Selasa, 17 Mei 2011

FF tengah malam part -5-


*
Sementara Jenny meninggalkan rumah dengan buru-buru setelah menerima telepon, tanpa diketahui siapa pun, sebuah tunas hijau kecil muncul di batang kering mawar pelangi yang telah mati tersebut.
Seung Ri bertemu dengan Seung Hyun di sekitaran sekolah, “Hyung mencari Jenny? Ke rumahnya saja, dia ada disana sekarang.”
“Tapi pesan dan teleponku tidak di respon. Baru saja aku menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Aku khawatir.”
Seung Ri kemudian dengan sedikit sengak berbicara, “Hyung khawatir? Bahkan Hyung tidak tahu kan dia sedang tertimpa masalah, aku heran mengapa seolah Hyung peduli sekali kepadanya namun selama ini bahka tidak pernah bertemu lagi dengannya.”
Seung Hyun terkejut Seung Ri, seniornya bisa berkata seperti itu.
“Ya jelas aku peduli, aku sudah menganggap dia sebagai adikku.”
“Jika memang kau peduli kenapa tidak tahu dia sedang tertimpa masalah?”
Di sela-sela mereka berdebat, datang seorang gadis memeluk Seung Hyun dari belakang. Karena waspada Seung Hyun melepaskan gadis itu dari tubuhnya.
“Hey, ngapain kamu ke sini?” Seung Ri terkejut melihat Lee Ri Yoon mendatangi mereka disini.
“Ri Yoon?” Seung Hyun terkejut melihat mantan kekasihnya datang menemuinya lagi.
Ri Yoon datang dengan wajah yang pucat, sepertinya dia amat tertekan.
*
Di atas gedung, dia berdiri dengan raut wajah yang sedih. Di bawah, semua orang sudah berkumpul dan bertanya-tanya siapa yang sedang berada nun jauh di atas sana.
Jenny menerobos orang-orang itu, namun seorang petugas keamanan menahannya dengan alasan yang tidak jelas. Tidak ada yang bisa dilakukan selain melawan petugas keamanan itu dengan memukul keras kepalanya dengan kepalanya juga.
~ ..... finally i realized, that i’m nothing without you...i was so wrong, forgive me.
Dia, Kwon Ji Yong.
Jenny segera menuju ke lift dan menuju ke tempat Ji Yong berada. Meskipun Ji Yong sudah membuatnya menjadi ‘zombie’ namun Jenny tidak pernah peduli dengan itu ; dia masih menganggap Ji Yong miliknya.
Beberapa menit kemudian Seung Ri, Ri Yoon, Seung Hyun sudah ada disana bergabung bersama orang-orang yang ada dibawah. Tangis Ri Yoon pecah, namun Seung Hyun tidak peduli dan timbul rasa ibanya untuk naik ke atas dan menolong Ji Yong.
Apa daya, petugas keamanan sudah berjaga-jaga di depan pintu.
Ya, ini gedung perkantoran milik keluarga Ji Yong, Seung Ri bebas saja masuk ke sana. Namun terlambat, sistem lift sudah di matikan atas perintah Ji Yong.
Jenny sudah berada di satu lokasi yang sama, dia berlari ke arah Ji Yong dan menariknya kebelakang, mereka jatuh bersama, Ji Yong melindungi kepala belakang Jenny. Tangannya terluka.
Tangis mereka pecah bersamaan.
***
Di suatu ruangan di gedung perkantoran.
Ri Yoon duduk memandang Jenny penuh kebencian.
Ji Yong tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Jenny.
Seung Ri duduk di sebelah Ri Yoon, melirik jijik ke samping kirinya.
Seung Hyun duduk di sisi lain Jenny, menganggap dunia ini sempit dalam hatinya.
“Sekarang semuanya sudah jelas kan? Sepertinya harus ada yang mengalah dengan berbesar hati.” Ujar Seung Ri yang sudah muak dengan hal ini karena dia ikut kesal karena tidak menyangka sang Kakak yang selama ini diserahi tanggung jawab atas Jenny menjadi kekanakan seperti ini.
Ri Yoon memerah, itu mungkin saja air mata buaya. Tidak satu pun hatinya menyukai Ji Yong, dia hanya memanfaatkan Ji Yong untuk bertemu dengan Seung Hyun. Dan tatapan amarahnya memang benar untuk Jenny karena dirinya Seung Hyun bosan dengan Ri Yoon dan mencampakkan begitu saja.
Ri Yoon meninggalkan ruangan, dia tersedu.
Seung Hyun mengikuti Ri Yoon, menurutnya ini terlalu drama!
“Aku tidak menyangka Hyung akan melakukannya, aku kira semua ini lelucon. Dan kini aku tidak lagi bangga, huh kekanakan.” Kesalnya.
