sedang tidak mood ke pameran!” jawab RaeIn tanpa mengalihkan pandangannya.

Keurae, asal kita jangan disini terus! Tempat sepi, nanti muncul fitnah!” ujar Kimbeom sedikit bergurau. RaeIn tersenyum kecil, kemudian beranjak dan masuk kedalam mobil. Di sampingnya, di bangku supir, Kimbeom memasang sabuk pengamannya, kemudian menyalakan mesin mobilnya, dan mobil itu melaju beberapa saat kemudian.

Keduanya diam, tak terlontar sepatah katapun. Kimbeom berkonsentrasi dengan kemudinya, sedangkan RaeIn lebih tertarik membuang pandangannya keluar jendela mobil melihat apa saja yang dilewatinya. Meski pikirannya kosong. Bahkan ia sedang tidak mood memikirkan apapun.

“Operasinya berhasil?” Tanya Kimbeom memecah keheningan. Pandangannya tak beralih dari jalanan di hadapannya, namun ia tak suka keadaan yang terlalu sepi. Ia ingin mendengar suara RaeIn. Namun RaeIn hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Itu bukan jawaban yang diinginkan Kimbeom. “Kapan balutannya akan di buka?”

“Seminggu lagi! Aku harap ia benar-benar bisa melihat lagi..” ujar RaeIn.

“Sepertinya dia menyukaimu? Lee Hongki-ssi?” entah kenapa ia menanyakan hal itu. Ia sendiri baru menyadarinya setelah mengatakannya. Namun ia tak mungkin menariknya kembali setelah RaeIn sudah mendengarnya dengan jelas.

Wae? Kau cemburu?” RaeIn menggodanya, meski pandangannya masih keluar jendela. Kimbeom tak menjawab, berpura-pura tak mendengar. RaeIn menoleh, tersenyum tipis. “Tenang saja, perasaanku tidak bisa berubah dengan cepat!”

Dan sesaat saja mobil mereka sedikit oleng dan hampir menabrak pohon di tepi jalan. Kimbeom menghentikan kemudian. Tatapannya kosong ke arah benda bundar di hadapannya. Sementara RaeIn meneriakinya karena mungkin ia hampir mati gara-gara Kimbeom.

“YAH!! Nyetir yang bener heh!!”

Kimbeom sedikit bergetar. Mereka tak pernah menyatakan ini, tapi entah, sejak semalam ia sudah merasa seperti memiliki RaeIn. Namun ia masih tak menyangka akan mendengar ucapan RaeIn barusan. Ia segera menghilangkan pikirannya, dengan tangan masih sedikit bergetar, ia mencoba melanjutkan perjalanan mereka. RaeIn yang menyadari itu tersenyum tipis, dan kembali mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil.

*

Oppa mau makan sesuatu?” Tanya RaeIn pada Hongki yang tengah duduk di kursi roda di depan jendela balkon kamar rumah sakitnya. Matanya dibalut perban putih yang menjaganya dari bahaya setelah operasi. Meski belum bisa dibuka dan ia belum merasakan efek positif dari operasinya, Hongki sudah terlihat sangat senang.

“Aku baru saja makan bubur! Perawat dari tempat rehabilitasi berkunjung sebelum kau datang!” jawabnya dengan senyum sama sekali tak tanggal dari wajahnya.

“Kalau begitu, mau ku kupaskan apel?” Tanya RaeIn.

“Boleh!” jawabnya.

Segera mungkin RaeIn mengupas apel yang ada di meja di samping tempat tidur Hongki. Kemudian membelah daging buahnya menjadi berukuran lebih kecil dan mudah dimakan. Ia menusukkan tusuk gigi ke salah satu potongan apel itu dan menyuapkannya pada Hongki. “Umh~ Jhoa!” gumamnya. RaeIn tersenyum, kemudian menyuapkan sediri salah satu potongan apel ke mulutnya.

“Ngomong-ngomong RaeIn-a.. kenapa bocah itu nggak datang?” Tanya Hongki dengan mulut setengah penuh kunyahan apelnya.

Nugu?”

“Itu, yang sering datang menggantikanmu! Rasanya aneh dia tak muncul sama sekali akhir-akhir ini! Biasanya dalam sehari ia bisa datang sampai 3 kali!” terang Hongki. RaeIn terdiam. Ia tidak tahu ternyata Geunsuk datang sesering itu.

