Rabu, 11 September 2013
Kamis, 05 September 2013
Back To You [FF-oneshot]
-terkadang, mimpimu menjadi nyata. setidaknya kau bisa membacanya jika kau rindu. cukup katakan padaku. aku akan mewujudkannya, untukmu,-
.......
Tittle : Back To You
Cast : Ken & Leo (VIXX) – Jung Ema (OC) –
Moonie (OC)
Rated : 15+
Theme
song : Ailee - Heaven
Genre : Love / Romance
Author : Ravla Lavender
------------------------------------------
Aku tidak pernah tahu, kenapa aku dulu menyukainya.
Kini semuanya terasa begitu hambar.
Tidak ada orang yang ingin merasakannya, namun aku masih sedikit iba padanya.
Tapi aku tidak tahu, aku masih ingin memperbaiki semuanya. Sungguh terasa
sulit,...bahkan aku dapat merasakannya setiap kali aku bernafas. Hhhh~...Oppa,
mianhae.
-BACK TO YOU-
Jung Ema; ia memperhatikan lelaki tinggi berambut hitam itu dari balik kaca
laboratorium. Ia ingin berbicaranya padanya, namun ia memilih menghindar
beberapa hari belakangan ini.
“Mau sampai kapan kau akan memperlakukan dia seperti ini? Jung-nim!
Sadarlah, tindakanmu ini salah!”
Raut wajah itu panik, “Aku tahu! Diamlah, biarkan aku berpikir!”
“Apa lagi yang mau kau pikirkan? YA~ dia kekasihmu! Tidak ingatkah dirimu 4
bulan yang lalu begitu mengagungkannya? Bahkan kau rela absen dari kelas demi
hanya untuk menonton dirinya bermain bola!”
Jung Ema menatap Moonie tajam, namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata
pun. Tentu saja hal itu masih tergambar jelas di benaknya. Selama ini, Moonie
yang selalu setia membantunya. Bahkan sampai saat ini, Moonie berbohong kepada
Leo. Sebenarnya ia sama sekali tidak mau melakukan hal itu. Posisinya
membuatnya menjadi serba salah.
“Oetteokhaji?” desah Jung Ema pelan. Ia masih menatap pria itu, sibuk
dengan teman sekampusnya. Tiada lain membicarakan tentang olah raga favoritnya,
sepak bola.
“Temuilah dia. Jujurlah, jangan membuat masalah baru saat masalahmu yang
lain belum selesai.”
“Aku tahu.” Ucapnya pelan, Jung Ema berada di posisi yang sulit.
***
/FLASHBACK/
Dua bulan yang lalu.....
“Hei! Jung Ema!
Jung-nim! Ya~ Ya~....kau masih ingat denganku kan?”
Jung Ema memandangi lelaki dengan hidung mancung itu, dia
kebingungan. “Nuguseyo?”
Lelaki itu menepuk jidatnya, lalu sumringah, tertawa
tidak jelas. “Ken! Ken! Keken~...~” ucapnya kemudian memajukan bibirnya dan
tersenyum.
Ekspresi Jung Ema berubah seketika itu, “OMO! Jaewhany!
Benarkah ini dirimu? Kemana kacamatamu? Apa yang kau perbuat dengan rambutmu?
Sungguh, aku tidak mengenalimu! Aigo!”
Ken hanya tertawa dan tersipu malu, lelaki penyuka aegyo
itu memukul ringan lengan Jung Ema, “Jinjjayo? Ah~ tidak...aku masih tetap Ken
yang dulu! Aku tidak berubah sama sekali!”
Leo mendapati gadis yang ia sukai berbicara begitu akrab
dengan seorang lelaki penghuni baru asrama bagian F. Ia memandang mereka tanpa
ekspresi, namun pedih. Itu yang Leo rasakan. Ia begitu pencemburu dan cenderung
diam jika sudah ada sesuatu mengganggu harinya. Seperti saat ini.
Senin, 02 September 2013
Another Poison [FF-oneshot]
Tittle :
Another Poison
Cast :
Lee Hongbin (VIXX) – Jang Moonie (OC) – Yoo Ah In (actor from Antique Bakery) –
Lee Ilsoon (OC) – Soo Jin Byul (OC)
Genre :
Fantasy / Lover / Friendship
Theme
Song : all kpop song
Author :
Ravla Lavender
-------------------------------------------------
ANOTHER POISON
[Jang Moonie’s POV]
“Kamu suka tempat kita yang baru,...Moonie?”
Gadis itu cukup lama berdiri memandang hamparan padang rumput luas yang
membentang di depan halaman rumahnya. Sebuah desa namun tempat ini tidak sekuno
yang ia pikirkan. “Kurasa aku akan betah disini, Oppa. Tapi bagaimana dengan
pekerjaanmu? Itu kan jauh sekali dari sini.”
