Senin, 16 Mei 2011

WAKTU

Sempat ada yang hilang
Namun sempat datang
Pernah menciptakan suasana khas
Ketika hilang, ditinggalkan

Itulah Kenangan . . .

Putar kembali musiknya
Bernostalgia dengan suasana
Pijakkanlah dengan segenap rasa
Itulah masa kini

Bukan untuk sepenuhnya dibenci
Tidak juga harus sepenuhnya disukai
Kadang kala,
Tetapi itulah masa lalu

*backsound by Peterpan | 01:49 wita ~ 15.5.11
 




FF tengah malam -3-

Terdengar musik yang amat keras dan keadaan yang riuh, tampaknya didalam klub sedang diadakan pesta besar-besaran. Dia, bintang malam ini sedang menari diatas panggung. Tubuhnya lentur dan hentakan musik hip hop membuatnya ‘membara’ malam ini.
 
Young Bae memperhatikan pemuda itu, ia bukan hanya seorang bartender sebenarnya namun lebih dari itu. Hanya saja Young Bae adalah tipe pemalu untuk menunjukkan bakatnya di depan orang banyak.
“Hei YB, jangan melamun saja cepat sajikan minuman! Malam ini kamu lembur!” kata pemilik klub malam yang kebetulan saja sedang memergokinya terpana melihat pemuda berandalan itu.
Tidak lama kemudian terdengar keributan ditengah penikmat pesta, seseorang menemukan kekasihnya tengah mabuk dan menghajar pria yang sedang bersama kekasihnya itu. Young Bae awalnya tidak menggubrisnya, namun keributan itu semakin meluas dan akhirnya benar-benar ricuh.
“Hey, bisakah kalian selesai urusan ini di luar klub?” tanya Young Bae menengahi.
Salah satu dari mereka menggebrak meja bar dengan cukup keras di hadapan Young Bae dan memecahkan satu gelas kecil. Melihat ini tentu saja Young Bae tidak ingin mendengar bos marah-marah kepadanya.
“Tolong, kalian selesaikan diluar saja.” Pinta Young Bae baik-baik pada mereka yang datang bersama pria yang memergoki kekasihnya itu.
Nampaknya permintaan Young Bae memancing kekesalan pria itu.
Nyaris pria itu menarik baju Young Bae, namun seseorang menahannya.
“Kalian punya telinga, selesaikan masalah ini diluar. Kamu merusak pestaku, mengerti?!” ucap pelan seorang yang Young Bae kagumi itu, Kwon Ji Yong.
Akhirnya masalah kecil tadi bisa teratasi dan pesta kembali berlanjut.
“Maaf, ku jamin gajimu tidak akan berkurang gara-gara gelas yang pecah.” Ucapnya santai sambil meminta segelas air putih.
“Ah, seharusnya saya yang meminta maaf karena pesta Anda menjadi tidak nyaman gara-gara mereka.”
“Tidak masalah, ah tadi aku sempat melihatmu melihat tarianku. Menurutmu buruk ya?”
“Tidak, itu terlihat bagus.”
Ji Yong mengingat wajah Young Bae, sepertinya ia pernah melihatnya. “Aku familiar dengan wajahmu...sepertinya kita pernah bertemu.”
“Ya dulu.” Jawab Young Bae sembari melayani pesanan orang lain.
“Dimana?”
Young Bae tampak tertawa geli mengingatnya, “sekitar 5 bulan yang lalu. Aku datang ke acara kompetisi dance, namun aku tidak berhasil menang.”
Ji Yong menjentikkan jarinya, “aku ingat. Hey tahu tidak aku ingin belajar menari darimu, menurutku tarianmu stabil. Aku tidak begitu bisa menari sebenarnya, ya aku ikut lomba itu karena mengincar pengalaman saja.”
Tentu saja sudah sepantasnya Ji Yong mengatakan hal itu, dia bukan datang dari keluarga yang sederhana seperti Young Bae.
Mereka berbincang asyik malam itu, dan atas rekomendasi Ji Yong, Young Bae bisa mengajar tari di sebuah sanggar ternama dan kini sudah sepantasnya Ji Yong mengatakan hal itu, dia bukan datang dari keluarga yang sederhana seperti Young Bae.
Mereka berbincang asyik malam itu, dan atas rekomendasi Ji Yong, Young Bae bisa mengajar tari di sebuah sanggar ternama dan kini Young Bae merasa berjasa terhadap Ji Young karena itu, dan kini Young Bae benar-benar menjaga Jenny untuk Ji Yong. Tentu saja Jenny tidak pernah akan tahu hal ini.
***
Suatu siang terik, Jenny baru kembali dari sekolah. Dia terpaksa diantarkan Seung Hyun karena Seung Ri tidak bisa menjemputnya karena harus segera terbang ke Jepang untuk menjalani akademi seni. Jenny tidak mengatakan kepada Ji Yong jika Seung Ri tidak menjemputnya siang ini.
Sampai kamarnya, dia langsung buru-buru melihat mawar pelangi yang beberapa bulan yang lalu diberikan oleh kekasihnya. Hari ini nampak agak sedikit layu mungkin karena udara diluar sangat panas dan makhluk hidup manapun memerlukan air.
.....
Seminggu kemudian cuaca sudah berubah menjadi musim dingin, hujan sering turun dan sudah cukup lama dirinya tidak menemui Seung Hyun karena seniornya itu harus menempuh ujian kampus. Namun dia mulai teringat dengan malam dimana dirinya hanya berdua dirumah bersama Ji Yong.
*
“Yah, ini sudah pagi. Seharusnya kamu tidur di rumah sekarang.” Ucap Jenny menyuruh Ji Yong pulang dan beristirahat.
Ji Yong melihat jam tangannya, hampir mendekati pukul 3 pagi.
“Iya, aku letih sekali. Tapi sayang satu pun kakakmu belum pulang juga.”
Jenny menengok ke belakang, ke arah pintu masuk rumah. Begitu sepi.
“Lalu?”
“Lalu??”
“Perlukah aku mengantarmu pulang dengan mobilku?” tawar Jenny.
Ji Yong tidak menjawabnya, dia mengambil iPad milik kekasihnya kemudian membuka pemutar musik.
“Ada baiknya rileks sebentar.”
Sementara Ji Yong mendengarkan lagu slow dari iPad Jenny, mawar pelangi itu benar-benar menarik perhatian Jenny. Inilah yang selama ini ingin dimiliki Jenny, karena mawar langka seperti ini tidak akan bisa bertahan sepanjang jaman. Karena kini mawar tersebut sudah menjadi miliknya, ia meletakkan di dekat jendela kamarnya dilantai atas.
*
Mawarnya terlihat layu seminggu terakhir ini...ada apa? Perasaanku jadi tidak enak.
Ini pukul 4 sore dan hujan lebat sekali diluar. Kakak tertuanya, Young Bae seperti biasa sedang berasa di sanggar mengajar tari, sedangkan Dae Sung sedang asyik dikamarnya bersama komik dan film doraemon-nya.
Entah apa yang menggerakkannya, Jenny langsung meraih kunci mobil dan pergi tanpa meninggalkan pesan apapun, ponselnya pun tertinggal di atas meja makan.
Kenapa? Ke mana aku akan pergi?
Selama beberapa jam kepergian Jenny benar-benar berujung dengan kejutan. Hujan nampak mereda namun mawar pelangi itu rupanya merupakan suatu isyarat.


to be continue . . . 


Minggu, 15 Mei 2011

I K H L A S

Terkadang permata buruk
Itulah nilai seni yang mahal
Dia ada di antara keindahan
Namun keberadaannya misterius

Sama seperti persahabatan
Segenap keikhlasan tumpah ruah
Membersihkan kubangan lumpur
Menggantinya dengan genangan hujan

Dari hati, semuanya transparan
Keterbukaan dan pengertian
Hilangkan keegoisan dan iri hati
Lebur menjadi satu ; IKHLAS


*backsound brothers and me by Rain & JYP
03:15 wita, May 11 2011
 ( to @RenyWahyuSari )

Aku Pelampiasan

Tidak ada yang bisa ditorehkan
Selain sisa kekesalan dihati
Tanpa atau ada kamu
Terasa sama ; hambar terkadang manis

Datang dan pergi sesuka hati
Menyenangkan kemudian mengesalkan
Ya, selalu seperti itu bentuknya
Dan ketika pergi seperti asap

Sesak bergumul di dada sempit
Bilik jantung penuh sisamu
Tidak sisakan nafas buatku
Aku : hanya sebuah pelampiasan

Comeback (?)

"Itu", lagi . . . 
Terbang jauh lewati dimensi
Menembus batas tertentu
Menabrak keputusasaan yang tercipta

Harapan bawah sadar
Membawa "itu" lebih jauh
Dengan doa dan angan
Mencari dia yang di impikan

Kau muncul lagi
"Itu" kah kau? Tampil dalam pembaharuan
Menggantikan dia yang menyiakanku
Lalu kau hadir kembali 'tuk menghiburku

Haruskah. . .
Ku meraihmu lagi?
Pergi dan datang, kembali
Kali ini aku tak menerima ucapan `kecewa` lagi

Cukup sekali.