Kini mereka hanya tinggal berdua diruangan itu.
Melihat Ji Yong masih mengenakan cincin pertunangan itu, Jenny langsung melepasnya dan melemparkan cincin perak itu jauh ke salah satu sudut ruangan.
Mereka diam namun masih saling bergandengan.
Lucu.
“Maaf.” Ji Yong akhirnya membuka mulut.
“Itu bukan kamu, Oppa. Aku tidak pernah mengenalmu seperti ini.”
“Aku tahu aku salah.”
“Mungkin aku memang..tidak pantas untukmu.” Suara Jenny bergetar, dia berdiri melepaskan genggaman itu.
Namun Ji Yong memeluknya dari belakang, tidak ingin kehilangan dia sekali lagi.
“Aku bodoh!” teriaknya menggema dengan suara yang bergetar.
*
Rumah Jenny kosong, hari ini cerah. Sinar mentari masuk bebas dari jendela kamar Jenny, tunas itu sedang makan. Itulah tanda tanda kehidupan.
Young Bae kembali, dia sudah mendengar kabar siang ini melalui Seung Hyun yang lalu mendatangi bar dimana Young Bae bekerja. Seung Hyun mengatakan akan meneruskan studinya ke luar negeri saja. Itu hanya alasan agar tidak bertemu dengan Jenny.
Dae Sung membawa dua orang pulang, Jenny dan Ji Yong.
“Lain kali jangan melakukan hal bodoh, gara-gara kamu suaraku dibilang buruk oleh adikku sendiri!”
“Maaf.” Ucap Ji Yong sambil membungkukkan badan. Dia merasa amat bersalah.
Jenny ngeloyor ke dapur, membuatkan teh hangat agar perasaan mereka tenang. Young Bae hanya tersenyum lega dari balik lemari kemudian menghilang.
“Kamu masih marah padaku?”
Terdengar bunyi video game dari kamar Dae Sung, setidaknya suasana kini tidak sepi.
Jenny tidak langsung menjawabnya, dia mulai berfikir jernih.
“Aku tidak pernah bisa mearah padamu.”
Ji  Yong memandangi terus wajah kekasihnya itu. “Tapi kamu masih cemberut.”
“Siapa yang tidak khawatir melihatmu berdiri di atas gedung seperti itu? Salah langkah aku akan melihat namamu di nisan!” Jenny membentak. Dia amat takut ketika menarik Ji Yong dari bibir gedung.
Melihat tangan Ji Yong terluka, dia meninggalkan teh yang masih panas di dalam poci keramik, beralih mengambil kotak P3K dan menggiring Ji Yong duduk di sofa.
“Kenapa? Seharusnya biarkan saja kepalaku membentur tanah. Dengan begitu mungkin aku bisa lupa ingatan dengan semua yang telah terjadi.”
Ji Yong menghapus air mata kecil itu.
“Aku sudah berjanji...akan menjagamu dari apa pun.”
Perban putih membalut tangan kanan Ji Yong. Kecupan lembut mendarat di kening Ji Yong.
“Aku tidak mau kamu terluka lagi karena aku.”
Young Bae mencari dvd miliknya yang sempat di pinjam adiknya. Pintu kamar Jenny terbuka dan dvd itu ada di meja kecil Jenny, namun Young Bae tertegun.
***
Empat bulan.
Ri Yoon, tidak ada yang mengerti dengan jalan pikirannya. Dia masih sering mampir mencari Ji Yong namun selalu gagal. Ibu Ji Yong amat tidak menyukai Ri Yoon dan selalu mengusirnya dengan kasar, bagaimanapun naluri seorang Ibu tidak akan bisa ditipu jika ada seseorang yang beniat jahat terhadap anaknya.
Seung Hyun, pergi menuntut ilmu ke luar negeri. Ia bertemu dengan seseorang yang mirip Jenny disana, namun sayang sekali gadis itu meninggal dunia tidak lama setelah bertemu dengan Seung Hyun akibat kanker paru-paru. Gadis itu menitipkan adiknya kepada Seung Hyun.
Young Bae berhenti menjadi bartender, dia kini mulai sibuk dengan debutnya. Melatih muridnya menari dan ia sendiri akan memulai perjalanan hidupnya yang baru, seperti impiannya, menari.
Seung Ri kembali ke Jepang, menyelesaikan akademinya. Dia superstar, sibuk memperdalam ini-itu di akademinya. Dia ingin memperoleh semuanya dengan kerja keras.
Dae Sung, tidak ada yang bisa dilakukannya selain bergaul dengan doraemon. Bahkan dia pindah jurusan kuliah ke bidang seni menggambar. Dia ingin membuat barang-barang rumah tangga dengan desain yang lucu, tentu saja bertemakan doraemon. He’s same as Doraemon.
*
Kamar Jenny dipenuhi mawar pelangi, hampir disetiap sudutnya.
....