“Moonie-ya, Oppa akan baik-baik saja. Jangan terlalu merisaukan aku! Ku
rasa kau harus segera berbenah, sebentar lagi Appa dan Eomma akan segera
datang.” Ucap Oppa itu dengan menepuk pundak adik perempuannya dua kali. “Aku
akan mencari makanan ringan di sekitar sini. Jangan pergi jauh-jauh ya! Tunggu
aku!” ucapnya kemudian berlalu.
“Ah In Oppa!” panggil itu kemudian melambaikan tangan dan kemudian menuju
kamarnya dan mulai membuka tumpukan kardus berisi pajangan dan buku-buku
sekolahnya.
‘GRASAK!’
Sebuah suara gaduh terdengar dari sebuah sudut di luar rumah. Moonie
mendatangi sumber suara dan tidak menemukan apa-apa. Namun ia merasa ingin
menelusuri padang rumput itu karena nampak dari kejauhan ada sebuah gundukan
tanah yang membentuk bukit, cukup tinggi dan ditumbuhi oleh pohon-pohon yang
cukup lebat.
Moonie menghentikan langkahnya dan mencoba menahan diri, ia tidak mau membuat
masalah di hari pertama mereka pindahan. Ah In Oppa akan begitu khawatir jika
ia menghilang.
“Tapi aku ingin kesana...sepertinya tempat itu menarik...tapi bagaimana....aku
tidak mau membuat Ah In Oppa khawatir lagi...”
Angin yang berhembus sore hari membuat suasana semakin indah dengan cahaya
mentari yang samar-samar menyinari tempat itu. Terkesan sangat damai namun
begitu misterius.
“Moonie-ya, dimana kau? Moonie-ya!” sebuah suara memanggilnya, sepertinya
orang tuanya sudah datang.
“Ne~ Eomma! Aku segera datang!”
*
Malam hari begitu tenang dan yang terdengar hanya suara gemericik air dan
gesekan dedaunan yang terkena angin. Sesekali terdengar suara jangkrik yang
membuat tidur akan semakin pulas. Namun tidak dengan Moonie. Ia sengaja memilih
kamar yang bisa melihat langsung ke arah gundukan tanah besar itu. Ia
mengamatinya dibawah sinar bulan yang cukup terang. Tempat itu di malam hari
terasa begitu menyeramkan, namun tetap saja, hasrat gadis itu semakin besar.
“Kenapa tidak sekarang saja aku kesana?” ucapnya pada dirinya sendiri. Ia
bangkit lalu mengambil jaket dan memakai sepatu, “gila. Apa yang sedang aku
lakukan? Ini sudah jam 2 dini hari!” tegurnya kemudian saat ia hendak melangkah
keluar kamar. “Kenapa aku ingin ke sana?” ujarnya saat ia mulai mengambil
langkah pertama.
‘SRAK, SRAK...’
Moonie berjalan perlahan agar tak ada seorang pun yang mendengarnya, ia
menyinari pijakannya dengan sinar ponselnya. Semakin dekat, perlahan namun
pasti. Ia semakin merasakan debar jantung yang kencang. Padahal Moonie tahu,
tempat itu hanya di tumbuhi pepohonan tua.
[Jang Moonie’s POV end]
Jumat, 23 Agustus 2013
FOAM (oneshot)
Tittle : FOAM
Cast : Ravi & Hongbin (VIXX) – Jung Ema & Park Rae In (OC)
Genre : Romance & Friendship
Rated : all ages
Author : Ravla
Theme Song :
-
Park Ki
Woong – Baby Why
-
B2St –
Back To You
-
Yang Yo
Seob – Caffeine
-
Eric Nam –
Erase
-
Sistar19 –
Gone Not Around Any Longer
-
Kim Sung
Gyu – I Need You
-
B1A4 – I Won’t
Bad Things, Tried To Walk, Yesterday, Be My Girl, What Do You Want To Do
-
2Yoon –
Nightmare
-
B.A.P –
Rain Sound
-
Secret –
Talk That
-
C-Clown –
Young Love
-
Baek Ji
Young – Hate
-
Nicole
(KARA) – Lost
-------------------------------------------
“Hal ini membuatku gila.....”
Rae In menutup bukunya dan ia
mengambil posisi tidur di atas meja. Pandangannya menerawang jauh keluar
jendela, langit biru itu dan semua awan putih, suara desiran ombak yang
samar-samar terdengar dari kejauhan. Setidaknya membuatnya bisa sedikit rileks.