RaeIn tak tahu bagaimana harus menceritakannya, ia masih berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Hongki saat beberapa orang masuk kedalam kamar itu. Seorang dokter dan perawat yang harus memeriksa kondisi Hongki. Mungkin sedikit lega baginya, mereka menginterupsi di saat yang tepat, dan RaeIn memilih keluar dan segera pulang dari rumah sakit.

*

RaeIn mengangkat ponselnya yang bergetar di saku jaketnya setelah mendapati siapa yang menghubunginya. Teman kampusnya. Hari ini hari terakhir pameran namun ia tak bisa datang, jadi teman kampusnya meneleponnya karena RaeIn tidak pamit sama sekali pada mereka. “Tolong katakan pada professor aku mohon ijin untuk hari ini! Aku harus menemani Hongki oppa di rumah sakit!” ujarnya, sementara temannya di seberang telepon memintanya untuk datang atau ia akan mendapat 0 nantinya karena ia hampir tak pernah datang ke pameran mereka.

“Tolong ya! Aku bergantung padamu! GomapdaSaranghaeyo!!” katanya, kemudian menutup ponselnya dan mematikannya.

Balutan perban di mata Hongki akan di buka hari ini. RaeIn tak ingin melewatkan saat-saat dimana Hongki akan bisa melihatnya lagi. Ia tak peduli dengan nilainya, ia lebih peduli dengan temannya itu. Dan kini ia sudah berada didalam kamar Hongki bersama seorang dokter dan beberapa perawat rumah sakit tersebut.

Sang dokter memotong salah satu bagian perban, kemudian memutarnya untuk membukanya hingga seluruh perban terlepas. Tinggal dua buah kapas yang di plester menutupi kedua matanya. Pelan, dokter mulai melepas salah satu kapas, kemudian membuka yang satunya lagi. Keadaan mata Hongki masih menutup hingga sekarang, dan sang dokter mulai memberikan aba-aba. “Lee Hongki-ssi, silakan buka matamu pelan-pelan!” ujarnya.

Pelan, Hongki membuka matanya. Tampak bayangan samar-samar di hadapannya. Bentuk-bentuk yang belum jelas, namun ia bisa melihat warna dengan baik. Dan semakin lama semakin jelas. Ia bisa melihat dokternya, dan perawat yang ada di hadapannya. Kemudian senyum mulai terkembang begitu lebar di wajahnya. “Aku bisa melihat!” katanya.

Operasi itu berhasil, dan sesaat kebahagiaan begitu terpancar didalam ruangan itu. Hongki tampak senang, sudah begitu lama ia tidak bisa menikmati keindahan bentuk dunianya, dan kini ia bisa melihatnya lagi. Hongki mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, hingga ia menemukan RaeIn, berdiri menahan tangis haru di salah satu sudut di hadapannya. Dan entah kenapa senyumnya memudar.

Oppa! Ini aku, Park RaeIn!” katanya ceria.

Hongki menatap RaeIn nanar. Iya, dia Park RaeIn, Hongki tahu itu. Dia mengenalnya.. bahkan dia lebih mengenalnya hingga ia tak bisa merasa bahagia saat melihat wajah dan mendengar suaranya, karena dengan cepat, potongan-potongan memori itu mulai muncul di ingatannya. Tentang bagaimana ia menjadi buta karenanya.

*To Be Continue*



POSTINGAN ASLI

Minggu, 24 Juni 2012

Puppet of Death -10-






Lyn tidak bisa mengatur nafasnya, ia tengadah dan lehernya juga robek. Darah segar keluar, boneka itu meminum seperti orang kehausan ditengah padang pasir. Tatapannya kini sejajar dengan Kevin. Ia melihat Kevin menangis.

“Kevin....” ucapnya Lyn lirih.

Lyn meraih tangan Kevin, ia merasakan pedihnya. Sungguh amat pedih, amat menyakitkan. Dan ia tidak pernah berfikir seperti ini sebelumnya; ia menyukai Kevin. Namun Kevin besikeras menemukan Sera bahkan disaat kondiri mereka seperti ini.