Jenny dan Ji Yong.
Yang tampak sejauh ini hanya cincin yang sama melingkar di kedua jari manis mereka.

Finish ~

FF tengah malam -4-

***
Dae Sung hanya bisa duduk diam menemani Jenny dikamarnya. Tidak ada percakapan atau pun sentuhan fisik di antara mereka. Sedangkan hari ini Young Bae benar-benar baru sekali absen mengajar tari di sanggar. Sesuatu sedang terjadi.
Dae Sung memberanikan bertanya sesuatu kepada adiknya, “apa kamu lapar?” 
Jenny menggeleng pelan, matanya menerawang keluar jendela kamarnya.
Dae Sung mencoba membuat adiknya tertawa, setidaknya tersenyum dengan bernyanyi ala bapak-bapak dengan lagu aliran country.
“Sedang apa? Suaramu saat ini terdengar amat buruk.”
“Astaga! Suara sebagus ini kamu bilang buruk?” Dae Sung memegangi dadanya, “..ahh aku....sakit hati!!!” keluhnya dengan mimik wajah yang lucu dan kemudian meninggalkan Jenny.
Apa yang terjadi?
.........
~ Aku kehilangan separuh nyawaku
Aku kehilangan surgaku
Aku kehilangan  semuanya, bahkan diriku sendiri
Secarik kertas menempel di loker sekolah milik Jenny, sebuah puisi dari kekasihnya—hm bukan, mantan kekasihnya, Kwon Ji Yong.
Banyak murid yang membaca itu lalu mulai di sana dan sini, itulah gosip. Namun sebenarnya itu fakta, mereka sudah putus semenjak 3 hari yang lalu. Mengetahui hal ini saat kembali dari Jepang, Seung Ri benar-benar berada di pihak Jenny.
Kertas itu sudah tertempel disana dan di pemilik loker belum membacanya, Seung Ri sudah mengatakan hal ini kepada Jenny, namun Jenny merasa tidak pernah mendengar apa-apa. Bahkan ponselnya di abaikan begitu saja di kamar mandinya, tidak peduli dengan semuanya untuk sementara waktu ini.
Siang ini sudah kelima kalinya Seung Ri menengok sahabat karibnya, keadaanya tetap sama tidak mau makan hanya menghabiskan banyak air dalam beberapa jam kebelakang.
“Seung Ri, aku bingung dengan Jenny.”
Sebenarnya Seung Ri tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, karena melihat Young Bae Hyung khawatir seperti itu lantas Seung Ri memberitahukan hal yang sebenarnya. Ketika semua masalah jelas, terlihat raut wajah yang miris.
Aku...kenapa aku tidak bisa berfikir? Apakah otakku masih berfungsi?
Tanpa sepengetahuan Seung Ri dan Young Bae, Jenny meninggalkan rumah melalui pintu belakang. Hanya menggunakan t-shirt lengan panjang dengan celana selutut, padahal cuaca diluar sangat dingin dan entah kebal atau memang dia tidak bisa lagi berfikir jernih.
***
Jenny menghentikan mobilnya di dekat rumah Ji Yong, sengaja agar sedikit lebih surprise. Dia membuka pintu mobil dan membuka payung pelanginya, hujan masih lebat.
Tampak seorang laki-laki setengah baya dan Ji Yong di teras, mereka sedang berbincang. Jenny sempat senang karena paman Ji Yong mengunjungi keponakannya itu. Hubungan mereka kurang baik.
Jenny nyaris membuka pintu pagar mewah itu, namun urung.
Payung bercorak pelangi itu terbalik, mobil putih Jenny menerobos hujan lebat. Jarak pandang hanya sekitar 20 meter saja. Seluruh tubuhnya sekejap basah kuyup, siapa pun tidak akan bisa membedakan yang mana air hujan dan yang mana air mata.
Saat Jenny pulang rumah dalam keadaan kosong, berjalan gontai menuju depan pintu rumahnya. Ia masuk hanya untuk mengembalikan kunci mobil, kemudian keluar lagi hujan-hujanan. Daya tahan tubuhnya terlalu kuat untuk pingsan di luar rumah.
Ji Yong ikut basah, ia mencari Jenny bahkan sampai rumahnya. Waktu itu Dae Sung sedang berada dirumah namun Jenny tidak ada disana. Ketidakjujuran dimulai disini, atau mungkin ini semua salah paham namun rupanya tidak.
Ji Yong memang bertemu dengan sang paman, bahkan Ji Yong akan mengenalkan Jenny padanya. Paman Ji Yong menolak dengan segala alasan dan alasan utamanya adalah Lee Ri Yoon, gadis kenalan pamannya di Amerika dan menurutnya Ri Yoon sangat ideal buat keponakannya. Jenny melihatnya, memilih untuk menghindar karena baginya Kwon Ji Yong tak tergantikan—Kwon Ji Yong tidak bisa membuatnya mengubah rasa cinta dan sayang itu menjadi suatu kebencian.
***
Dua bulan.
Jenny tidak mengerti mengapa Ji Yong tidak lagi mengirimi puisi di lokernya. Menghilang, tidak pernah muncul di depan Jenny. Mawar pelangi itu sudah lama mati, namun entahlah Seung Ri sudah mau membuangnya namun selalu saja Jenny melarangnya dan masih merawat tangkai mawar yang sudah kering itu. Dia percaya suatu saat mawar itu bisa kembali mekar disana, karena ia adalah kuncup yang belum sempat mekar.
Ponselnya berdering, nomor asing memanggil.          
“Hallo?”
Kemudian terdengar suara angin, kencang.