“Ya~
Rae In!” sahut sebuah suara berat, Ravi. Namun Rae In terlalu malas untuk
menjawabnya. Ia sedang tidak ingin di ganggu, masalah yang ia alami sudah cukup
rumit. “Nanti pulang sekolah, ada waktu sebentar?” tanya Ravi sambil mengambil
kursi dan meletakkannya di samping meja Rae In.
“Mau apa...?” jawabnya lemas.
“Hmm? Kau kenapa? Tidak bersemangat
seperti itu....tidak, aku hanya ingin pulang bersamamu saja, rumah kita kan
searah.”
Rae In memutar bola matanya dan
kemudian menghela napas, “Aku tidak mau dia membuatmu terpojok lagi. Kau tahu
maksudku kan?”
Walaupun Rae In tidak melihat
bagaimana ekspresi Ravi, namun bocah itu terlihat tersenyum getir, “Aku mengerti,
tapi bukankah kalian sedang bertengkar?”
“Aku tidak tahu, tidak mengerti. Dia
marah padaku tanpa sebab, mungkin aku memang berbuat salah, tapi aku masih
tidak mengerti. Aku tidak mungkin melarangmu untuk menemuiku kan? Kita teman,
bahkan aku mengenalmu jauh sebelum aku bertemu dengannya.”
Ravi memutar-mutar bolpoin milik Rae
In, ia merasa sedikit tidak suka jika lelaki itu berbuat seenak hatinya
terhadap sahabatnya. “Lalu, aku harus berhadapan dengannya dan memukulnya? Begitu?”
“Bukan seperti itu, aku hanya butuh
waktu sendirian. Bisa kan? Dan jangan menunggu aku, aku akan pulang telat hari
ini.”
Ravi bangkit dan meninggalkan Rae In
seorang diri, sungguh, dalam hati ia ingin berduel dengan lelaki itu, namun
sepertinya Rae In benar-benar menyayangi orang itu.
Kembali ke Rae In, ia tidak bisa
berhenti memandang langit itu sampai ia menutup mata dan menghirup udara lebih
banyak. Ia merasa lebih baik, namun ia masih terganggu dengan kejadian kemarin
pagi. Saat ia datang ke sekolah dan tiba-tiba saja lelaki itu terlihat begitu
kesal dan tidak mau berbicara dengannya. Rae In berusaha mendekat, namun lelaki
itu tetap diam. Ia tidak mengerti mengapa dua masalah sekaligus datang dan
hinggap di dirinya.
Rae In membuka matanya, meraih
ponselnya dan membuka sebuah pesan lama yang tidak juga terbalaskan sampai hari
ini.
`Kau
kenapa Jung Ema?`
Kemudian ia mematikan ponselnya dan
bangkit dengan lunglai menuju jembatan di depan sekolah, mengamati air biru
yang jernih. Ia juga tidak pernah mengerti mengapa ia bisa bersekolah di
pesisir seperti ini. Dan ia juga tidak mengerti mengapa tidak pernah melihat ikan
berenang di bawah jembatan. Banyak hal ia tidak mengerti. Terlalu banyak.
“Haaaah~~~!!!” ucapnya sambil
bersandar di pinggir jembatan, menengadah ke langit biru. “Aku tidak suka
lautan. Tapi kenapa aku bisa disini sekarang?”
Dari kejauhan, lelaki itu
mengamatinya sambil menghela napas juga. Pandangannya begitu fokus memperhatikan
gerakan-gerakan kecil kekasihnya tersebut. Namun ia ragu, apakah gadis itu juga
menganggapnya seorang kekasih atau hanya sekedar ‘pengganggu’.
***
Minggu, 18 Agustus 2013
Sabtu, 17 Agustus 2013
Minggu, 04 Agustus 2013
Sabtu, 03 Agustus 2013
Kamis, 25 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Jung's Story [FF-oneshot]
Tittle : JUNG’s Story
Cast :
Jung Taek Woon [Leo VIXX] – Jung
Ilhoon [BTOB] – Jung Ema [OC] – Jung Hana [OC]
Genre : Romance
Rated : 12+
Theme song : B1A4’s songs
Author : Ravla [@RavlaLavender]
----------------------------
‘TOK TOK TOK’
Di tengah pembicaraan yang lumayan serius itu, sebuah kunjungan mendadak di
lakukan Ilhoon ke rumah Ema.
Taekwoon melirik tajam ke arah pintu, ia hendak membukanya namun Ema
menghalanginya. “Jangan, biar aku saja.”
Ema beranjak dari sofa dan membuka pintu, ia menemukan raut khawatir itu
begitu kental di wajah Ilhoon. “A~,
Ilhoon-ya~ ada apa? Emm, apakah sesuatu telah terjadi?”
