Minggu, 26 Januari 2014

Little Fish [FF-oneshot]


Tittle : Little Fish
Cast : Jung Ema (OC) – Kim Meichan (OC) – Han Mira (OC) – Daehyun (BAP) – Lee Hongbin (VIXX) – Han Seul Gi (OC)
Genre : Romance
Theme Song : ZiA – Have You Ever Cried
Rated : 15+
Author : Ravla

-------------------------------------------------

“........Aku hanya ikan kecil yang berada di luasnya samudra ganas.”


LITTLE FISH


3 gadis sedang asyik mengobrol di salah satu sudut kampus, menunggu sampai waktu kelas seni di mulai.

Tawa mereka begitu lepas, sungguh binar-binar kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Namun salah seorang dari mereka begitu terlihat tenang, senyumnya begitu elegan namun terkesan ramah.

“Hanmi, dia sedang menuju kemari...mau apa lagi sih orang itu?” gumam kesal Meichan, yang sama-sama membenci pemuda yang tidak berhenti mengejar di mana pun Hanmi berada.

“HAN MIRA!!! Ke mana saja kau?! Kenapa tidak memberitahuku! Apa kau sudah makan? Uh, kau terlihat cantik seperti biasanya!”

Jung Ema dan Meichan melihat pemuda itu dengan tatapan yang benar-benar sinis. Gadis-gadis ini benar-benar tidak menyukai Daehyun, mahasiswa dari jurusan seni peran.

Tentu saja, Hanmi merasa risih dan segera pergi dengan teman-temannya. Namun seperti biasanya, Daehyun menghentikan langkah pada gadis itu dengan bertingkah berlebihan. “Hei hei, mau kemana? Aku baru saja datang! Jangan pergi dulu!”

Hanmi kemudian mengisyaratkan agar Ema dan Meichan pergi terlebih dahulu.

“Hanmi-ya! Lihat, aku membawakan sesuatu untukmu!” Daehyun memberikan sekotak sushi, sepertinya pemuda itu benar-benar membuatnya sendiri.

Hanmi menghela napas, ia mengangguk dan mengambil kotak itu tanpa  banyak bicara. Tanpa ucapan terima kasih. Daehyun mengikutinya, “Kelasmu kan disana?” tunjuk pemuda itu ke arah kiri, namun Hanmi pergi ke arah kanan.

“Puuss!”

Sebuah suara kucing terdengar samar, binatang mamalia itu kemudian keluar dari balik meja yang terletak di sudut sebuah lorong dan bermanja ria di kaki Hanmi. “Lihat, kau tidak akan kelaparan hari ini.”

Hanmi memberikan sushi itu kepada kucing betina yang biasa ia rawat di kampus itu, melihat itu entah apa yang di rasakan Daehyun, ia hanya berdiri mematung dengan ekspresi yang kosong; lebih tepatnya ‘tidak tahu harus mengatakan apa’.

“Berhenti menyukaiku, Daehyun. Ku mohon.” Ucap Hanmi pelan dan pasti, kemudian ia berlalu dengan langkah terburu menuju kelasnya.

“Tapi....kenapa?” gumam Daehyun yang seperti mendapat tamparan keras di pagi hari.

***

Hanmi melihat kedua sahabatnya sibuk dengan gosip kampus. Ia selalu duduk terpisah dari mereka, terkadang Hanmi duduk di tribun paling atas agar jelas melihat dosen ketika mengajar. Terkadang ia duduk di bagian tribun yang paling dekat dengan dosen agar mendengar jelas apa yang dosen katakan. Namun kali ini, ia duduk menyendiri di tribun paling atas sebelah pojok kiri.

Sesekali ia bisa mendengar apa yang Jung Ema bahas dengan Meichan, “mahasiswa itu pasti sungguh tampan...aku dengar dia menjadi idola disana...”

Hanmi hanya menggeleng pelan sesekali menghela napas. Ia sering merindukan kehidupannya yang dulu, yang sudah lama sekali ditinggalkan. Namun ia tidak akan mau kembali ke masa itu..., atau mungkin hanya menunda?