to be continue . . .  

tidak ada judul

mendadak semua terasa 'lucu'
 
sudah lama tidak kurasakan
mataku basah
 
seperti sekarang
hanya karena sebuah kalimat,
 
...............
aku menghilang.

no title

...tengah malam
 
aku seorang diri, terluka
kamu tidak mengerti
 
aku peduli

Senin, 16 Mei 2011

WAKTU

Sempat ada yang hilang
Namun sempat datang
Pernah menciptakan suasana khas
Ketika hilang, ditinggalkan

Itulah Kenangan . . .

Putar kembali musiknya
Bernostalgia dengan suasana
Pijakkanlah dengan segenap rasa
Itulah masa kini

Bukan untuk sepenuhnya dibenci
Tidak juga harus sepenuhnya disukai
Kadang kala,
Tetapi itulah masa lalu

*backsound by Peterpan | 01:49 wita ~ 15.5.11
 




FF tengah malam -3-

Terdengar musik yang amat keras dan keadaan yang riuh, tampaknya didalam klub sedang diadakan pesta besar-besaran. Dia, bintang malam ini sedang menari diatas panggung. Tubuhnya lentur dan hentakan musik hip hop membuatnya ‘membara’ malam ini.
 
Young Bae memperhatikan pemuda itu, ia bukan hanya seorang bartender sebenarnya namun lebih dari itu. Hanya saja Young Bae adalah tipe pemalu untuk menunjukkan bakatnya di depan orang banyak.
“Hei YB, jangan melamun saja cepat sajikan minuman! Malam ini kamu lembur!” kata pemilik klub malam yang kebetulan saja sedang memergokinya terpana melihat pemuda berandalan itu.
Tidak lama kemudian terdengar keributan ditengah penikmat pesta, seseorang menemukan kekasihnya tengah mabuk dan menghajar pria yang sedang bersama kekasihnya itu. Young Bae awalnya tidak menggubrisnya, namun keributan itu semakin meluas dan akhirnya benar-benar ricuh.
“Hey, bisakah kalian selesai urusan ini di luar klub?” tanya Young Bae menengahi.
Salah satu dari mereka menggebrak meja bar dengan cukup keras di hadapan Young Bae dan memecahkan satu gelas kecil. Melihat ini tentu saja Young Bae tidak ingin mendengar bos marah-marah kepadanya.
“Tolong, kalian selesaikan diluar saja.” Pinta Young Bae baik-baik pada mereka yang datang bersama pria yang memergoki kekasihnya itu.
Nampaknya permintaan Young Bae memancing kekesalan pria itu.
Nyaris pria itu menarik baju Young Bae, namun seseorang menahannya.
“Kalian punya telinga, selesaikan masalah ini diluar. Kamu merusak pestaku, mengerti?!” ucap pelan seorang yang Young Bae kagumi itu, Kwon Ji Yong.
Akhirnya masalah kecil tadi bisa teratasi dan pesta kembali berlanjut.
“Maaf, ku jamin gajimu tidak akan berkurang gara-gara gelas yang pecah.” Ucapnya santai sambil meminta segelas air putih.
“Ah, seharusnya saya yang meminta maaf karena pesta Anda menjadi tidak nyaman gara-gara mereka.”
“Tidak masalah, ah tadi aku sempat melihatmu melihat tarianku. Menurutmu buruk ya?”
“Tidak, itu terlihat bagus.”
Ji Yong mengingat wajah Young Bae, sepertinya ia pernah melihatnya. “Aku familiar dengan wajahmu...sepertinya kita pernah bertemu.”
“Ya dulu.” Jawab Young Bae sembari melayani pesanan orang lain.
“Dimana?”
Young Bae tampak tertawa geli mengingatnya, “sekitar 5 bulan yang lalu. Aku datang ke acara kompetisi dance, namun aku tidak berhasil menang.”
Ji Yong menjentikkan jarinya, “aku ingat. Hey tahu tidak aku ingin belajar menari darimu, menurutku tarianmu stabil. Aku tidak begitu bisa menari sebenarnya, ya aku ikut lomba itu karena mengincar pengalaman saja.”
Tentu saja sudah sepantasnya Ji Yong mengatakan hal itu, dia bukan datang dari keluarga yang sederhana seperti Young Bae.
Mereka berbincang asyik malam itu, dan atas rekomendasi Ji Yong, Young Bae bisa mengajar tari di sebuah sanggar ternama dan kini sudah sepantasnya Ji Yong mengatakan hal itu, dia bukan datang dari keluarga yang sederhana seperti Young Bae.