Ilhoon mengangguk dan berbicara pelan, “Hana menghilang...tolong bantu aku
mencarinya!” pinta Ilhoon sambil mengguncang kedua tangan Ema.
“Sudah ku katakan, tetaplah dirumah.” Sahut sebuah suara kemudian.
Ema menoleh ke belakang, ia melihat raut wajah Taekwoon yang sedikit tampak
diliputi kegelisahan. Ema merasa bingung, hati kecilnya menyuruhnya untuk
menolong Ilhoon, karena bagaimanapun Hana adalah sahabat baiknya. Namun ia juga
ingin bersama Taekwoon, lelaki itu adalah kekasihnya.
Ema memandang Ilhoon, dia sudah memutuskan sesuatu. “Baik, aku akan
membantumu mencari Hana!” kemudian ia hanya mengucapkan, “Mianhae.” Kepada Taekwoon. Tidak banyak yang bisa di lakukan
Taekwoon, ia hanya bisa menunggu Ema dirumah. Pemuda itu tidak bisa pintar
mengekspresikan sesuatu.
“Kaja!” seru Ema kemudian pergi
bersama Ilhoon menuju suatu tempat untuk mencari Hana. Ini kali kelima Hana
menghilang secara misterius.
Jung Ema...mengapa kau lakukan ini
padaku?? Batin Taekwoon
ketika ia melihat gadis yang ia cintai itu pergi.
*
Mereka berlari menembus rintik-rintik hujan di malam yang cukup dingin,
demi menemukan adik kesayangan Jung Ilhoon.
“Kau sudah mencoba menghubunginya kan?” tanya Ema yang sibuk berlari sambil
memencet nomor ponsel Hana, namun sepertinya itu tidak membuahkan hasil apapun.
“Sudah, aku tidak tahu kapan ia menghilang, ketika aku ingin memanggilnya
untuk makan malam, ia sudah tidak ada.”
Ema memandang lelaki yang dua tahun lebih muda darinya, Ia masih tidak berubah... kenapa aku bisa
melakukan hal itu? Betapa bodohnya aku. “Perpustakaan sekolah? Kau sudah
kesana?”
Ilhoon mengangguk sambil mengatur nafasnya, “Sudah! Dia tidak ada disana!
Apa kau tahu tempat kesukaannya selain perpustakaan, cafe dan toko buku? Aku
khawatir tidak bisa menemukannya kali ini!”
“Haissh!” Ema memukul ringan
lengan Ilhoon, “Apa yang kau bicarakan! Kita pasti akan menemukannya!” pasti, aku akan menemukannya untukmu...
Sabtu, 29 Juni 2013
POISON [FF-oneshot]
Tittle : POISON
Cast : Lee Hongbin [VIXX] – Jung Il
Hoon [BTOB] – Jung Hana [OC]
Genre : Scifi Fantasy / Siblings / Friendship / Lover
Rated : 16+
Theme song : Monni band
Author : Ravla
------------------------------------
POISON
“Oh Oppa! Ambil yang itu, yang
itu juga!” teriak remaja yang mulai beranjak dewasa tersebut.
Ilhoon memetik dua tanaman yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, sampai
ia mendengar teriakan adiknya yang lumayan kencang. “KYAA!”
“Hana!” Ilhoon buru-buru melihat adiknya yang rupanya jatuh terjerembab ke
dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Sepertinya seseorang membuatnya untuk
menjebak rusa.
“Oppa, tolong aku...” ucapnya
sambil mencoba berdiri untuk meraih sebuah akar tanaman, namun sepertinya kaki Hana
terkilir. “Auw~ kakiku...sakit!”
Ilhoon tampak mulai panik, “Tunggu disitu~! Aku akan mencari bantuan!” ia
meninggalkan semua keranjang yang berisi tanaman obat dan berlari menuju desa
untuk memanggil beberapa orang dewasa.
Sepeninggal Ilhoon, hutan terkesan begitu senyap dan Hana tidak bisa
melihat apa pun disekitarnya karena lubang itu lumayan dalam, sekitar 3-4 meter
dan diameternya tidak begitu besar. “Oppa!” panggilnya mulai khawatir dan
tidak ada jawaban apapun dari atas sana. Ia melihat sekeliling, hanya akar
tanaman yang begitu lebat dan juga tercium aroma aneh dari lubang tersebut.
Awalnya ia merasa baik-baik saja, namun lambat laun ia merasa tidak enak badan
dan mulai lemas. “Ah aku kenapa...” gumamnya antara sadar dan tidak.
‘SRAK..SRAK...SRAK...’