FF tengah malam -2-


Jenny kembali ke tengah kerumunan, dia hanya berdiri ditengah-tengah dan tidak berani mendongakkan wajahnya.
"Aku khawatir Seung Ri-ah akan khawatir kepadaku..." fikirnya.
Sedangkan Seung Hyun malah mencarinya keluar ruangan dan tidak sengaja bertemu dengan Young Bae, teman lamanya.
"Eh? Sedang apa kamu disini? Sudah lama tidak melihatmu.”
Young Bae terlihat asing dengan wajah Seung Hyun yang berponi kuda itu. "Siapa ya? Apa kita pernah kenal?"
"Astaga! Apakah kamu melupakanku?" Seung Hyun mulai melompat seperti sedang kalah bermain game.
Young Bae melipat tangannya dan mencoba mengingatnya lagi, "TOP?"
 "YA BENAR!!!" teriak Seung Hyun kegirangan menarik perhatian dan sekali lagi sekeliling menatap Young Bae aneh.
*
Jenny duduk disamping Seung Ri dengan gugup, matanya masih merah akibat menahan air mata yang hendak tumpah itu.
"Hei Jenny-ah, kenapa? Seharusnya kamu girang bertemu denganku. Aku sudah menepati janjiku. Atau kamu masih marah padaku tentang mainan robot itu?”
Jenny menggeleng, "bukan. Aku bahkan tidak pernah ingat dengan insiden itu."
"Lalu? Adakah seseorang yang membuatmu seperti ini? Siapa dia, akan ku hajar untukmu!" katanya bersemangat.
"Tidak Seung Ri-ah, aku baik-baik saja." ucapnya datar.
"Hmm....," Seung Ri tidak percaya dengan ucapan gadis ini.
Namun sebelum sempat Seung Ri melanjutkan kalimatnya, Jenny keburu menyelanya, "mana pacarmu?" Jenny melihat sekeliling.
"A..apa? Ah! Candaanmu tidak lucu.."
"Ha? Apa maksudmu?" dengan tatapan polos Jenny bertanya.
Seung Ri menggaruk kepala, "tidak aku belum punya sampai saat ini, kamu kan tahu aku ini super sibuk." kilahnya.
Jenny memukul lengan Seung Ri dengan cukup keras sampai ia mengaduh, "sudah kubilang kan kamu itu harus punya seseorang yang peduli padamu!"

Jenny memarahi Seung Ri seperti adiknya sendiri.
Seung Ri tampak seperti orang bodoh, kemudian Seung Hyun menghampiri mereka. Seung Ri buru-buru berdiri dan memberi salam, kemudian mempersilahkan Hyung-nya duduk dikursinya, "silakan TOP Hyung, apa kabar lama tidak jumpa."
Seung Hyun hanya mengangguk dan mengabaikannya. "Hei tadi kamu kemana saja? Aku bertemu Young Bae, teman lamaku diluar. Bahkan kami sempat mengobrol."
Jenny terbelalak, "Apa? Siapa?"
"Kamu kenapa?" tanya Seung Hyun bingung.
"Hei..." belum sempat Seung Ri melanjutkan kalimatnya, Jenny sudah melotot dengan isyarat agar dirinya tetap diam saja dan dengarkan mereka berbincang.
"Ah...ya, hmm tadi aku bertemu dengan teman lamaku, Yong Bae-ah. Dia dulu kawan semasa sekolah dasar."
"Iya!"
Jenny tiba-tiba mengiyakannya tanpa sebab. "Maksudku, kalian beruntung sekali bisa bertemu di kesempatan seperti ini.
 ~ drtttt drrtttt . Ponsel Jenny bergetar, kekasihnya mengirimi sebuah MMS.
Setelah membuka MMS itu Jenny melunjak kegirangan dan mohon permisi serta mengajak Seung Ri pergi saat itu juga.
*
"Aku jamin dengan begini Jenny pasti akan menemuiku saat ini juga."
Ji Yong mengirim gambarnya yang sedang berfoto dengan tanaman bunga mawar pelangi. Dia tahu Jenny sangat menginginkannya.
Tidak lama kemudian mereka berdua tiba di tempat pembibitan tanaman langka, tepatnya terletak disebuah jalan berkelok dan ditikungan yang cukup lebar.
"Ini dimana? Aku tidak pernah ke sini sebelumnya, hey aku belum memberitahu dia kalau aku sudah pulang. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu kalian, bolehkah aku menyingkir dari ini?" pinta Seung Ri.
"Serius? Kamu tidak ingin bersama kami?" tampak sedikit kekecewaan di wajah berseri Jenny.
Seung Ri memutar matanya, "lagi pula aku harus bertemu familiy yang lainnya."

"Okelah jika memang itu harus, hati-hati ya Seung Ri-ah." Jenny mulai melangkah menjauh, Seung Ri hanya bisa menartap punggung gadis itu. "Eh iya, hampir saja aku lupa.."
"Hmm apa?"
"Aku senang kamu menepati janjimu sebelum masa perjanjian kita berakhir."
Seung Ri hanya membalas dengan senyuman, senyuman yang kurang tulus namun ia pintar menutupinya.
Jenny kembali di langkahnya yang tertunda, Seung Ri berlalu dengan mobil Lambhorgini-nya.
"Seandainya aku lebih cepat 1 langkah dibanding Ji Yong hyung..." keluh Seung Ri ketika mulai menjalankan mobilnya.
Jenny membuka pintu tempat itu, lonceng yang terpasang di ujung atas pintu berbunyi, seharusnya ada yang menjemputnya, namun sepi. "Lho? Benar ini kan tempatnya kan?" Jenny melihat MMS itu sekali lagi, mencocokkan lokasinya dan ia tidak salah ini memang tempatnya.
*
Sementara itu Seung Hyun merasa Jenny aneh sekali hari ini. Terutama ketika mengingat ekspresi Jenny ketika kembali ke kerumunan itu dan hanya diam mematung sambil menunduk. Ia tergerak ingin mencari tahu ada apa sebenarnya.
`MAAFKAN YA OPPA, HARI INI SUDAH MEMBUATMU REPOT AKU JADI TIDAK ENAK. LAIN WAKTU AKAN KU BAWAKAN MAKANAN RUMAH UNTUKMU. ~ jenny
Pesan itu Jenny kirimkan ketika sesaat sebelum Ji Yong mengejutkannya dari balik pintu belakang.
"Jenny, ku balas tidak ya pesan ini? Sepertinya tadi setelah menerima sebuah pesan ia nampak amat terburu-buru....sepertinya dia sedang kencan dengan anak brandalan itu. Benar saja, Ji Yong sedang berdua bersama Jenny di gubuk pembibitan tanaman langka milik orang tuanya itu.
*
Di sana sepi, mobil yang lewat pun bisa dihitung menggunakan jari.
"...mana tanaman yang kamu kirimkan dalam MMS tadi? Bukankah kamu ingin memberikannya padaku?" tanya Jenny.
"Rasanya aku ga bilang mau kasi ke kamu deh..." Ji Yong meliriknya, hanya ingin tahu bagaimana ekpresinya.
            "Benarkah?" Jenny memeriksa MMS itu lagi, tidak ada pesan tertera disana. "Ah, iya...aku kira ini mau diberikan padaku." ucapnya sambil menghela napas panjang.
Ji Yong memeluknya dan meletakkan dagunya di bahu kanan Jenny, "jika aku beri mawar pelangi ini, apakah kamu benar-benar akan merawat dan menjaganya?"
            "Tentu saja, itu tidak perlu ditanyakan lagi! Tapi mawar ini sungguh sangat istimewa, aku jadi ragu apa bisa benar-benar merawatnya. Biasanya yang seperti akan mudah sekali berumur pendek."
"Sungguh?" Jenny memandang wajah Ji Yong yang masih bersandar dibahunya itu, "benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, sungguh."
"...lalu bunga ini, bukan kamu yang merawatnya selama ini?"
"Aku hanya menyiramnya secara berkala sih, awalnya Ibuku yang merawatnya. Begitu ia tahu jika kamu menginginkan ini dia memberikannya padaku."
"Be..benarkah?"
Ji Yong mengangguk pasti, "katanya wajahmu seperti kuncupnya. Kecil namun misterius, setelah mekar akan sangat spesial." ya kalimat di baris yang terakhir karangan Ji Yong sendiri, bukan dari kata Ibunya.
Jenny memutar matanya, "benarkah? Sepertinya itu hanya gombalanmu saja sayang!" Jenny mencubit manis hidung Ji Yong.
Sore itu mereka lalui dengan bercanda dan juga mengobrol sampai semalaman dan ketika Ji Yong mengantarkan Jenny pulang dengan motor sportnya, ternyata Ji Yong memberikan mawar itu kepada gadis yang sudah mengubah hidupnya ini.
"Jadi kamu serius mempercayakan ini padaku? Tapi jika aku tidak berhasil bagaimana?" ada setitik kekhawatiran dihatinya mengenai mawar pelangi itu.
 Ji Yong melepas helmnya, "aku percaya padamu. Aku tahu kamu bisa, jika suatu saat kuncup ini tidak berwarna pelangi lagi artinya salah satu dari kita......" Jenny menyela kalimat itu.
"Tidak! Aku tidak mau melihat kuncup ini berwarna selain pelangi!" Jenny mengembalikan pot itu kepada Ji Yong."
 Ji Yong mendengus kesal, "Nona, kalau ini berwarna pelangi ya ngga mungkin dong kuncup yang lain nanti bisa berubah warna! Berapa sih nilai biologimu?"
"Kamu mempermainkan aku? Hah, untung saja yang mau denganmu hanya aku. Coba saja jika Oppa jatuh ke tangan gadis lain pasti Oppa akan di campakkan berkali-kali."
"Hmm, tidak biasanya kamu memanggilku seperti itu?"
 Jenny mengalungkan kedua lengannya di leher Ji Yong, "tidak suka di panggil seperti itu?"
 Ji Yong menggeleng. Tidak lupa ia menyertakan senyum mautnya, siapa pun yang melihat itu akan jatuh tak berdaya. Hal inilah yang membuat Jenny jatuh cinta.
 Jenny ikut bersenyum, Ji Yong menyentuhkan hidungnya ke hidung Jenny juga.
 "Kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku demi apa pun?"
Ji Yong mengangguk pasti.
"Aku,...percaya kamu." ucap Ji Yong kepada Jenny, suasana berubah menjadi romantis. Aroma hujan mulai tercium kuat.
Jenny melihat ke atas, malam yang mendung batinnya dalam hati. "Sepertinya sebentar lagi akan hujan."
"Aku tahu."
"Tinggalah sebentar, mau kan sayang?" tanya Jenny menarik jauh wajahnya dari hadapan Ji Yong.
Ji Yong tampak berfikir, ia tak mau malam ini terjadi yang tidak-tidak antara dirinya dengan Jenny.
"Jika aku melakukan sesuatu yang jahat terhadapmu bagaimana?"
Jenny memainkan rambutnya, dia hanya menaikkan kedua bahunya.
"Aku serius." ucap Ji Yong, namun dia bertanya sambil tersenyum nakal.
"Memangnya 'sesuatu yang jahat' itu seperti apa?" tanya Jenny sambil meninggalkan Ji Yong masuk ke dalam rumahnya. Kali ini hanya ada kakak kedua Jenny saja, Dae Sung.
Ji Yong memarkir kendaraannya dengan benar kemudian menyusul Jenny ke dalam rumah.
*
"Hey kalian, aku tidak bertanggung jawab ya jika ada sesuatu terjadi disini!" keluh Dae Sung kepada mereka berdua yang sedang asyik menonton film horror milik Yong Bae.
"Ngomong apa sih? Tidak akan terjadi apa-apa malam ini, sudahlah kamu tenang saja!" ucap Ji Yong mencoba memberi kepercayaan kepada Dae Sung yang umurnya setahun lebih muda dibanding dirinya.
"Kalau begitu pinjamkan aku motormu, baru aku tidak akan mengganggu kalian malam ini."
"Ya!!!" Jenny mulai tidak suka cara Dae Sung memeras Ji Yong dengan cara licik seperti itu.
Ji Yong melemparkan kunci motornya, "pakailah, tapi hanya untuk malam ini saja."
"Ji Yong!" Jenny merasa tidak setuju dengan tindakan ini. "Kenapa biarkan dia menyentuh motormu?"
"Sepertinya dia berisik sekali yah? Sudah biarkan saja kita menonton film ini dengan tenang saja. Yong Bae kemana?"
"Aku tidak tahu, dia jarang dirumah. Mungkin sedang nongkrong bersama teman-temannya di klub malam. Dia kan bartender senior disana?"
"Ah, aku sudah lama tidak ketempat itu semenjak mengenalmu."
***
To be continue . . .