Mereka berbincang asyik malam itu, dan atas rekomendasi Ji Yong, Young Bae bisa mengajar tari di sebuah sanggar ternama dan kini Young Bae merasa berjasa terhadap Ji Young karena itu, dan kini Young Bae benar-benar menjaga Jenny untuk Ji Yong. Tentu saja Jenny tidak pernah akan tahu hal ini.
***
Suatu siang terik, Jenny baru kembali dari sekolah. Dia terpaksa diantarkan Seung Hyun karena Seung Ri tidak bisa menjemputnya karena harus segera terbang ke Jepang untuk menjalani akademi seni. Jenny tidak mengatakan kepada Ji Yong jika Seung Ri tidak menjemputnya siang ini.
Sampai kamarnya, dia langsung buru-buru melihat mawar pelangi yang beberapa bulan yang lalu diberikan oleh kekasihnya. Hari ini nampak agak sedikit layu mungkin karena udara diluar sangat panas dan makhluk hidup manapun memerlukan air.
.....
Seminggu kemudian cuaca sudah berubah menjadi musim dingin, hujan sering turun dan sudah cukup lama dirinya tidak menemui Seung Hyun karena seniornya itu harus menempuh ujian kampus. Namun dia mulai teringat dengan malam dimana dirinya hanya berdua dirumah bersama Ji Yong.
*
“Yah, ini sudah pagi. Seharusnya kamu tidur di rumah sekarang.” Ucap Jenny menyuruh Ji Yong pulang dan beristirahat.
Ji Yong melihat jam tangannya, hampir mendekati pukul 3 pagi.
“Iya, aku letih sekali. Tapi sayang satu pun kakakmu belum pulang juga.”
Jenny menengok ke belakang, ke arah pintu masuk rumah. Begitu sepi.
“Lalu?”
“Lalu??”
“Perlukah aku mengantarmu pulang dengan mobilku?” tawar Jenny.
Ji Yong tidak menjawabnya, dia mengambil iPad milik kekasihnya kemudian membuka pemutar musik.
“Ada baiknya rileks sebentar.”
Sementara Ji Yong mendengarkan lagu slow dari iPad Jenny, mawar pelangi itu benar-benar menarik perhatian Jenny. Inilah yang selama ini ingin dimiliki Jenny, karena mawar langka seperti ini tidak akan bisa bertahan sepanjang jaman. Karena kini mawar tersebut sudah menjadi miliknya, ia meletakkan di dekat jendela kamarnya dilantai atas.
*
Mawarnya terlihat layu seminggu terakhir ini...ada apa? Perasaanku jadi tidak enak.
Ini pukul 4 sore dan hujan lebat sekali diluar. Kakak tertuanya, Young Bae seperti biasa sedang berasa di sanggar mengajar tari, sedangkan Dae Sung sedang asyik dikamarnya bersama komik dan film doraemon-nya.
Entah apa yang menggerakkannya, Jenny langsung meraih kunci mobil dan pergi tanpa meninggalkan pesan apapun, ponselnya pun tertinggal di atas meja makan.
Kenapa? Ke mana aku akan pergi?
Selama beberapa jam kepergian Jenny benar-benar berujung dengan kejutan. Hujan nampak mereda namun mawar pelangi itu rupanya merupakan suatu isyarat.


to be continue . . . 


Minggu, 15 Mei 2011

I K H L A S

Terkadang permata buruk
Itulah nilai seni yang mahal
Dia ada di antara keindahan
Namun keberadaannya misterius

Sama seperti persahabatan
Segenap keikhlasan tumpah ruah
Membersihkan kubangan lumpur
Menggantinya dengan genangan hujan

Dari hati, semuanya transparan
Keterbukaan dan pengertian
Hilangkan keegoisan dan iri hati
Lebur menjadi satu ; IKHLAS


*backsound brothers and me by Rain & JYP
03:15 wita, May 11 2011
 ( to @RenyWahyuSari )

Aku Pelampiasan

Tidak ada yang bisa ditorehkan
Selain sisa kekesalan dihati
Tanpa atau ada kamu
Terasa sama ; hambar terkadang manis

Datang dan pergi sesuka hati
Menyenangkan kemudian mengesalkan
Ya, selalu seperti itu bentuknya
Dan ketika pergi seperti asap

Sesak bergumul di dada sempit
Bilik jantung penuh sisamu
Tidak sisakan nafas buatku
Aku : hanya sebuah pelampiasan

Comeback (?)