******

Beberapa hari kemudian, Hanmi sedang mengecek jadwal kelas di dekat pintu kelas seni peran. Tentu saja kampus masih begitu sepi, entah apa yang membuat gadis ini begitu pagi terbangun hanya untuk melihat jadwal harian yang baru.

“Kau tahu dimana ruangan dosen dari kelas seni musik?” tanya seseorang dari arah belakangnya.

“Tahu, ikuti aku.” Tanpa melihat wajah orang tersebut, Hanmi melangkah menuju ruangan dosen yang biasa mengajarnya. Namun kala itu sepertinya sang dosen sedang berdebat dengan kerabatnya.

“Eung? Ada apa?” tanya orang tersebut.

“Sepertinya kau tidak bisa menemuinya saat ini....,” sesaat sebelum Hanmi melihat wajah orang tersebut, pertengkaran yang cukup besar terjadi di ruangan dosen tersebut. Karena terkejut, Hanmi menarik orang tersebut menuju sebuah ruangan praktek seni peran di lantai dua kampus.

Karena bingung, orang tersebut kemudian menutup pintu dan mata mereka bertemu. “Kenapa kau menarikku kesini?”

Hanmi seperti terpana, dia terdiam, dia juga bingung kenapa ia menarik orang asing tersebut ke dalam ruang praktek seni peran. “Aku hanya,...aku tidak mau kita di tegur olehnya.”

“Kenapa harus di tegur? Aku kan memang sedang mencarinya..?”

Hanmi menggeleng dan melonggarkan syal yang melilit lehernya, “Maksudku, aku.... Beliau kurang bisa mengontrol emosinya, kebetulan aku tidak ada kelas hari ini. Maksudku, aku...bukan, dia dosenku. Aku mahasiswi kelas seni musik.”

“Oh? Asisten dosen?” orang itu tampak terkejut.

“Bukan! Bukan, ... tapi tidak lama lagi aku akan jadi asisten dosen. Kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu disini?”

“Aku mahasiswa pindahan, ku kira kau sudah tahu beritanya...? Ku rasa mahasiswi disini suka menggosip? Ternyata aku salah...”

....jadi ini yang Jung Ema dan Meichan bicarakan kemarin? “Lalu, jangan katakan jika kau akan masuk di kelas seni musik bersamaku?”

Belum sempat orang itu menjawabnya, seseorang dari luar sudah sibuk memutar knop pintu, “Hey, kenapa ini terkunci?” ucapnya dari arah luar.

Hanmi dan orang itu sempat kebingungan, namun akhirnya mereka bersembunyi di balik korden besar yang menutupi jendela kaca di bagian sisi ruangan.

“Psst!!” seru Hanmi kepada orang itu.

Begitu banyak barang di balik korden itu sampai-sampai kehadiran mereka disana bukanlah suatu hal yang mencurigakan. “Kau tadi mengunci pintunya?” tanya Hanmi berbisik, namun orang itu menggeleng keras, “Tidak, aku hanya menutupnya biasa.”

Beberapa menit kemudian sepertinya orang yang hendak masuk ke dalam ruangan itu telah pergi dan keadaan menjadi hening. Namun Hanmi dan orang itu masih bersembunyi di balik korden.

Perlahan namun pasti, Hanmi menanggalkan syalnya karena ia merasa pengap dan panas. Tidak biasanya Hanmi terlihat berkeringat seperti itu.

“Are you okay?” tanya orang tersebut, namun sepertinya Han Mira tidak mendengarnya.

Orang itu kemudian keluar dari balik korden dan meninggalkan Han Mira, ia mencoba membuka pintu dan terbuka. Kemudian ia keluar dari sana.

“Kemana orang tadi?” tanya pelan Han Mira kepada dirinya. Ia membehani pakaiannya dan hendak melangkah menuju pintu, namun orang  itu kembali masuk dan menutup pintu kemudian menarik lengan Hanmi dan bersembunyi di balik korden.