FF tengah malam -1-



"Makan siang yang sungguh tidak enak!" maki Jenny kepada kotak nasinya yang bahkan belum disentuhnya sama sekali itu. Hanya dilihatnya dari balik tutup bekal makanan yang transparan. Hanya sekumpulan nasi putih tanpa lauk.
Sesosok lelaki berponi kuda mengamatinya dari jauh.
Jenny, bintang sekolah itu hari ini cukup bisa dikatakan sial. Bagaimana tidak? Bahkan semalam dia asyik di klub malam sampai menjelang subuh bersama Ji Yong.
Seung Hyun mendekatinya, "mau makan siang bersama?" tawarnya sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
Jenny memandang dengan sorot mata 'iya'. "Maaf merepotkanmu Oppa."
"Tidak masalah, tapi hanya sekali ini. Kebetulan aku sedang tidak ada mata kuliah."si putih, benar benar tanpa lauk. Jenny merasa sungkan, namun cacingnya dalam perutnya tidak. Akhirnya mereka pergi ke kedai kecil di sebuah perkampungan pinggiran kota. Menu ala chinese. "Pemandangan yang bagus! Apakah Oppa sering ke sini sebelumnya?"
Belum sempat Seung Hyun menjawab pertanyaan Jenny, tanpa di duga Ji Yong menarik keras lengan Jenny menjauh dan dia bermimik sungguh seperti ramen berjamur.
Terkejut, dalam keadaan seperti ini sudah tidak sempat merasakan hal itu. Ji Yong berada dimana-mana.
"Siapa dia?!" tanya Ji Yong sungguh penuh dengan amarah.
"Itu Seung Hyun Oppa, apa kamu lupa padanya?"
            Ji Yong memandang Seung Hyun dengan tatapan gagaknya, "tidak kenal! Dan...apa yang kamu lakukan disini!?"
"Aku mau makan siang dengannya, kami satu sekolah!" Jenny menaikkan nada bicaranya dan tidak mau kekasihnya berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya juga lelaki berponi kuda itu.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku untuk menjemputmu makan siang?!" Sepertinya Ji Yong memang sedang dalam masalah dan menjadikan Jenny juga Seung Hyun sebuah pelampiasan amarah yang tidak tersampaikan.
"Aa...kamu kan tahu ponselku sedang tidak beres!" kini berbalik, Jenny yang terlihat kesal dengan Ji Yong.
"Jenny?" panggil Seung Hyun sambil menunjuk jam tangannya.
Jenny meraih lengan kiri Ji Yong, "astaga!!!!"
"Kenapa?" Ji Yong tampak menahan kalimat pelampiasan selanjutnya.
Jenny mencubit keras kedua pipi chubby Ji Yong, "kami terlambat harus ada di acara sekolah! Aku harus kembali secepatnya!"
            "Tapi...." belum sempat Ji Yong berkata-kata lagi, Jenny sudah terlebih dahulu mengecup kening kekasihnya untuk berpamitan.
Seung Hyun sedikit tercekat melihat pemandangan itu. Sesuatu yang sudah padam kembali mulai menyala ; kecemburuan
"Kenapa Oppa? Apa mau makan dulu setelah itu kembali ke sekolah?" tanya Jenny yang mendapati kedua mata elang itu menatap lolos ke arah bibirnya.
"...ah tidak! Ayolah kita sudah terlambat. Kami permisi dahulu." seraya membungkukkan badan kepada Ji Yong.
Setelah mereka pergi Ji Yong semakin masem, "cih! Tentu saja aku tidak pernah melupakan Hyung brengsek itu. Gara-gara dia aku tidak bisa masuk SMA Umipta! Ingat aku tidak akan melupakan itu Hyung!"
***
Panitia acara sudah komat kamit tidak jelas karena mereka terlambat hampir 1 jam di acara penyambutan murid yang sukses tahun ini. Siapa lagi, tentu saja seseorang dengan lambang V. V for VICTORY alias Seung Ri, teman dekat Jenny semasa sekolah menengah pertama.
"Mana, mana VI? Aku tidak sabar ingin bertemu dan memeluknya!" ucap Jenny meninggalkan Seung Hyun di tengah keramaian para penggemar VI.
"Jenny! Jenny!"
"Seung Ri-ah!! Seung Ri-ah!"
Seung Hyun tidak dapat menerobos kerumunan gadis yang bergegap gempita menengadah ke panggung dan meneriakkan VI.
Seung Ri tidak bisa melihat Jenny ditengah kerumunan seperti itu.
"Aku mendengarmu Kim Rae Jeon!" Seung Ri mengatakan itu ditengah-tengah kata sambutannya.
Seung Ri berusaha melihat satu per satu murid sekolahan yang histeris tidak karuan itu hanya untuk berusaha mencari Jenny. YAP !! Seung Ri menemukan sosok dengan rambut panjang agak bergelombang, itulah Kim Rae Jeon alias Jenny.
 "Je...."
 Sosok itu tiba-tiba hilang, padahal baru setengah detik yang lalu melambai padanya.
"Jenny?"
Seung Hyun yang sudah berhasil sampai di bibir panggung malah tidak menemukan Jenny sama sekali.
*
"Kenapa datang ke acara ini?"
Laki-laki seumuran Ji Yong datang menculiknya dan memisahkan dirinya dari kerumunan itu, "dia minta aku mengawasimu."
"Aku bukan anak kecil!" protes Jenny.
"Tolong dengarkan aku! Jika karena bukan kebaikan Ji Yong kepadaku aku tidak akan mau melakukan ini!"
            "Yong Bae Oppa!!!"
 Jenny rewel seperti anak kecil berumur 10 tahun.
"Apa sih? Malu dilihat banyak orang..."
 Jenny tampak kesal dengan kakak kandungnya itu.
            "Pssttt udah jangan merajuk seperti itu...nanti dikira aku melakukan sesuatu yang tidak-tidak."
            Mata Jenny terbasahi oleh genangan air mata. Tanpa berkata apa-apa dia kembali menemui Seung Ri yang tidak lain adalah adik kekasihnya, Kwon Ji Yong.
To be continue . . .