"Itu", lagi . . . 
Terbang jauh lewati dimensi
Menembus batas tertentu
Menabrak keputusasaan yang tercipta

Harapan bawah sadar
Membawa "itu" lebih jauh
Dengan doa dan angan
Mencari dia yang di impikan

Kau muncul lagi
"Itu" kah kau? Tampil dalam pembaharuan
Menggantikan dia yang menyiakanku
Lalu kau hadir kembali 'tuk menghiburku

Haruskah. . .
Ku meraihmu lagi?
Pergi dan datang, kembali
Kali ini aku tak menerima ucapan `kecewa` lagi

Cukup sekali.

FF tengah malam -2-


Jenny kembali ke tengah kerumunan, dia hanya berdiri ditengah-tengah dan tidak berani mendongakkan wajahnya.
"Aku khawatir Seung Ri-ah akan khawatir kepadaku..." fikirnya.
Sedangkan Seung Hyun malah mencarinya keluar ruangan dan tidak sengaja bertemu dengan Young Bae, teman lamanya.
"Eh? Sedang apa kamu disini? Sudah lama tidak melihatmu.”
Young Bae terlihat asing dengan wajah Seung Hyun yang berponi kuda itu. "Siapa ya? Apa kita pernah kenal?"
"Astaga! Apakah kamu melupakanku?" Seung Hyun mulai melompat seperti sedang kalah bermain game.
Young Bae melipat tangannya dan mencoba mengingatnya lagi, "TOP?"
 "YA BENAR!!!" teriak Seung Hyun kegirangan menarik perhatian dan sekali lagi sekeliling menatap Young Bae aneh.
*
Jenny duduk disamping Seung Ri dengan gugup, matanya masih merah akibat menahan air mata yang hendak tumpah itu.
"Hei Jenny-ah, kenapa? Seharusnya kamu girang bertemu denganku. Aku sudah menepati janjiku. Atau kamu masih marah padaku tentang mainan robot itu?”
Jenny menggeleng, "bukan. Aku bahkan tidak pernah ingat dengan insiden itu."
"Lalu? Adakah seseorang yang membuatmu seperti ini? Siapa dia, akan ku hajar untukmu!" katanya bersemangat.
"Tidak Seung Ri-ah, aku baik-baik saja." ucapnya datar.
"Hmm....," Seung Ri tidak percaya dengan ucapan gadis ini.
Namun sebelum sempat Seung Ri melanjutkan kalimatnya, Jenny keburu menyelanya, "mana pacarmu?" Jenny melihat sekeliling.
"A..apa? Ah! Candaanmu tidak lucu.."
"Ha? Apa maksudmu?" dengan tatapan polos Jenny bertanya.
Seung Ri menggaruk kepala, "tidak aku belum punya sampai saat ini, kamu kan tahu aku ini super sibuk." kilahnya.
Jenny memukul lengan Seung Ri dengan cukup keras sampai ia mengaduh, "sudah kubilang kan kamu itu harus punya seseorang yang peduli padamu!"

Jenny memarahi Seung Ri seperti adiknya sendiri.
Seung Ri tampak seperti orang bodoh, kemudian Seung Hyun menghampiri mereka. Seung Ri buru-buru berdiri dan memberi salam, kemudian mempersilahkan Hyung-nya duduk dikursinya, "silakan TOP Hyung, apa kabar lama tidak jumpa."
Seung Hyun hanya mengangguk dan mengabaikannya. "Hei tadi kamu kemana saja? Aku bertemu Young Bae, teman lamaku diluar. Bahkan kami sempat mengobrol."
Jenny terbelalak, "Apa? Siapa?"
"Kamu kenapa?" tanya Seung Hyun bingung.
"Hei..." belum sempat Seung Ri melanjutkan kalimatnya, Jenny sudah melotot dengan isyarat agar dirinya tetap diam saja dan dengarkan mereka berbincang.
"Ah...ya, hmm tadi aku bertemu dengan teman lamaku, Yong Bae-ah. Dia dulu kawan semasa sekolah dasar."
"Iya!"
Jenny tiba-tiba mengiyakannya tanpa sebab. "Maksudku, kalian beruntung sekali bisa bertemu di kesempatan seperti ini.
 ~ drtttt drrtttt . Ponsel Jenny bergetar, kekasihnya mengirimi sebuah MMS.
Setelah membuka MMS itu Jenny melunjak kegirangan dan mohon permisi serta mengajak Seung Ri pergi saat itu juga.
*
"Aku jamin dengan begini Jenny pasti akan menemuiku saat ini juga."
Ji Yong mengirim gambarnya yang sedang berfoto dengan tanaman bunga mawar pelangi. Dia tahu Jenny sangat menginginkannya.
Tidak lama kemudian mereka berdua tiba di tempat pembibitan tanaman langka, tepatnya terletak disebuah jalan berkelok dan ditikungan yang cukup lebar.
"Ini dimana? Aku tidak pernah ke sini sebelumnya, hey aku belum memberitahu dia kalau aku sudah pulang. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu kalian, bolehkah aku menyingkir dari ini?" pinta Seung Ri.
"Serius? Kamu tidak ingin bersama kami?" tampak sedikit kekecewaan di wajah berseri Jenny.
Seung Ri memutar matanya, "lagi pula aku harus bertemu familiy yang lainnya."