Lautan merah berada di sekeliling mereka. Kini iblis bertanduk itu malah sudah keluar dengan sendirinya. Ia tampak lemas karena memaksa masuk ke dalam tubuh Kevin. Ia bukanlah sebuah manekin lagi, tubuh itu hidup, berdenyut dan berdetak. Tidak seperti manekin yang terbuat dari porselen.

Boneka Pullip itu juga sudah tergolek menjadi sebuah benda mati, lama-lama tanduk iblis itu mencari menjadi sebuah lendir seperti lava gunung merapi yang panas. Sementara, Kevin terus tidak bisa menghentikan airmatanya. Dan Lyn, ia berusaha agar tetap sadar dengan meremas tangan Kevin.

“Kev.......vin......jangan mati....” desahnya.

Sebuah cahaya putih menyilaukan datang dari sebuah lorong, ia berlari membawa sebuah burung dara yang terbang rendah di samping kedua kakinya, sepasang. Kevin dan Lyn hanya bisa melihat sepasang kaki tak beralaskan sandal atau pun sepatu.

Terdengar begitu banyak kepakan sayap burung, dan benar-benar terang.

“Kevin...” ucapnya. Sepasang tangan hangat dan lembut menyentuh badan Kevin, ia membalikkan badan itu dan mengikatkan sesuatu di lehernya. “Hiduplah, kenang aku dalam indahmu. Jangan pernah cari aku...kita sudah impas.” Bisiknya lembut setelah itu mengecup kening Kevin.

Ialah Sera. Dia datang tepat pada waktunya.

Lyn hanya bisa melihat iblis itu meleleh menjadi sebuah cairan putih yang menggenangi mereka berdua. Ia membersihkan darah itu; ia telah di sucikan oleh hadirnya Sera.

Kemudian tangan halus itu merangkul kepala Lyn dan juga berbisik, “Aku percaya padamu... tolong jagalah Kevinku...”

Tidak lama setelah itu terasa sebuah benda masuk ke dalam leher Lyn. Ia merasakannya betul! Sebuah rantai yang dingin terpasang disana.

‘PLASSSHHH~’

Ia menghilang meninggalkan banyak bulu-bulu putih yang jatuh di tubuh Kevin dan Lyn. Dan Lyn menutup mata.

@.@

Kehebohan. Bahkan petugas pameran pun tidak tahu kenapa boneka-boneka itu berhamburan keluar dari kotak kaca. Penyebabnya sementara karena hendak di curi oleh pihak yang memang menginginkan barang antik itu. Pihak panitia mengutarakan pameran ini akan di tunda pembukaanya sampai keadaan benar-benar aman dan terkendali.”

“Astaga, berita ini benar-benar melebih-lebihkan!” Sabia melempar keras koran tidak berguna itu. Ia menjaga Lyn sampai benar-benar sembuh. Namun bagaimana pun ia tak kan bisa melupakan kejadian mengerikan yang terjadi pada saat itu. Ia bertekad akan segera meminta maaf kepada Kevin jika ia sadar nanti.

Chia tampak begitu lelah, ia menjaga Kevin siang malam. Begitu juga dengan Tom, ia bergantian menjaga Lyn dirumah sakit. Sudah dua bulan, dua bulan Kevin koma.

“Kak, apakah lehermu masih terasa sakit?” tanya Sabia sambil mengupaskan buah untuk Seniornya itu.

“Tidak seberapa...mungkin minggu depan aku sudah bisa pulang...apakah kamu sudah melihat Kevin hari ini?”

Sabia mengangguk, “Masih sama seperti kemarin-kemarin...ia masih tidur tenang disana. Aku kasihan melihat Kak Chia, ia sudah sering bolos kuliah demi menjaga Kevin.”

“Ia sudah bekerja keras menjaga Kevin. Oiya, apakah Chia tidak mengambil kalung yang Kevin pakai?”

Sabia menggeleng, “Aku sudah mengatakan hal itu padanya, bahkan ia tidak berani menyentuh kalung itu. Tapi aku sungguh minta maaf Kak, meninggalkan Kevin pada saat itu...aku merasa bersalah.”

Lyn hanya tersenyum, ia meraba liontin berbentuk tangan itu. Baginya, itu bukanlah hanya sebuah liontin, itu adalah sebuah mandat, sebuah pesan mulia.

@.@

Suatu hari di musim semi....

Tom kali ini mengajak Chia makan siang, terpaksa ia harus meninggalkan Kevin untuk beberapa saat.