Jumat, 13 Mei 2011

Dua Cermin (sekuel dari Sebuah Cermin)


Semenjak kepergian Ruzzy, Ungu terlihat benar-benar kesepian. Dia selalu mengenang Ruzzy karena sekarang ia menempati rumah Ruzzy. Mendadak hidupnya berubah drastis sejak Ruzzy memasuki kehidupannya. Kelompok yang menamai dirinya sebagai “AntiUngu” pun menjadi bubar sendirinya dan beberapa orang sudah menjadi orang terdekat Ungu.
Tak terasa sudah 1 tahun berlalu sejak kematian Ruzzy yang bersamaan dengan hari ulang tahun Ungu.  Ungu yang sudah menginjak tahun ketiga disekolahnya itu tidak pernah menyangka bahwa akan ada sesuatu hal yang membuat miris hatinya.
```
“Ngu, sebentar lagi kita lulusan nih...” ujar Kiki, teman yang cukup dekat dengan Ungu.
“Iya...”
“Ngu, besok kan kita mulai pelajaran nih, kamu semangat gak? Aku lagi semangat banget nih!”
“Iya, sama.” Jawab Ungu tidak berhasrat.
“Kamu kenapa sih Ngu? Itu kan udah lama banget..so..kamu harus bangun hidup baru juga! Okelah mungkin bulan-bulan yang lalu kamu masih terbayang, tapi ini udah 1 tahun Ngu...”
“Tolong ya Ki,..”
“Okey....kalo kamu butuh aku, aku ada di kantin.”
Ungu mengangguk.
Merasa bosan hanya diam di kelas, Ungu pergi menyusul Kiki ke kantin. 10 menit lagi bel akan berbunyi dan Ungu mengacuhkan itu. Ungu berjalan dengan santai menuju ke kantin sambil mengeringkan matanya yang agak sedikit basah itu karna mengingat Ruzzy. Ungu benar-benar masih lara karena Ruzzy pergi untuk selamanya. Lalu Ungu menghampiri dan ikut makan bersama Kiki.
Bel pun berbunyi, Kiki segera berlari menuju ke kelas tanpa memperdulikan Ungu yang masih santai menyantap makanannya itu. Kira-kira 3 menit setelah bel berbunyi Ungu barulah kembali ke kelas. Ups, ternyata sudah ada guru di dalam. Ungu mengetuk pintu dan guru itu mempersilakan Ungu masuk, tapi...ada seorang cowok yang baik fisik maupun mimik wajahnya sangatlah mirip dengan Ruzzy. Ungu tidak sengaja memanggil cowok itu dengan nama Ruzzy.
“Ruzzy?” semua teman sekelas Ungu terkejap.
“Ruzzy?” tanya balik cowok itu.
Ungu malah bingung.
“Ungu, ayo duduk dulu.” Pinta guru.
“Maaf Pak.”
Selama berjalan menuju bangkunya, Ungu tidak lepas menatap mata cowok itu. Air mata mulai tergenang.
“Ngu, Ruzzy itu udah nggak ada..” ucap pelan Kiki kepada Ungu sehingga pecahlah tangis Ungu, ia buru-buru menghapusnya dengan jarinya.
“Baiklah, sekarang kamu bisa mencari tempat duduk kosong, yang lain, tolong bantu dia ya.”
“Iya Pak...” jawab anak-anak semua.
Ungu tidak lepas memandang cowok yang benar-benar sangat-sangat mirip dengan Ruzzy itu, Ungu tidak lagi bisa menahan air matanya itu, dia langsung pergi entah kemana dan Kiki menyusulnya.
Ungu memojok di kamar mandi. Entah bagaimana ia tidak bisa melupakan Ruzzy sehingga bertemu kembali dengan makhluk Tuhan yang benar-benar mengingatkan Ruzzy yang tlah tiada itu.
“Ungu, hapus air mata kamu...dia itu hanya cowok biasa, yang dimana-mana bisa kamu temukan.”
“Sejak awal aku tahu, kamu dekat denganku hanya untuk memanfaatkanku sebagai alat pengerja Prmu saja kan?”
“Ungu?!” Kiki tersentak mendengar Ungu berucap seperti itu. “Okey, kalo kamu udah baikan, balik ke kelas.” Kiki meninggalkan Ungu sendirian di kamar mandi.

Sementara keadaan di kelas...
“Eh, aku mau tanya nih...cewek yang duduk sama cewek itu siapa sih namanya?” tanya anak baru itu.
“Oh...cewek yang duduk sama Kiki?”
“Iya.”
“Namanya Ungu.”
Ungu....unik namanya. “Dia itu gimana sih?”
“Oh...baik, juara kelas lagi. Meskipun 1 tahun yang lalu ada masalah yang menimpanya, dia tetap bisa mempertahankan gelar juaranya itu.”
“Ceritain lagi dong tentang Ungu, semuanya deh!”
“Kamu kenapa sih? Suka ya sama Ungu?” tanya Nico, yang semenjak tadi sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari murid baru itu.
“Yah pokoknya ceritain aja, gue penasaran nih soalnya!”
Nico menceritakan semua tentang Ungu dari A sampai Z. Cowok itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita dari Nico. Yang lain juga ikutan mendengar, dan tidak sedikit dari murid perempuan menunjukkan simpati mereka dengan menitikkan air mata.

Ungu masih menenangkan dirinya di kantin. Memainkan pipet, sehingga pipet itu hancur. Hampir semua yang dilakukan Ungu adalah kebiasaan-kebiasaan Ruzzy terdahulu.  Ungu telah siap kembali ke kelas, tanpa harus tahu ingin berbuat apa sesampainya ia di kelas. Untungnya Nico telah usai menceritakan kisah Ungu yang memilukan itu. Ungu melihat cowok itu sibuk dengan lukisannya sambil mendengarkan lagu di iPodnya. Ungu menghela napas panjang, berharap tidak ingin mengenal cowok itu.
Mata Ungu sembam karena menangis tadi. Kiki menjadi iba melihatnya dan  membiarkan Ungu membaik dengan sendirinya.
Eh, itu yang namanya Ungu ya? Kalo dilihat baik-baik, dia manis juga...
Cowok baru menghampirinya. Dan duduk dihadapannya membuat Ungu menatap mata yang sudah lama tak ditatapnya.
“Hello, kenalan yuk?”
“Kamu Ruzzy kan?”
“Ruzzy?”
Nada bertanyanya pun sama... batin Ungu.
“Lalu, jika kau bukan Ruzzy, siapa?” Ungu menangis lagi.
“Hei, jangan nangis dong! Gue kan Cuma pengen kenalan aja!” cowok itu mengeluarkan sapu tangan berwarna ungu dan mengusap airmata Ungu yang terus membanjir itu.
“Jadi benar, kamu bukan Ruzzy?”
“Aku Ruzze, bukan Ruzzy.”
“Ruzze?” Ungu benar-benar menangis.
“Sorry ya jika aku benar-benar mengingatkan kamu kepada sahabat baikmu itu. Maaf untuk semuanya, karena aku telah lancang meminta Nico menceritakan semuanya padaku.”
Ungu tertunduk lesu, bukan hanya karakter dan wajah yang mirip, tetapi dari segi nama pun mereka hanya beda di satu kata, Y dan E.
“Jadi memang bukan ya?”
“Bukan, maaf! Sudah membuatmu membuka diary lamamu.”
“Mau bagaimana lagi, ini sudah takdir, Ze.”
“Tapi, apa benar kamu tidak bisa melupakan almarhum Ruzzy?”
“Aku juga sudah berusaha, tapi ternyata nggak bisa, Ze.”
Ruzze merasakan sangat dekat dengan Ungu saat ini, meskipun mereka belum pernah bertemu. Perbincangan siang itu pun menjadi semakin mendalam hingga akhirnya Ungu bisa menerima kepergiaan Ruzzy dan menerima kedatangan Ruzze.

“Saat seperti ini aku pertama kalinya bertemua dengan dia.” Ujar Ungu yang sedang berdiri di halte bus bersama Ruzze.
“Hm...apa aku segitunya mirip dengan Ruzzy?”
“Sangat mirip, semuanya. Kecuali kemampuan melukismu itu.”
“Dia tidak bisa melukis ya?”
“Dia bermain gitar dan bernyanyi. Dia mengekpresikannya dengan seperti itu.”
“Wah.....ternyata....dia hebat juga ya?”
“Sangat hebat.”
“Lalu sampai kapan kau mengenangnya?”
“Seumur hidup. Sampai aku menyusul dia surga.”
Ungu berdramatisir.
“Ngu, kamu nggak pulang?” tanya Ruzze.
“Pulang kok. Jalan kaki.”
“Gimana sebagai perkenalan, siang ini gue ajak lo lunch?”
“Lunch?” Lunch?
“Iya, gue tau, lo pasti lapar kan hujan-hujan begini?”
Tiba-tiba Pak Topir datang menjemput Ungu.
“Lho Non, kenapa nggak tunggu di dalam sekolah saja?”
“Pak Topir ngapain disini?”
“Sudah kewajiban saya jemput Non.”
Tidak sengaja Pak Topir melihat Ruzze.
Anak ini mirip sekali dengan almarhum Den Ruzzy...
“Pak, tunggu sebentar ya dimobil!” pinta Ungu.
“Iya Non.”
“Itu tadi sopir kamu?”
“Bukan, bekas sopirnya Ruzzy. Makanya tadi dia ngeliatin kamu kayak gitu.”
“Oh....jadi, kamu mau pulang atau lunch bareng aku?”
“Ze, sorry banget ya, mungkin lain kali.”
“Kapan??”
Ungu menatap Ruzze.
“Terserah kamu aja, mungkin besok.”
“Okey, kalo gitu besok sepulang sekolah aku tunggu di halte ini.”
Ungu hanya tersenyum sambil menuju mobilnya.
```
Ungu berdiam di rumah besar itu sambil istirahat siang. Tidurnya sangat nyenyak sehingga tidak mendengar Pak Topir sedang berbincang dengan Ruzze di bawah.
“Oh jadi begitu...ya, saya sebagai orang yang dekat dengan almarhum juga masih sangat kehilangan sosoknya yang penuh dengan philosofi itu. Dan saya harap Den Ruzze bisa menjaga Non Ungu seperti almarhum menjaganya dulu.”
“Akan saya usahakan Pak. Baiklah saya pamit dulu.”
“Lho, nggak jadi bertemu dengan Non Ungu?”
“Kayaknya sih dia lagi tidur tuh Pak. Saya tau, pasti dia kelelahan sehabis menangis di sekolah tadi.”
“Baiklah kalau seperti itu, nanti saya sampaikan kalo Aden sudah datang kemari.”