"Okelah jika memang itu harus, hati-hati ya Seung Ri-ah." Jenny mulai melangkah menjauh, Seung Ri hanya bisa menartap punggung gadis itu. "Eh iya, hampir saja aku lupa.."
"Hmm apa?"
"Aku senang kamu menepati janjimu sebelum masa perjanjian kita berakhir."
Seung Ri hanya membalas dengan senyuman, senyuman yang kurang tulus namun ia pintar menutupinya.
Jenny kembali di langkahnya yang tertunda, Seung Ri berlalu dengan mobil Lambhorgini-nya.
"Seandainya aku lebih cepat 1 langkah dibanding Ji Yong hyung..." keluh Seung Ri ketika mulai menjalankan mobilnya.
Jenny membuka pintu tempat itu, lonceng yang terpasang di ujung atas pintu berbunyi, seharusnya ada yang menjemputnya, namun sepi. "Lho? Benar ini kan tempatnya kan?" Jenny melihat MMS itu sekali lagi, mencocokkan lokasinya dan ia tidak salah ini memang tempatnya.
*
Sementara itu Seung Hyun merasa Jenny aneh sekali hari ini. Terutama ketika mengingat ekspresi Jenny ketika kembali ke kerumunan itu dan hanya diam mematung sambil menunduk. Ia tergerak ingin mencari tahu ada apa sebenarnya.
`MAAFKAN YA OPPA, HARI INI SUDAH MEMBUATMU REPOT AKU JADI TIDAK ENAK. LAIN WAKTU AKAN KU BAWAKAN MAKANAN RUMAH UNTUKMU. ~ jenny
Pesan itu Jenny kirimkan ketika sesaat sebelum Ji Yong mengejutkannya dari balik pintu belakang.
"Jenny, ku balas tidak ya pesan ini? Sepertinya tadi setelah menerima sebuah pesan ia nampak amat terburu-buru....sepertinya dia sedang kencan dengan anak brandalan itu. Benar saja, Ji Yong sedang berdua bersama Jenny di gubuk pembibitan tanaman langka milik orang tuanya itu.
*
Di sana sepi, mobil yang lewat pun bisa dihitung menggunakan jari.
"...mana tanaman yang kamu kirimkan dalam MMS tadi? Bukankah kamu ingin memberikannya padaku?" tanya Jenny.
"Rasanya aku ga bilang mau kasi ke kamu deh..." Ji Yong meliriknya, hanya ingin tahu bagaimana ekpresinya.
            "Benarkah?" Jenny memeriksa MMS itu lagi, tidak ada pesan tertera disana. "Ah, iya...aku kira ini mau diberikan padaku." ucapnya sambil menghela napas panjang.
Ji Yong memeluknya dan meletakkan dagunya di bahu kanan Jenny, "jika aku beri mawar pelangi ini, apakah kamu benar-benar akan merawat dan menjaganya?"
            "Tentu saja, itu tidak perlu ditanyakan lagi! Tapi mawar ini sungguh sangat istimewa, aku jadi ragu apa bisa benar-benar merawatnya. Biasanya yang seperti akan mudah sekali berumur pendek."
"Sungguh?" Jenny memandang wajah Ji Yong yang masih bersandar dibahunya itu, "benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, sungguh."
"...lalu bunga ini, bukan kamu yang merawatnya selama ini?"
"Aku hanya menyiramnya secara berkala sih, awalnya Ibuku yang merawatnya. Begitu ia tahu jika kamu menginginkan ini dia memberikannya padaku."
"Be..benarkah?"
Ji Yong mengangguk pasti, "katanya wajahmu seperti kuncupnya. Kecil namun misterius, setelah mekar akan sangat spesial." ya kalimat di baris yang terakhir karangan Ji Yong sendiri, bukan dari kata Ibunya.
Jenny memutar matanya, "benarkah? Sepertinya itu hanya gombalanmu saja sayang!" Jenny mencubit manis hidung Ji Yong.
Sore itu mereka lalui dengan bercanda dan juga mengobrol sampai semalaman dan ketika Ji Yong mengantarkan Jenny pulang dengan motor sportnya, ternyata Ji Yong memberikan mawar itu kepada gadis yang sudah mengubah hidupnya ini.