“Oppa!” teriaknya mencoba sekeras
mungkin, namun ia tidak mendengar jawaban dari Ilhoon.
Sesaat sebelum Hana hilang kesadaran, ia melihat seseorang, pria, melongok
dari atas sana, kemudian ia tidak bisa menahannya lebih lama. Hana pingsan di
bawah sana.
***
Hana merasakan tubuhnya begitu sejuk, ia merasa ada yang memijit tubuhnya.
Perlahan ia membuka mata dan pertama kalinya ia merasakan nafasnya yang begitu
tenang dan nyaman.
“Eung~.....”
“Oh? Ilhoon-a! Adikmu sudah
sadar!” teriak seseorang yang memijiti lengan Hana. “Dia sudah siuman!”
Ilhoon meninggalkan kerjaannya di dapur dan langsung menghampiri Hana dan
memeriksa keadaan adik semata wayangnya itu. “Hana, Hanaa~...Hana!” ucapnya
sehingga membuat Hana meliriknya, namun sepertinya gadis 16 tahun tersebut
masih ling lung.
“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” tanya orang-orang yang
sudah mengerumuninya.
“Oppa....” panggilnya lemah dan
kemudian ia merasakan tangan hangat membelai wajahnya.
“Iya, iya aku disini...maaf meninggalkanmu waktu itu...” ucap Ilhoon begitu
menyesal. “Apa yang terjadi sampai kau pingsan di dalam sana? Adakah orang lain
disana selain dirimu?” tanya Ilhoon memastikan. “Jawab aku Hana!”
“Sudah...sudah jangan seperti itu! Dia baru saja sadar Ilhoon-a!” tegur sang Ibu mencoba menenangkan
anak sulungnya itu. “Hana...” tangan perempuan itu memeriksa suhu tubuh anak
gadisnya, semua tampak normal.
“Aku...melihat....” gumam Hana pelan, namun hanya Ilhoon yang mendengarnya. Dan kembali memaksa adiknya
untuk berbicara banyak.
“Melihat siapa? Siapa?!”
Hana menatap kakaknya lemah, ia merasa amat lelah...bahkan ia tidak tahu
berapa hari ia tak sadarkan diri.
*
Ilhoon tampak begitu khawatir, wajahnya menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang begitu
misterius.
“Jangan biarkan anak kecil memasuki hutan
itu lagi, cukup Hana yang terakhir atau dia akan lebih ganas dari yang
sebelumnya...”
“Tapi kan kita tidak tahu apa itu? Apa
tidak sebaiknya kita menyeledikinya dan memusnahkannya? Itu akan jauh lebih
baik!”
“Apa kau mau mati?! Tidak akan ada orang
yang selamat jika tertangkap olehnya! Tidak ingatkah kau dengan kejadian 20
tahun yang lalu! Dan kini generasi baru pasti lebih kuat dari masa itu!”
Samar-samar Ilhoon mendengar percakapan beberapa orang desa tersebut
membicarakan tentang sesuatu yang bersembunyi di hutan lebat itu. Ia bahkan
berniat untuk membawa makhluk itu ke desa dan mempertontonkannya di depan
khalayak umum. Namun ia tidak bisa melakukan hal senekat itu, cukup sekali itu
saja. Ia berjanji pada dirinya sendiri.
“Oppa...aku..takut...” ujar Hana
kemudian yang merasa tubuhnya sudah enakan. “Aku waktu itu tidak...entahlah aku
sendiri tidak mengerti apa yang tengah terjadi...” Hana menggelengkan
kepalanya, ia tidak ingat persis apa yang ia lihat sesaat sebelum pingsan.
Ilhoon meremas bahu adiknya, ia gemas kenapa Hana tidak langsung berterus
terang di depan orang-orang itu. “Kenapa kau tidak mengatakannya kepada kami
semua? Kenapa kau hanya mengatakan hal ini padaku?”
Hana menatap Ilhoon dalam, ia mengerti Ilhoon begitu mengkhawatirkan
dirinya, namun ia tidak ingin membuat kehidupan di dalam hutan itu rusak. “Oppa...apa itu? Apa dia manusia? Aku
melihatnya sesaat sebelum aku benar-benar pingsan, hanya siluet hitam...seorang
laki-laki...apa itu, beritahu aku tentang kisah itu Oppa..”
Ilhoon menelan ludah, ia merasa Hana tidak perlu mengetahui kisah buruk
itu. Namun jika ia tidak memberitahunya, gadis itu akan masuk dan mencari tahu
lebih dalam ke hutan itu. “Ah, itu hanya cerita kacangan, tidak benar-benar
ada!” sangkalnya.
“Oppa, jangan berbohong
padaku...ceritakanlah!” Hana menarik baju Ilhoon, ia benar-benar ingin tahu
tentang kisah itu.