Jam menunjukkan pukul lima sore. Ungu masih nyenyak dalam tidurnya. Pak Topir sedang asyik meminum kopi di teras depan. Dan Bi Upit sedang membuat makan malam. Ungu tahun ini telah memiliki orang tua angkat yang bekerja sebagai Pedagang Makanan, mungkin sekitar jam 6 orang tua Ungu akan pulang.

“Eh, Nyonya...” sapa Pak Topir.
“Pak, Ungu mana?”
“Lagi tidur Nya...dari tadi siang nggak bangun-bangun.”
“Lho? Enak bener tidurnya berjam-jam gitu? Dia udah makan belum Pak?”
“Kayaknya sih belum Nya, habis dari pulang sekolah langsung masuk kamar.”
Ibu angkat Ungu langsung mengecek makanan yang dibuat oleh Bi Upit.

Ungu mulai bangun dari tidurnya, melihat jam dindingnya.
Astaga, jam enam lebih lima menit? Kalo gitu aku lama banget yah tidurnya...
Ungu mengucek mata langsung merapikan diri untuk menemui orang-orang yang ada dibawah.
“Mama? Baru pulang?” tanya Ungu sambil mengembalikan stamina.
“Ungu? Katanya Pak Topir kamu dari sepulang sekolah tidur ya?”
“Hm...habis tumben ngantuk banget. Gimana hari ini Ma?”
“Yah...lumayan Ngu, yuk makan dulu?” ajak Ibunya.
“Ntar Ungu nyusul, toh Bi Upit belum selese masak.” Ungu berjalan menuju kolam renang di belakang.
Di sinilah terakhir kali berbicara dengan Ruzzy.
Ungu duduk di bibir kolam sambil bermain air, mencuci mukanya yang kusut itu. Tiba-tiba ia teringat mimpinya barusan. Dia bermimpi melihat 2 buah cermin. Yang satu pemberian Ruzzy, satunya lagi entah milik siapa. Seingat Ungu warna frame cermin itu putih, tetapi dengan bentuk yang sama.
“Ungu, makan dulu!” teriak Ibunya menghilangkan lamunan Ungu tentang 2 cermin yang ia mimpikan itu.
“Iya Ma!”
“Ngu, kamu mau nggak temani Mama malam ini?”
“Maksudnya?”
“Iya, Papa kamu itu masih di kedai, pulangnya malam, kamu lupa ya, kan ada pegawai baru yang perlu diawasi.”
“Oh...kirain apaan...iya deh...tapi nonton teve di ruang sini aja ya Ma..kalo di kamar Mama, bisa-bisa aku ketiduran Ma.”
Ungu selalu satu meja bila makan dengan Bi Upit dan Pak Topir.
“Eh iya Non...saya hampir aja lupa!”
“Kenapa Pak?”
“Tadi sore sekitar jam 5 ada yang nyari Non.”
“O ya? Siapa?”
“Kalo nggak salah namanya Ruzze.”
Ibu Ungu merasa tersentak mendengar nama itu, begitu juga Ungu, walaupun ia sudah mengetahuinya, tetapi saja rasa itu ada.
“Oh..iya makasi Pak.”
```
“Ungu, Mama mau nanya.” Tanya Ibunya pada saat menunggu Ayah Ungu pulang.
“Kenapa Ma?” jawabnya cuek sambil menonton teve.
“Ruzze itu siapa?”
Ada sesuatu di jantung Ungu, “Teman baru Ma.” Tertunduklah ia.
“Benar, teman baru?”
“Masa’ Ungu bohong sama Mama, baru juga tadi aku kenalan sama dia di sekolah.”
“Hm...bisa kenalin gak ke Mama?”
“Mama! Apaan sih?”
“Ya...Mama kan juga pengen tau dan pengen kenalan sama mereka.”
“Oh...kirain Mama mau cari calon mantu!”
“Kalo ada yang mau, Mama tidak menutup kemungkinan kok.”
“Ah Mama gitu, nggak jadi deh Ungu bawa temen pulang ke rumah!”
“Ungu, Mama Cuma bercanda. Gimana kalo besok undang teman-temanmu kemari. Kebetulan Mama sama Papa besok ada di rumah sampai malam, bagaimana?”
“Lihat sikon ya Ma, aku nggak janji. Soalnya kan teman-teman Ungu pada sibuk-sibuk gitu.”
```
Keesokan harinya Ungu tidak banyak bicara, ia masih terus memandang ke arah Ruzze, dimana pun Ruzze ada, pasti Ungu juga ada disitu. Kiki telah memaafkan perkataan Ungu kemarin, dia sangat tahu Ungu seperti itu jika ia merasa tertekan dan sedih.
Ruzze mencoba speak up ke Ungu.
“Ehm, kamu suka ya ke perpus?”
“Ruzzy? Sorry, maksudku...Ruzze...” Ungu cepat sekali murung.
“Nggak apa-apa, aku tahu kamu berat menerima kenyataan itu. Eh, aku pengen ngajakin kamu hang out nih bulan depan!”
“Hang out?”
“Iya, bulan depan kan September ceria....kita jalan-jalan yuk? Mau nggak?”
“Kamu mau pergi bulan depan, kok ngajakin perginya sekarang?”
“Aku takut nanti besok-besok nggak ketemu kamu lagi...”
Kalimat itu pernah diucapkan oleh Ruzzy dulu, hal itu membuat Ungu takut.
“Kamu nggak pergi lagi kan?” tiba-tiba Ungu memegang tangan Ruzze, seakan Ruzze itu Ruzzy.
“Kamu ngomong apaan sih? Aku kan takut aja kalo besok-besok nggak bisa ngobrol lagi sama kamu, hanya karena aku ini duplikat Ruzzy.”
“Sorry....bukan maksudku....aku....”
“Kamu tenang dulu, .... aku masih disini kok.”
“Kalimat yang kamu ucapkan tadi sama seperti kalimat yang Ruzzy ucapkan dulu, sebelum ia pergi.” Mata Ungu mulai berkaca-kaca.
“Kalo gitu aku yang minta maaf Ngu.”
“Emangnya kamu mau ngajakin aku kemana?”
“Ada seh ke suatu tempat yang indah. Mau kan? Tenang, kita Cuma pergi berdua kok.”
“Cuma berdua? Kenapa berdua?”
“Karena....aku maunya Cuma pergi berdua. Mau kan?”
“Iya, akan aku luangkan waktu khusus untukmu. Hm...ntar kamu bisa antar aku pulang kan?”
“Bisa banget! Kenapa sih emangnya?”
“Mama aku pengen ketemu sama kamu.”
“Ah, yang bener? Mama kamu udah cari calon mantu ya?”
Ungu menggelitik perut Ruzze. “Siapa juga yang mau menikah?”
“Bentar deh....aku lebih suka lihat kamu senyum dan tertawa seperti ini. Pasti malaikat sudah mencatat senyum itu.” Lagi-lagi kalimat seperti sudah pernah diucapkan oleh Ruzzy pada saat Ungu pertama kali bertemu dengannya.
“Ruzze, jangan pernah ucapkan kalimat itu lagi.” Ungu balik ke kelas dengan perasaan yang masih kacau balau.
“Ungu, Ungu tunggu! Maaf kan aku!”
Ungu menghentikan langkahnya. “Benar?”
“Iya...aku kan nggak tahu...”
“Baiklah.....”
Ungu dan Ruzze melihat anak kelas 10 yang sedang dipermainkan oleh kakak kelas 11.
“Hei, kalian apakan dia?” tanya Ruzze.