“Ada apa? Ada apa?” tanya Han Mira panik namun ia tetap menunjukkan sikap tenang.

Saking terburunya pemuda itu, pijakan sterofoam yang ada disana menjadi rusak dan hal itu membuat Hanmi tidak bisa naik ke bagian paling atas, ia akan tetap terlihat oleh orang lain jika ada yang memasuki ruangan itu.

“Aku tidak bisa naik!” teriaknya kemudian orang tersebut turun lagi dan menggendong Han Mira.

“Diam dan jangan protes!”

Orang itu membawa Han Mira sedikit naik dan pijakan di atas hanya bisa untuk satu orang, dengan terpaksa Han Mira menginjak kaki orang itu dan mereka menutupi diri mereka dengan kain putih usang yang tersampir di sana.

Han Mira bisa dengan jelas mendengar deru nafas pemuda yang menghadap ke arahnya. Mereka tertutup oleh kain putih, begitu pengap dan panas.

“Apakah ada orang masuk ke sini?” tanya Hanmi.

“Mereka ke sini, sekitar 2 atau 3 orang. Maaf ya, bertahan sebentar lagi saja.”

Benar saja, ada beberapa junior Hanmi yang datang dan mengambil beberapa barang di ruangan ini. Namun tentu saja mereka tidak mengetahui jika ada dua orang yang sedang bersembunyi di balik korden.

Pemuda itu mengamati wajah Han Mira begitu dekat, gadis itu tampak sedang melempar pandangan ke arah luar jendela, melihat atap atap rumah penduduk dengan antusias sampai sebuah pergerakan mengejutkan pemuda tersebut.

“Maaf! Aku, aku sepertinya akan jatuh...bagaimana ini?” tanya Han Mira panik melihat pijakan itu terasa semakin bergetar.

Pemuda itu kemudian meraih kedua tangan Han Mira dan melingkarkannya di lehernya sendiri. “Aku tidak mau kau jatuh...”

Dengan posisi yang seperti itu, Han Mira hanya bisa menyandarkan dagunya di pundak pemuda itu, mereka berpelukan, mau tidak mau, suka tidak suka. “Maaf, aku jadi...membuatmu susah. Kurasa aku menginjak kakimu terlalu lama...”

Pemuda itu tidak membalasnya, namun hanya satu pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, “Boleh aku tahu namamu?”

Tentu saja sebagai seorang gadis yang normal, hal ini membuat dadanya berdebar dengan cepat, “Han Mira.”

Setelahnya terdengar orang-orang itu pergi dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.

“Ku rasa mereka sudah pergi...bisa kita turun sekarang?” pinta Han Mira, ia sudah tidak nyaman berada dalam posisi berpelukan seperti itu.

Mereka kemudian turun dengan perlahan, sampai Han Mira menjaga jarak dengan orang itu, “Jadi, anggap saja yang tadi hanya...penyelamatan diri.”

Pemuda itu terlihat sedikit tersenyum namun ia berbalik untuk menyembunyikannya. “Jadi, kau Hanmi? Kau terkenal di kampus ini kan? Begitu yang aku tahu.”

Gadis ini tidak suka jika ia di katakan sebagai mahasiswi yang terkenal di kampusnya, ia hanya menganggap itu bonus dari kerja kerasnya selama ini mengenai betapa susahnya lolos untuk menjadi salah satu anggota kelas seni musik. “Aku tidak terkenal, aku menakutkan.”

Kamis, 05 Desember 2013

Regret [FF-oneshot]



Tittle : Regret
Cast : Cha Hakyeon, Ken (VIXX) – Nana (OC)
Genre : Angst, Sadness, Friendship
Rated : 15+
Theme song : Bigbang - blue
Author :  RAVLA

-------------------------------------------

“Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu. Aku tidak mengenalmu lagi sekarang. Siapa kau...?”

Lelaki berperawakan seperti orang asing terserbut sedang berbicara kepada dirinya sendiri, ia bercermin, melihat dirinya. Namun bukanlah dirinya yang dulu.