Rabu, 26 Juni 2013
Little White Lie [FF-oneshot]
Tittle : Little White Lie
Cast : Lee Changsub [BTOB] – Park Rae In
[OC] – Jang Dayoung [OC] – Han Sang Hyuk [VIXX] as Park Byung Jae
Genre : Siblings / Love / Angst
Theme song : any kpop songs you want hear
Rated : 15+
Author : Ravla
------------------------------------
......
“Aku kira kita bisa menjalani semua ini
dengan baik, namun ternyata aku salah. Tapi aku tidak akan mengalah, karena
sekarang kita adalah rival.”
Ucap gadis dengan penampilan yang feminin
dan melenggang seperi model profesional, namanya Jang Dayoung. Dia adalah
primadona di kampusnya, bagaimana tidak. Jelas, ia melakukan bedah plastik dan
kini setelah ia menjadi jauh lebih cantik dengan wajah palsunya itu, ia merasa
‘tinggi’ dan selalu memandang rendah serta sebelah mata terhadap kawannya
sendiri, Park Raein.
***
Beberapa bulan yang lalu, sebelum semua ini terjadi semuanya baik-baik
saja. Baik Changsub maupun kedua gadis itu tidak pernah terlihat benar-benar
terperosok dalam suatu masalah. Sampai akhirnya mereka pergi untuk main biliar
dan Changsub mengatakan sesuatu hal yang membuat Dayoung sedikit kesal.
“Nuna, kapan kau akan kenalkan
aku dengan pacarmu? Kau bilang minggu lalu akan membawanya pada kami di minggu
ini..?”
Dayoung tampak bingung menjawab pertanyaan tersebut, “Ah~ itu....maaf ya,
sepertinya dia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya...maklum, pengacara.”
Raein meliriknya dengan tatapan ‘pembual’. Namun ia tetap diam, Raein bukan
tipe orang yang mudah untuk mengeluarkan kata-kata. Bahkan ia membungkam mulutnya
dengan masker. “Huk~!” hanya suara itu yang ia keluarkan untuk melemaskan
otot-otot tenggorokannya.
“Eung~..? Kau tidak apa-apa Raein?” tanya Dayoung mengalihkan perhatian.
“Sudah malam, sebaiknya kita bergegas ke tempat biliar, kaja!”
Changsub dan Raein menyusul Dayoung yang melangkah terlebih dahulu, mereka
tampak begitu akrab namun sebenarnya selama ini Changsub begitu susah
berkomunikasi dengan Raein karena memang gadis itu tidak ramai seperti Dayoung
yang cenderung mengomentari segala hal.
“Raein-a, benar kau tidak apa-apa? Kau selalu memakai masker, aku bahkan
tidak pernah melihat wajahmu tanpa masker..”
Raein mendongak untuk menoleh dan menatap sosok pria yang lebih tinggi
darinya itu, “Benarkah? Aku kira kamu sudah tahu.”
Changsub menghentikan langkahnya seketika. Ia merasa terkejut karena jarang
sekali dirinya mendapati Raein yang seperti itu.
“Raein-a...kau...kau...berbicara padaku? Ah~ ini seperti mimpi saja....” lalu
lelaki itu menggeleng keras untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Raein menoleh ke belakang, “Kau kira aku tuna wicara?” ucapnya sambil
menepuk pelan lengan Changsub. Sentuhan itu membuat Changsub sedikit melompat
ke belakang.
*
“YA~ sekarang giliranku lagi! Park Raein!” teriak Dayoung lumayan keras
sambil menggeser tubuh Raein menggunakan tubuhnya. Raein bahkan belum sempat
memukul bola.
‘TAK!’
“AH~ kenapa tidak masuk sih!” gumam kesal Dayoung pada bola berwarna merah
itu. “Sudahlah, aku bosan! Kalian lanjutkan saja berdua!” Dayoung melempar
begitu saja tongkat kayu di atas meja, kemudian Raein mengembalikan ke
tempatnya semula.
“Raein-a, giliranmu.” Ucap Changsub.
Raein mulai bersiap untuk menyodok bola di atas meja hijau itu, namun ia
tidak bisa menemukan posisi yang tepat untuk memasukkan bola itu ke lubang.
“Dari sini, begini...” tiba-tiba Changsub berdiri di belakangnya dan
membantu Raein mencari posisi.
‘TAK!’ bola hitam itu sempat mengenai bola yang lainnya namun akhirnya
Raein berhasil menghilangkan bola hitam tersebut.
“Bravo!!” teriak Changsub
kemudian menepuk-nepuk punggung Raein yang nampak biasa saja.