“Tidak apa, ia akan baik-baik saja disini Chia.”

Chia sangat ingin Kevin bisa segera sadar, ia ingin Kevin kembali seperti dulu lagi.

“Baiklah, tidak lebih dari 2 jam.” Sahut Chia seraya meninggalkan Kevin seorang diri.

Begitu sunyi, senyap. Tubuh Kevin benar-benar damai. Suhu ruangannya tidak terlalu dingin untuknya. Ia tampak seperti manekin tampan, garis rahang yang sempurna dan rambut yang agak gondrong dan  tersisir rapi dengan poni kesamping kanan.

Namun bola mata itu bergerak kesana kemarin, mencari sesuatu sampai akhirnya...mata itu terkejap setelah sekian lama tak pernah terbuka.

‘TAP, TAP, TAP...’

Sebuah langkah mendekat, begitu dekat.

“Kevin???!!” panggilnya dengan sejuta ekspresi bahagia di wajahnya. Wanita berambut panjang itu langsung memeluk tubuh Kevin dengan luapan kebahagiaan selama penantian setahun lamanya.


END .

Sabtu, 16 Juni 2012

Puppet of Death -9-




Sekumpulan anak kecil bergaun warna warni itu berjalan beriringan, menabur bunga dan tidak lupa tersenyum kepada semua mata yang memandang mereka. Festival tahunan telah dibuka, lokasi pameran akan segera diresmikan. Tampak Lyn amat tidak sabar ingin melihat boneka-boneka tersebut.

Ia tampak sangat antusias di bandingkan Chia yang malah kurang nyaman dengan keramaian seperti ini.

“Mau aku belikan minuman?” tawar Kevin yang haus karena berteriak heboh disaat dancer seksi menari tadi.

“Ah, kamu mau beli minuman? Aku ikut!” pinta Chia, namun Kevin menolaknya.

“Jangan, temani Lyn! Aku akan kembali secepatnya.”

Kevin bergegas menghilang di keramaian, Chia memandang punggung orang itu. Akhir-akhir ini ia merasa khawatir yang berlebihan pada sahabatnya itu.

Lyn memergoki ekspersi Chia, “Kenapa?” tanyanya lembut.

Chia menggeleng, mengipasi lehernya dengan tangannya. “Tidak, ku harap dia tidak hilang ditengah keramaian.” Kilahnya.

*_*

Di lokasi yang sama, Sabia tengah jengkel karena usahanya kabur dan menginap dirumah Shirley pun gagal total. Kakak sepupunya memergoki ia saat sedang  berada di halte bus semalam. Alhasil hari ini ia merengut, padahal ia ingin gembira disaat menikmati pameran boneka nanti.

“Sebenarnya aku juga tidak mau menemanimu!” keluh kakak sepupu Sabia.

“Kenapa tidak bilang dari awal? Kamu kira aku suka jalan dengan Om-Om sepertimu?”

“Apa katamu?! Jaga sikapmu Nona Sabia!”

Sabia mendekatinya, “Jika bukan karena Ibuku, aku tidak mau bertemu denganmu. Apa tidak ingat dengan ini hah?!” Sabia menyapu poninya hanya untuk memperlihatkan bekas lukanya.

“Aku kan sudah bilang dari dulu, aku tidak sengaja!”

Sabia memberi sedikit dorongan di bahu, “Ini jelas-jelas di se-nga-ja! Bahkan sebenarnya saking bencinya aku padamu, aku bahkan tidak bisa mengingat nama lengkapmu!”

“Paqeuin! Thomas Paqeuin, TOM!” sahutnya.

Tidak jauh dari mereka, berdiri seorang laki-laki tinggi dengan rambut agak gondrong. “Sabia?”

“Kamu lagi!!” Sabia menunjuk Kevin dengan terkejutannya, tidak mungkin bisa bertemu dua orang yang menyebalkan dalam satu hari di tempat favoritnya. “Kamu menguntitku ya!? Iya kan? Ngaku deh!!”

“Ah Kevin? Masih ingat aku?” tanya Tom melunak. “Aku yang waktu itu...”

“Ah...ingat, aku ingat. Sedang apa dengan dia?” tunjuk Kevin ke arah Sabia yang sudah melipat tangan tanda kekesalannya.