"Jadi kamu serius mempercayakan ini padaku? Tapi jika aku tidak berhasil bagaimana?" ada setitik kekhawatiran dihatinya mengenai mawar pelangi itu.
 Ji Yong melepas helmnya, "aku percaya padamu. Aku tahu kamu bisa, jika suatu saat kuncup ini tidak berwarna pelangi lagi artinya salah satu dari kita......" Jenny menyela kalimat itu.
"Tidak! Aku tidak mau melihat kuncup ini berwarna selain pelangi!" Jenny mengembalikan pot itu kepada Ji Yong."
 Ji Yong mendengus kesal, "Nona, kalau ini berwarna pelangi ya ngga mungkin dong kuncup yang lain nanti bisa berubah warna! Berapa sih nilai biologimu?"
"Kamu mempermainkan aku? Hah, untung saja yang mau denganmu hanya aku. Coba saja jika Oppa jatuh ke tangan gadis lain pasti Oppa akan di campakkan berkali-kali."
"Hmm, tidak biasanya kamu memanggilku seperti itu?"
 Jenny mengalungkan kedua lengannya di leher Ji Yong, "tidak suka di panggil seperti itu?"
 Ji Yong menggeleng. Tidak lupa ia menyertakan senyum mautnya, siapa pun yang melihat itu akan jatuh tak berdaya. Hal inilah yang membuat Jenny jatuh cinta.
 Jenny ikut bersenyum, Ji Yong menyentuhkan hidungnya ke hidung Jenny juga.
 "Kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku demi apa pun?"
Ji Yong mengangguk pasti.
"Aku,...percaya kamu." ucap Ji Yong kepada Jenny, suasana berubah menjadi romantis. Aroma hujan mulai tercium kuat.
Jenny melihat ke atas, malam yang mendung batinnya dalam hati. "Sepertinya sebentar lagi akan hujan."
"Aku tahu."
"Tinggalah sebentar, mau kan sayang?" tanya Jenny menarik jauh wajahnya dari hadapan Ji Yong.
Ji Yong tampak berfikir, ia tak mau malam ini terjadi yang tidak-tidak antara dirinya dengan Jenny.
"Jika aku melakukan sesuatu yang jahat terhadapmu bagaimana?"
Jenny memainkan rambutnya, dia hanya menaikkan kedua bahunya.
"Aku serius." ucap Ji Yong, namun dia bertanya sambil tersenyum nakal.
"Memangnya 'sesuatu yang jahat' itu seperti apa?" tanya Jenny sambil meninggalkan Ji Yong masuk ke dalam rumahnya. Kali ini hanya ada kakak kedua Jenny saja, Dae Sung.
Ji Yong memarkir kendaraannya dengan benar kemudian menyusul Jenny ke dalam rumah.
*
"Hey kalian, aku tidak bertanggung jawab ya jika ada sesuatu terjadi disini!" keluh Dae Sung kepada mereka berdua yang sedang asyik menonton film horror milik Yong Bae.
"Ngomong apa sih? Tidak akan terjadi apa-apa malam ini, sudahlah kamu tenang saja!" ucap Ji Yong mencoba memberi kepercayaan kepada Dae Sung yang umurnya setahun lebih muda dibanding dirinya.
"Kalau begitu pinjamkan aku motormu, baru aku tidak akan mengganggu kalian malam ini."
"Ya!!!" Jenny mulai tidak suka cara Dae Sung memeras Ji Yong dengan cara licik seperti itu.
Ji Yong melemparkan kunci motornya, "pakailah, tapi hanya untuk malam ini saja."
"Ji Yong!" Jenny merasa tidak setuju dengan tindakan ini. "Kenapa biarkan dia menyentuh motormu?"
"Sepertinya dia berisik sekali yah? Sudah biarkan saja kita menonton film ini dengan tenang saja. Yong Bae kemana?"
"Aku tidak tahu, dia jarang dirumah. Mungkin sedang nongkrong bersama teman-temannya di klub malam. Dia kan bartender senior disana?"
"Ah, aku sudah lama tidak ketempat itu semenjak mengenalmu."
***
To be continue . . .