Sementara itu, di sudut sana sepasang mata tidak suka melihatnya. `Apa bagusnya dia..jika bukan karena dia
pintar dalam sastra, aku malas bergaul dengan orang aneh itu.`
“Raein-a, sudah hampir jam 12 malam...tidak pulang?” tanya Changsub
mengingatkan kawannya itu.
Raein menatap jam dinding yang ada diruangan itu, kemudian ia mengangguk
dan menyudahi semuanya. Mereka menghampiri Dayoung yang sedang asyik minum soda
dan kemudian Changsub mengatakan sesuatu.
“Nuna, itu tidak baik buat kesehatan! Jangan terlalu banyak minum minuman
bersoda, dan aku lihat sepertinya berat badanmu naik, yah? Haha...”
Raein melihat perubahan diwajah Dayoung, ia tampak tidak senang dengan
candaan Changsub barusan, kemudian seperti biasa perempuan itu berjalan
mendahului yang lain.
Setelah Changsub selesai membayar tagihan, mereka bergegas menyusul
Dayoung.
*
Aku pasti bisa membuat Changsub lebih
dekat denganku daripada dengannya.
“Terima kasih ya, kalian sudah menemani aku bermain biliar..kapan-kapan
kita bertemu lagi...sudah ya aku masuk ke dalam rumah. Bye..bye...” Dayoung
berjalan menuju rumahnya yang berada lebih tinggi dari rumah yang lainnya.
“Hhhh~.....” terdengar Raein menghela keras setelah perempuan yang lebih
tua 4 tahun darinya itu menghilang di balik tangga yang lumayan tinggi itu.
Changsub menatapnya, “Kenapa? Kau merasa tidak enak badan Raein-a?”
kemudian Changsub sedikit memijat pundak Raein namun gadis itu tidak
menginginkannya.
Raein berlalu dan Changsub mengantarnya pulang ke rumah yang lebih mirip
Dojo. Disanalah Raein tinggal bersama kedua orangtuanya dan juga seorang adik
laki-lakinya yang berusia 17 tahun.
“Sudah sampai, hmm~ apa kau senang bermain biliar tadi?” tanya Changsub
sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya.
Raein merebutnya, ia tidak suka melihat orang-orang disekitarnya merokok.
Dan kemudian ia menggeleng keras. Raein tidak suka basa-basi, ia akan
mengatakan apapun sesuai dengan apa yang ia rasakan.
“Oh, kalau begitu maaf ya...pasti ada yang membuatmu tidak nyaman, iya
kan?”
Raein menatap Changsub, “Besok, pagi-pagi datanglah lagi. Aku...aku ada
perlu denganmu.” Ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Changsub merasakan Raein tidak seperti biasanya, “Eh, kau membawa rokokku!”
teriaknya dari luar pintu, namun Raein sudah berlalu di dalam rumah.
*
Raein merasa lelah dan ia melepas maskernya, menyibak poni rambutnya dan
menggulung rambutnya rapi. Ia tampak lebih rapih dari pada tampilan
sehari-harinya, dan kemudian ia pergi ke halaman belakang rumahnya untuk
membakar sekotak rokok yang rupanya masih utuh itu.
“Nuna~!” panggil adik
laki-lakinya yang perlahan menghampirinya. “Kemana saja? Tadi aku sendirian
dirumah! Dan kau tidak dapat bagian
pizza yah! Appa dan Eomma tadi membelikannya untukku! Oh,
apa yang kau lakukan, Nuna? Ah,
itu....!”
“Kenapa kau berisik sekali, Byung-a! Diamlah, ini bukan milikku. Aku
menyitanya dari Changsub tadi. Aku tidak suka melihatnya menghisap benda ini.”
Byung menyipitkan mata, “Nuna,
kau menyukai Hyung itu ya? Padahal aku kira orang itu menyukai tipe gadis
seperti temanmu yang lagi satu itu...yang jalannya seperti model itu!”
Raein melemparkan kotak rokok itu dan mulai membakarnya, ia melamun melihat
api yang mulai membesar, menyambar lapisan luar kotak rokok, perlahan mulai
membakar tembakaunya, bau khasnya mulai tercium. “Sedang apa kau jam segini,
kenapa belum tidur? Anak kecil tidak boleh begadang!”
“YA~ Nuna....aku menunggumu! Aku
sudah tidur dari jam 8 tadi. Aku terbangun karena mendengarmu datang. Janganlah
sering pergi meninggalkan rumah, setidaknya Nuna
harus mengabari aku!”
Bahkan aku tidak menyadari jika Byung
sudah mulai beranjak dewasa saat ini..aku bukan Nuna yang baik...kurasa.