“Nggak Kak..kami Cuma bercanda!” ucap salah seorang dari mereka dan semuanya langsung bubar.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Ungu.
“Makasih Kak.” Anak perempuan itu memeluk Ungu.
“Adik, kakak pesan ya, kamu nggak perlu takut dan merasa hina didepan mereka, karena....kamu hanya ada satu yang patut ditakuti, yaitu Tuhan. Kenapa kamu harus takut sama manusia? Toh mereka juga sama denganmu, ciptaan Tuhan. Kalau begitu kakak pergi dulu ya.”
Ungu langsung menarik Ruzze menjauh dari keramaian. Ungu membawanya ke dalam ruangan kosong yang terpencil.
“Kenapa kamu mengatakan hal itu kepada dia?” tangis Ungu.
“Ungu, kamu kenapa lagi sih? Aku nggak ngerti sama kamu!”
“Kamu tahu, kamu tidak boleh mengambil kata-kata Ruzzy untukku! Karena dia hanya mengucapkan kalimat-kalimat itu untuk ku! Hanya untukku, bukan untuk orang lain!!!” Ungu terisak sambil terus berbicara. “Dan lelucon-lelucon dia hanya untukku!”
Ruzze cukup lama mencerna apa yang dikatakan oleh Ungu barusan. Ia langsung mengerti dengan tatapan Ungu yang seolah berbicara bahwa dirinya itu adalah Ruzzy. Ungu masih terisak sambil terus menatap Ruzze yang wajahnya 98% mirip dengan Ruzzy. Ruzze tidak bisa berkata-kata, langsung memeluk Ungu, karena ia tidak bisa melihat wanita yang disukainya itu menangis sendiri.
“Maafkan aku, Ungu. Jika aku pergi membuatmu lebih baik, aku akan pergi.”
“Jangan....” rintihnya sambil menangis. “Aku tidak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.” Ungu masih saja terisak. Untungnya hari itu semua orang sudah pulang, jadi sekolah agaknya sepi.
“Maaf..”
Ungu memeluk erat Ruzze, ia benar-benar lara saat memeluk Ruzze, karena aroma parfum yang digunakan oleh Ruzze itu sama dengan apa yang Ruzzy pakai. Ruzze juga merasakan hal yang sama, ia tahu bahwa Ungu memakai parfum varian Blue Ice. Ruzze menenangkan Ungu kemudian mengantar Ungu pulang.
```
“Kamu udah baikan? Aku nggak mau lihat matamu memerah di depan kedua orang tuamu. Nanti disangkanya aku ngapa-ngapain kamu lagi.”
“Udah, aku nggak apa-apa. Yuk, Mama aku pasti udah nungguin kita.”
Ungu menganggap seolah tidak terjadi apa-apa dan memasang senyum palsunya.
“Ungu!” seru Ruzze.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau kamu memasang senyum palsu itu, karena aku tidak suka melihat sesuatu yang mengada-ada, dan ingat, ..... sesuatu itu nampak lebih indah jika sesuatu itu berjalan secara alamiah!”
Tuhan!!! Mengapa Kau kirimkan aku malaikat seperti ini? Dera Ungu dalam hati.
“Dan aku juga ingin mengingatkan kamu, kalimat itu milikku dengan Ruzzy seorang. Tidak boleh seorang pun yang mengucapkannya!” Ungu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Ruzze.
Salah terus!! Lalu aku harus mengucapkan apa lagi? Jika seandainya Ruzzy masih hidup, pasti aku tidak akan bertemu cewek aneh itu!

“Mama, itu temanku datang.”
“Oh...Ruzze ya?”
“Kok Mama tahu? Padahal kan aku belum memberi tahu Mama?”
“Feeling aja kok sayang.”
“Siang Tante....” ucap Ruzze.
Astaga, anak ini mirip sekali dengan Ruzzy? Puji Tuhan, Engkau telah beri putri angkatku kesempatan sekali lagi.
“Siang...oh jadi ini yang namanya Ruzze? Wah....cakap sekali....”
“Tante bisa aja...”
“Lho, memang benar...ayo duduk, mari kita saling mengenal.”
Ungu tidak ingin bergabung dengan Ruzze maupun Ibunya, dia hanya memilih merenung di dalam kamarnya.
Kamar Ungu berhadapan dengan kamar Alm. Ruzzy.  Sehingga ia mencoba masuk ke dalam kamar itu dan melihat barang-barang apa saja yang ditinggalkan oleh Ruzzy.
```
“Ow, jadi kamu sudah tau? Tante kira kamu belum tau, makanya Tante mengundang kamu ke sini ingin memperbincangkan itu.”
“Tapi saya juga jadinya serba salah Tan.”
```
Ungu menatap dirinya lewat cermin yang di berikan oleh Ruzzy saat kepergiannya tiba di kamar itu. Cermin itu masih tersimpan bagus dan rapi di dalam sebuah lemari milik Ruzzy yang kini digunakan Ungu sebagai tempat menyendirinya. Jika Ungu sedang rindu Ruzzy, maka ia masuk ke dalam lemari itu dan berbicara seolah Ruzzy sedang disana bersamanya. Tidak ada yang mengetahui hal ini.
```
“Oh, jadi kamu suka sama anak Tante?”
“Iya Tante....pertama kali melihatnya, saya sudah yakin sekali. Tapi saya tahu, tidak mudah bagi saya untuk menangkan hatinya, karena begitu dia menatap mata saya, pasti dia berpikir saya ini Ruzzy, bukan Ruzze.”
“Yah,...kalo Tante sama Om sih setuju-setuju aja kamu jadi pacarnya Ungu, yah tapi itu....kamu harus bisa menghilangkan image Ruzzy dari pikirannya terhadap kamu.” Ucap Ayah Ungu kepada Ruzze.
```
“Zy, aku kangen sama kamu....” isak Ungu di dalam lemari itu.
“Zy, ada cowok lain yang ngambil motto kita...”
Ruzzy tersenyum di nirwana sana.
“Zy, cowok itu mirip banget sama kamu...” kali ini Ungu berbicara pada cermin itu.
“Zy, aku nggak bisa lama-lama berteman dengan cowok yang namanya hampir sama sama nama kamu...”
Ruzzy masih tersenyum di alam sana.
“Zy, kamu tau, cowok itu namanya Ruzze, Cuma beda satu huruf sama kamu...” isaknya.
Lalu, seperti biasa, Ungu berdoa sambil memejamkan matanya yang masih basah itu.
Ruzzy sudah menghilang dari nirwana.
“Zy, aku yakin kamu pasti denger doa aku kan?”
Ungu menyudahinya dan kembali turun menemui Ruzze yang hendak pamit pulang itu.
```
“Ruzze!”
“Kenapa Ngu? Kamu  mau kemana?”
“Aku boleh ikut kamu pergi kan?”
“Tapi kan bulan depan, bukan sekarang?”
Ungu memakai kaca mata besarnya.
“Pokoknya aku mau kamu ngajak aku keliling sekarang.”
“Ya, ... tapi kemana?”
“Terserah kamu, yang penting aku mau jalan sama kamu sekarang.”
“Iya deh..iya....”
Mereka berdua pergi jauh.