“Apa yang kau lakukan disini...Ken? Apa yang kau tunggu?”

Tanyanya kepada bayangan itu. Ia menggenggam sebotol minuman keras, setengah isi. Lelaki ini merasa menyesal, tertekan, dan sedih. Ia berdiri lunglai tak bertenaga, matanya perlahan mulai basah.

‘PRAANGG!’

Ia membanting apa yang ia pegang. Mulai terdengar suara isakan, semakin lama semakin jelas. Ia tersungkur, mencium lantai dan tersedu. Ia menjambak rambutnya, mengacaknya dan kemudian terlentang memandang langit-langit sebuah emperan toko.

“Aku benci....aku membencimu!!! CHA HAKYEON!!!!”

*****

‘TIK, TAK, TIK, TAK..’

Hanya detik jarum jam yang keras terdengar.  Suasana ruangan berdinding batu bata ini begitu senyap, tidak ada kehidupan. Namun seseorang meringkuk di pojok sana dengan rambut yang berantakan dan ia gemetaran.

“Aku tidak mecahkannya...bukan aku....”

Gumamnya pelan dan berulang kali.

“Nana! Apa kau di dalam? Jawab aku! Nana!” sebuah suara memanggil dari arah pintu. Gadis itu terseok-seok, berdiri lalu jatuh kembali, mencoba berdiri namun ia tidak mempunyai kekuatan untuk itu sampai akhirnya seseorang mendobrak paksa pintunya.

Gadis itu menangis, ia terisak keras. Sesuatu yang buruk tengah terjadi pada dirinya.

“Hei, Nana,...Nana...!! Dengar aku....ini semua terjadi bukan karena dirimu!”

Binar mata gadis itu menerawang jauh, ia melihat ‘sesuatu’. Gadis ini istimewa, namun Cha Hakyeon tidak pernah mendengarkannya. Ia mengabaikannya, selalu.

“Aku tidak melakukannya...bukan aku...aku tidak memecahkan gelas itu...” gumamnya. “Ken....aku harus bagaimana..?”

Mata mereka bertemu, mereka menangis bersama.

Rabu, 04 Desember 2013

She's Dangerous (part 1) [FF-cerbung]


‘KROOK, KRROOOKK....’

Suasana malam yang dingin, hujan yang turun begitu deras. Ia tidak bisa mendengar apa yang gadis itu bicarakan.

“Mwoya?” ia mendekatkan telinganya ke depan mulut gadis itu. “Kau bilang apa barusan?”

“....Sudahlah, aku mau pulang. Aku tidak enak badan.”

Kemudian gadis itu merebut payung milik Hongbin, “Hei tunggu! Aku tidak mau basah sampai dirumah nanti! Tunggu aku!”

Pemuda itu berlari kecil demi mengejar sebuah payung yang di pegang gadis itu.

________________________________

Tittle : She’s Dangerous
Cast : Taekwoon, Hongbin, Wonshik (VIXX) – Jung Ema (OC) – Rae In (OC)
// cameo : Minhyuk, Eunkwang (BTOB) – Hyuna (4minute) //
Genre : Romantic School
Rated : 15+
Theme Song : VIXX (1st Album)
Author : RAVLA

________________________________

Langkahnya begitu terburu, Rae In membawa begitu banyak map dan sebuah desain yang terbuat dari sterofoam. “Ottokhaji...ottokhaji...o..ooh! Dimana Taekwoon? Aku kan sudah memberitahunya harus menunggu di depan gerbang sekolah!”

Rae In begitu terlihat sibuk dan kacau, isi kertas di sebuah map hijau hampir saja jatuh berantakan, jika saja Taekwoon datang satu detik lebih lambat.

“Maafkan aku Rae In, aku bangun kesiangan.” Ucapnya begitu pelan namun jelas. “Sini aku yang bawakan.” Taekwoon mengambilnya begitu saja dan kemudian rambut bagian depannya berantakan tersibak angin.