“Mian, Byung-a...lain kali aku
akan mengajakmu keluar bersama ya. Tapi kau jangan berisik ketika pergi
bersamaku. Oh iya, besok pagi-pagi tolong bangunlah lebih awal. Aku menyuruh
Changsub datang kerumah.”
“Ada apa? Ada apa?”
Raein sedikit tersenyum, “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengenalkannya
pada kalian.”
***
Keesokan harinya Byung bangun lebih awal dan menunggu kawan kakaknya itu di
depan pintu. Namun sudah jam 8 lewat tidak ada tanda-tanda dari orang itu.
“Mana...ini sudah siang..”
‘KLAK’
Pintu terbuka dan Eomma heran
mengapa anak bungsunya begitu tampak risau dan bangun lebih pagi darinya.
“Byung-a, sedang apa kau disini?”
“O~ Eomma, aku menunggu teman Nuna, katanya mau datang pagi ini..tapi
aku sudah menunggunya satu jam lebih tidak ada siapa pun yang datang.”
“Teman Raein? Teman? Atau kekasih?” tanya Appa kemudian yang sudah tampak tampan dengan setelan jasnya. Pria
berusia setengah abad itu merapikan sedikit dasinya. “Yeobo ppali~ ppali kita
akan terlambat!” ucapnya kemudian menuju ke mobilnya.
“Byung-a, jaga rumah ya, Eomma
dan Appa akan datang ke acara
pernikahan, dan tempatnya agak jauh. Jadi pulangnya mungkin sore hari.” Wanita
itu mengecup kening anak bungsunya.
“Ne, Eomma.” Kenapa mereka suka sekali pergi sih? Padahal aku kan ingin ikut juga.
*
Ia terjebak disana sudah satu setengah jam. Namun karena makanan yang
disajikan lezat, ia jadi melupakan janjinya dengan gadis bermasker itu.
“Changsub-a! Bagaimana rasa masakanku? Enak?”
Changsub mengangguk dan terus mengunyah apa yang ia makan, “Aku baru tahu, Nuna bisa memasak masakan selezat ini.
Lain waktu kita harus piknik, dan pasti Raein suka sekali dengan rasa
masakanmu!”
Dayoung kesal, ia tidak melanjutkan menuangkan susu di gelas Changsub.
“Hmm~ kalau boleh aku tahu, apa yang kau lakukan di sekitar rumahku?”
“AH~ aigooo~ Nuna ya~ aku sampai
lupa jika pagi ini sebenarnya aku di undang ke rumah Raein, tapi karena kau
memanggilku untuk mencicipi masakanmu, aku jadi tidak bisa beranjak dari sini!
Aku sungguh lapar!”
Dayoung kembali mendapatkan senyumnya, “Kalau begitu, sering-seringlah
datang ke sini! Aku suka jika kau...maksudnya, aku senang bisa berbagi jatah
makananku bersamamu!”
Changsub tersenyum karena senang ia mendapatkan sarapan gratis pagi ini,
tapi sebenarnya ia tidak yakin jika semua ini Dayoung yang membuatnya.
***
“Nuna, aku tidak suka melihat
wajahmu yang seperti itu!” Byung duduk di meja makan dan mengamati wajah Raein
yang sedikit kesal. “Mungkin lain waktu dia bisa menemui kita, jangan berburuk
sangka padanya!”
“Byung-a...aku biasa saja, jadi tolong kurangi intensitas protesmu. Tidak
lihat kah kau aku sedang sibuk? Jangan buat aku semakin bingung...atau kuas ini
akan mengotori wajahmu!”
Raein yang memiliki kemampuan melukis di atas rata-rata sering menjadikan
adiknya sebagai objek lukisannya, dan hasilnya selalu mengagumkan, ia tidak
pernah menceritakan pada siapa pun tentang keahliannya, karena ia tidak ingin
terlihat menonjol di antara mahasiswa di jurusan kesenian lainnya.
“Nuna, aku ingin ke kamar
kecil...apakah lukisanmu sudah selesai? Sudah satu jam aku menahannya....” ucap
Byung sambil mengeluarkan ekspresi yang lucu bagi Raein.
Raein tak dapat menahan tawanya, “Tunggu apalagi? Apa kau mau mengeluarkan
itu disini?” kemudian ia melihat adiknya lari terbirit-birit ke kamar mandi dan
ia melanjutkan lukisannya yang sebentar lagi selesai. “Selalu saja, berakhir di
atas kanvas. Hhhhh~...” eluhnya.
‘DOK, DOK, DOK’
“Raein-a~ apa kau di dalam? Ini aku, Changsub!”
Langganan:
Postingan (Atom)