Ungu terus menatap Ruzze sepanjang jalan. Membanding-bandingkan antara Ruzzy dan Ruzze. Ruzze merasa ke-GR-an.
“Kamu kenapa sih ngeliatin aku kayak gitu? Aku jadi grogi nih!”
“Pengen aja, habis udah lama aku nggak liat kamu.” Lagi-lagi Ungu lupa bahwa yang dihadapannya itu Ruzze, bukan Ruzzy.
Ruzze benar-benar sedih melihat dambaan hatinya menjadi seperti itu.
Dan Ruzzy menangis di nirwana sana.
“Oh ya? Aku juga kangen kamu Ngu.”
Ruzze meraih tangan Ungu dan Ungu menangis, entah untuknya atau untuk Ruzzy.
Ruzzy sudah hilang dari Nirwana.
```
“Ungu, kamu jadi kan pergi sama aku?”
Kata-kata itu...pernah Ruzzy tanyakan padaku, kini Ruzze kembali menanyakannya padaku....
“Jadi.”
Ruzze diam sejenak.
“Ze, kamu kok diam aja sih?”
“Em....nggak apa-apa, Cuma melupakan sesuatu.”
Kalimat itu juga pernah Ruzzy ucapkan padaku...
“Melupakan apa?”
“Apa ya? Makanya aku lupa. Sepertinya ingin memberitahumu sesuatu.”
“Oh....”
Petang itu mereka memandang kota dari atas bukit. Lampu-lampu mulai menyala dibawah sana sambil menikmati angin malam yang mulai datang.  Angin berhembus pelan dan Ruzze memulai percakapan.
“Ngu, hm.....aku mau tanya, tapi kamu jangan nangis ya?”
“Tanya tentang Ruzzy?”
“Memangnya benar-benar mirip ya?”
“Bukan mirip lagi, tapi kalian itu sama.”
“Nggak ada manusia yang sama. Buktinya aku tidak bisa bermusik, tapi aku bisa melukis.”
“Yah, kamu benar...tapi bagiku kalian itu sama. Tidak peduli bisa bermusik atau pun melukis, buat gue itu semua tidak penting, karena Tuhan telah kirimi aku malaikat yang bisa buat ku selalu mengenang Ruzzy lewat kamu.”
Ruzze semakin memahami Ungu.
“Lalu hubungan kamu dengan Ruzzy dulu benar hanya sebatas teman?”
“Nggak, bukan sebatas teman.......tapi soulmate, belahan jiwa. Dan Ruzzy itu mungkin bisa dibilang nyawa hidupku.”
“Nyawa hidupmu? Apakah Ruzzy benar-benar membuatmu bahagia?”
“Sangat, walaupun kami hanya bertemu dengan waktu sesingkat itu, tapi kami berdua sudah saling mengenal baik luar maupun dalam. Kenapa sih kamu penasaran banget sama Ruzzy?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengetahui sosoknya lewat kamu. Siapa tau aku memang benar-benar mirip dengannya, ternyata tidak.”
Ungu memandang bintang-bintang yang sudah mulai bermunculan di langit. Sambil menghirup udara segar petang itu, Ungu bersandar di bahu Ruzze, membayangkan bahwa itu adalah Ruzzy. Ruzze hanya diam sambil sedikit menahan rasa kecewanya karena baginya Ungu tidak pernah mengganggapnya Ruzze, melainkan Ruzzy.
```
“Ngu, besok aku jemput kamu jam setengah tujuh, gimana?”
Sebelum Ungu menjawab pertanyaan Ruzze, dia ingin mengatakan sesuatu.
“Ze, kamu itu benar-benar sama dengan Ruzzy. Nada bicaramu, ekspresi wajahmu, sinar matamu, harum tubuhmu, genggaman tanganmu....huh....”
“Iya, aku tahu itu. Tapi aku tidak suka menjadi orang lain. Ruzzy ya Ruzzy, Ruzze ya Ruzze.” Ruzze mulai bete dengan situasi seperti ini.
Barulah Ungu sadar, jika selama ini Ruzze diam karena ingin menunjukkan bahwa dia bukan Ruzzy.
“sesuatu itu nampak lebih indah jika sesuatu itu berjalan secara alamiah”
Tiba-tiba Ungu teringat dengan kalimat itu. Kalimat yang membuat hidup Ungu menjadi seperti sekarang ini. Ungu diam merenungi kata-kata Ruzze tadi. Ungu memang tidak bisa membedakan yang mana Ruzze dan Ruzzy, karena keduanya terlalu sama di mata Ungu.
“Maaf kalau begitu...”
Ruzze menarik Ungu yang hendak membuka pintu mobil itu.
“Apa kamu ingin aku menjadi Ruzzy?” tanyanya membuat Ungu bingung.
“Maksud kamu?”
“Bukankah kamu anggap aku sama dengan Ruzzy? Apakah aku harus membunuh Ruzze lalu mencari Ruzzy?”
Ungu menangis. Entah apa yang ada dibenak Ungu saat ini. Tetapi Ungu memeluk Ruzze.
“Tidak. Aku tidak  menginginkan hal itu, aku tau, Ruzzy bahagia di sana.”
“Lantas?”
Suasana menjadi semakin rumit.
“Aku tidak tahu, besok lagi kita bicarakan di sekolah.”
“Jadi?”
“Kamu besok nggak perlu jemput aku. Aku bisa berangkat sendiri.”
“Please, kamu mau kan aku jemput besok pagi? Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu.”
“Nggak tahu, lihat besok saja ya.” Ungu meninggalkan Ruzze yang sedang kacau itu.
```
Hari ini Ungu tidak datang bersama Ruzze ke sekolah. Ungu juga merasakan hal yang sama, baru dua hari mereka bertemu semuanya menjadi kacau balau begini. Dalam hitungan jam semuanya menjadi berubah sama ketika Ungu bertemu Ruzzy di halte depan sekolah, jika saja Ungu tidak bertemu Ruzzy dan Ruzze, maka hidupnya tidak akan seperti ini.
Semenjak kematian Ruzzy, Ungu mendadak menjadi orang populer di sekolah. Sebut namanya saja semua orang mengetahui kisahnya dan semua orang juga tahu, Ungu murid berprestasi di sekolah. Tetapi ketenaran dan prestasi tidak membuatnya sombong dan lupa akan kehidupannya yang dulu. Ungu masih ingat dengan rumah kecilnya yang indah itu. Ungu juga sering mengunjunginya bersama Kiki. Sekarang rumah itu telah menjadi sebuah panti tuna wisma. Dengan begitu, Ungu bisa lega rumah antiknya itu tidak kosong begitu saja.
Kiki hari ini juga selalu setia menemani Ungu kemana saja. Ungu merasakan ada yang kurang, hari ini Ruzze tidak masuk sekolah, dengan alasan pergi ke luar kota. Ungu merasa sedikit cemas, entah mengingat Ruzze itu mirip dengan Ruzzy atau ada hal lain.

“Ki, ntar pulang sekolah kamu ada acara nggak?”
“Enggak, kenapa Ngu?”
“Aku boleh kan lunch sama kamu? Kebetulan hari ini orang tua ku tidak berada di rumah.”
“Bisa....tapi sama Pak Topir kan?”
“Iya sih....tapi aku pengennya pergi berdua sama kamu. Lagian aku sudah bilang sama Pak Topir kalo nggak usah jemput nanti siang.”
“Eh, aku baru ingat...nanti sepulang sekolah aku harus temani Ibuku ke pasar...jadi nggak bisa deh. Lagi pula sebentar lagi kayaknya hujan nih...”
“Yah udah.....nggak apa-apa kok, mungkin lain kali.”
```
Bel pulang sekolah sudah 30 menit berlalu. Tapi Ungu masih menunggu Pak Topir. Tidak biasanya Pak Topir telat menjemputnya. Lalu ponsel Ungu berdering.
Halo Non Ungu, kayaknya Bapak nggak bisa jemput Non, ban mobil pecah Non!”
“Ya udah Pak, saya bisa jalan kaki.”
Hujan lebat mengguyur siang kelabu ini.  Ungu berlari kecil menuju halte, betapa terkejutnya Ungu melihat Ruzze yang tengah duduk disana.
“Ruzze, ngapain kamu disini?”
“Ungu! Aku nungguin kamu.”
“Bukannya kamu keluar kota?”
“Enggak, aku bolos. Aku tadi bangun kesiangan.”
“Kenapa kamu bilang keluar kota?”
Ungu melihat wajah Ruzze memerah.
“Habis, kalo bilang aku sakit, pasti kamu khawatir.”
Ungu memegang tangan Ruzze.
“Kamu memang sakit kan? Trus kenapa kamu rela hujan-hujanan gini hanya buat nungguin aku?” suara Ungu hampir tak terdengar karena hujan yang sangat deras.
“Habis, aku kangen sama kamu.” Teriaknya.
“Tapi badan kamu panas gini!! Kamu tahu, aku semakin khawatir kalo kamu hujan-hujanan seperti ini! Sekarang kita pulang!! Biar aku yang bawa mobil kamu!”
“Tapi Ungu, dengerin aku dulu, .....”
“Apa lagi? Hujannya sudah semakin deras nih!”
“Aku nggak bawa mobil!”
“Apa?!”
“Aku ke sini tadi jalan kaki! Tadi aku pikir nggak mungkin hujan, tapi nggak tahunya deras seperti ini..”
Ungu duduk sambil mencari jalan keluar. Tidak ada bemo satu pun yang lewat di depan sekolah yang sudah sepi itu. Pak satpam pun sudah pulang sejam yang lalu. Sekitar juga makin sepi karena pukul menunjukkan 4 sore. Ungu makin takut karena mendengar suara petir.
“Trus, gimana kita pulang? Pak Topir nggak bisa jemput, ban mobilku pecah.”
“Ya sudah, tunggu saja sampai hujannya reda.”
“Sampai jam berapa? Ini sudah jam 4 sore !”

Mereka menunggu berjam-jam agar hujan reda. Ungu benar-benar merasakan rasa sayang terhadap Ruzze, kali ini bukan sebagai seorang teman, melainkan rasa sayang terhadap seorang kekasih.
“Ungu, jam berapa nih?” tanya Ruzze.
“Jam 7.  Kamu mau nunggu sampe tengah malam?”
“Kalo kamu mau temani aku, aku mau nunggu sampe tengah malam.
Pak Topir akhirnya datang menjemput Ungu.
“Maaf ya Non, tadi itu ban mobil pecah di tengah jalan, trus Bapak bawa ke bengkel, ternyata bukan Cuma pecah, ada beberapa bagian yang harus dibenahi. Den Ruzze ngapain disini?”
“Saya temani Ungu Pak. Kebetulan saya tidak membawa mobil, boleh ikut nebeng Pak?”
“Udah Pak, kita pulang aja!”
“Ungu! Kamu tega ninggalin aku disini?”
“Masa’ kamu mau ngerepotin Pak Topir? Rumah kamu kan jauh!”
“Aku hari ini pindahan kok.”
“Ayo Den, tidak apa-apa.”
Ruzze merasa senang sekali.
```
“Ruzze, kamu mau pulang nggak?” tanya Ungu.
“Ya iyalah, ntar gue pulang. Tapi mampir di rumah kamu, boleh kan?”
“Ngapain? Ini kan sudah malam.”
“Aku mau numpang makan malam boleh kan?”
“Kamu kere banget sih? Emangnya ibu kamu nggak buat makanan malam ini?”
“Nyokap lagi nggak ada di rumah, katanya lagi keluar kota nemuin klien barunya.”
“Kali ini aja, lain kali enggak.”

Malam ini Ungu dan Ruzze makan di penggir kolam, layaknya sebuah dinner. Tetapi Ungu belum bisa merasakan aura cinta dari Ruzze.
“Makasih ya Ngu, kamu udah baik sama aku, padahal aku ngerasa udah banyak salah sama kamu.”
“Enggak lagi Ze, aku yang selama ini selalu nyama-nyamain kamu sama Ruzzy. Padahal sesuatu yang berjalan secara alamiah itu jauh lebih baik.”
“Kalo gitu aku pulang dulu ya.”
Ungu masih duduk di bibir kolam, sedangkan Ruzze sudah menyerat langkahnya.
“Ruzze!’ panggil Ungu, lalu Ruzze mendekat lagi ke arah Ungu.
“Apa?” tampak wajah polosnya seperti wajah Ruzzy.
“Hm, ...” Ungu memegang jidat Ruzze. “Badan kamu masih panas, hari ini kamu sudah minum obat?”
“Aku tidak pernah suka dengan obat-obatan.”
“Kalo gitu kamu malam ini harus minum obat, biar besok pagi kamu  bangun, udah merasa agak baikan.”
Ungu menggandeng Ruzze ke lantai atas untuk mengambil kotak obat. Ungu benar-benar merasakan suhu tubuh Ruzze yang panas itu. Ungu mengambilkan tablet obat dan memberinya kepada Ruzze, tapi Ruzze menolaknya. Ungu terus memaksanya, hingga Ruzze meminum obat itu.
```
Bulan September pun akhirnya tiba. Dan tepat hari ini Ungu pergi berdua bersama Ruzze menuju suatu tempat yang istimewa. Dan tepat hari ini tanggal 9 September, hari ulang tahun Ungu yang ke 17. Ungu melupakan hari istimewanya ini. Dan Ruzze tahu hal ini dari Kiki. Ruzze pun sudah menyiapkan hadiah yang sangat Ungu sukai.
```
“Kamu pegang tanganku ya.” Pinta Ruzze.
“Kenapa sih pake tutup mata segala?” Ungu ditutup matanya dengan sehelai sapu tangan.
“Kan surprise.”
Mereka berjalan menaiki sebuah tangga.
Ternyata Ruzze membawa Ungu ke sebuah tempat yang dinamakan ‘Love’s Heaven’. Di percayai, siapa yang menaiki tangga itu dengan tujuan yang baik, permintaannya akan terkabul. Ungu dan Ruzze terus melangkah menaiki tangga itu. Barulah sampai diatas, penutup mata itu dibuka.
“Ruzze, dimana ini?”
“Love`s Heaven. Tempat yang paling indah bagiku.”
“Love`s Heaven?”
“Sebelumnya, aku ingin mengucapkan, happy birthday, Ungu!!!!!”
“Happy birthday?”
“Iya, kamu tidak ingat? Ini kan hari ulang tahunmu?”
Ungu menangis dan memeluk Ruzze.
“Kenapa Ngu?” tanya Ruzze.
“Sudah 1 tahun Ruzzy pergi, Ze.”
“Iya Ngu...tapi aku yakin Ruzzy disana pengen lihat kamu bahagia, bukannya sedih seperti ini.”
“Iya, aku tahu, tapi aku tidak bisa mengendalikan air mata ini.”
“Kamu mau kan janji sama aku? Kita janji jari kelingking.”
Janji jari kelingking? Bukankah itu janjiku dengan Ruzzy?
“Kamu benar-benar sama dengan Ruzzy, ngajakin aku janji jari kelingking. Tapi tak apalah, aku mau kamu jadi diri kamu sendiri.” Ucap Ungu mengulang kata-kata Ruzzy dulu.
“Oke Nona, dan aku mau kamu tidak sedih lagi, kan udah ada Ruzze disini.”
Janji jari kelingking pun saling terkait di bawah bintang-bintang.
“Iya, aku janji.”
“Oh iya, hampir lupa....nih aku punya kado untukmu.”
Ungu mulai tersenyum. “Apaan nih?”
“Buka aja, aku yakin kamu pasti suka.”
Ungu membuka kado itu, dan betapa terkejutnya ia mendapat sebuah cermin yang persis seperti apa yang Ruzzy berikan dulu, hanya saja berframe putih, sama seperti mimpinya, ia melihat 2 buah cermin yang sama, ternyata kekhawatiran Ungu selama ini terjawablah sudah.
“Cermin ini....kamu beli dimana?”
“Kamu suka ya? Aku mendapatkannya dari seorang yang amat misterius. Dia menawarkan 2 buah warna putih dan ungu. Karena aku pikir kamu pasti sudah punya cermin berframe ungu, jadinya aku mengambil yang putih. Disamping itu, aku kan suka warna putih.”
Ungu memeluk Ruzze lagi. Hatinya merasa lega karena Tuhan telah beri malaikat duplikat, Ruzze. Ungu malam ini benar- benar ikhlas melepas Ruzzy dan menerima Ruzze dihidupnya.
“Ungu, aku ingin bertanya sesuatu...”
“Apa?”
“Walaupun terlalu singkat, aku mau kamu jadi cintaku....”
“Apa?!”
“Iya...walaupun aku hanya duplikat Ruzzy, tapi hatiku tetap bukan duplikat Ruzzy. Jika Ruzzy ingin menjadi nyawa hidupmu, aku ingin menjadi nyawa hatimu.”
“Kamu........ingin aku.........jadi...........pacarmu?”
“Iya.”
Ruzze memakaikan cincin di jari manis Ungu. Cincin itu sangat indah dan berkilau, meskipun bukan emas atau berlian, tetap saja cincin itu cincin yang indah.
“Tapi....kenapa tidak dari dulu kau katakan ini?”
“Jadi....selama ini kau menungguku untuk menyatakan perasaan ini?”
“Bukan menunggu lagi, tapi berharap kau akan katakan hal ini lebih awal. Jadi kau tidak memerlukan jawaban dariku kan?”
“Aku akan merana jika kau tidak memberikan jawaban.”
“Tapi aku yakin kau tidak akan merana, karena jawabanku adalah..’iya’.”
Betapa indahnya disatu tahun kematian Ruzzy. Ruzzy pun tersenyum dan menangis bahagia di surga sana melihat sang sahabat telah temukan kebahagiaan tanpa melupakannya, karena sosoknya telah didapati Ungu di Ruzze.
```
Kini cermin pemberian Ruzzy telah disandingkan dengan cermin pemberian Ruzze. Ungu meletakkan cermin itu di bagian depan pintu kamarnya. Dan kamar Ruzzy pun telah menjadi sebuah kamar kerja milik Ungu. Karena ini sudah setahun dari hari jadian Ungu dan Ruzze, dan dua tahun kematian Ruzzy. Selama setahun hari jadian mereka, Ungu menjadi lebih baik dari pada setahun yang lalu dan hubungan meraka berjalan dengan baik-baik saja, walaupun pertengkaran kecil sering menghiasinya.

Dan cermin itu kini tak sendirian lagi, begitu juga dengan Ungu.
```
TAMAT