“Ah~ tolong bawa ini ke kelas ya! Letakkan saja di mejaku, aku harus mencari hasil gambar yang Minhyuk janjikan kepadaku kemarin lusa! Ok?”

Taekwoon hanya mengangguk kemudian orang itu berlalu menuju kelas.

*

“Minhyuk! Huh, mana gambarnya?” tanya Rae In sambil mengatur napasnya dan merapikan baju seragamnya.

“WUHOO! Ada Park Rae In disini...apa kabar cantik?” seru seorang dengan sandwich di tangannya. “Kau mau ini?”

“Aniya~ sudah habiskan saja makananmu, Eunkwang! Jangan ganggu aku!”

Tidak lama kemudian, Minhyuk datang membawa 3 lembar kertas berisi gambar karikatur dari guru-guru mereka. “Hanya ini yang bisa ku buat...layak tampil di majalah sekolah?”

Rae In butuh beberapa menit untuk melihat hasil karya Minhyuk, “Ini bagus! Aku suka! Pasti ini akan menang! Aku jamin!”

“Jika Minhyuk menang, bagaimana jika kau mengajak kami karaoke? Bertiga saja!” ujar Eunkwang dengan sungguh yakin jika karya Minhyuk akan benar-benar menang kali ini.”

Rae In memutar bola matanya, “DEAL! Okelah, jika Minhyuk menang kaulah orang yang pertama kali aku beritahu! Sudah ya!”

Rae In bergegas menuju kelas lain, ia membutuhkan artikel tentang cara-cara menghilangkan jerawat dengan instan, tentu saja, Hyuna ahlinya.

“Hei Rae In, kenapa kau baru datang? Sudah dari tadi aku menunggumu...” protes Hyuna yang ternyata sudah menunggunya dari sejam yang lalu. “Maaf, aku tidak bisa mencetak artikelnya...jadi aku masukkan dalam flashdisk! Tidak masalah kan? Sudah ku carikan dari banyak sumber, sepertinya sih sudah cukup lengkap.”

“Iya kah? Terima kasih kalau begitu, nanti biar aku yang menyusun ulang. Maaf sudah merepotkanmu. Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya! Lain kali aku akan mengajakmu makan pizza bersama!”

*

Taekwoon bersandar di pintu kelas, menunggu kawannya. Namun sebenarnya perhatiannya tertuju pada dua orang bocah badung yang dari tadi sibuk menjahili orang yang melewati mereka. Kedua orang itu tampak tertawa tidak jelas, dan sesekali berlagak seperti orang mabuk.

Taekwoon kemudian melihat Rae In mendekati mereka, tentu saja kedua orang itu hanya mengamatinya, namun akhirnya Wonshik menarik tali tas Rae In.

“Wuut, tunggu...apa yang kau bawa di dalam kantung itu?” mata Wonshik tertarik dengan sebuah kantung yang terlihat berat tersebut. “Apa kau membawa bekal makanan?” kemudian ia dan temannya tertawa.

“Anak MAMA!” teriak Hongbin tepat di samping telinga kiri Rae In. Gadis itu hanya memandang ke bawah sambil sesekali menghela napas.

“Hei! Kenapa tau tidak menjawab pertanyaanku?!” sahut Wonshik setengah berteriak, “Cepat katakan padaku apa itu.”

Rae In membuka kantung tersebut kemudian mengeluarkan sebuah coklat batangan yang cukup besar. Tentu saja Wonshik merebutnya dan membaginya kepada Hongbin. “Sejak kapan kau memakan ini? Setauku, kau tidak boleh makan ini kan?” tanya Hongbin kepada Rae In, namun gadis itu hanya memandang mereka dalam diam, dan kembali ke kelas. Sialnya, sepasang murid badung itu adalah teman sekelas Rae In, biang kerok.

Taekwoon memandangnya, namun Rae In menjawabnya dengan sebuah kalimat. “Sudahlah! Aku tidak apa-apa, lagi pula aku memang membawa coklat itu untuk seseorang...bukan untuk ku makan sendiri!” gadis itu berlalu ke mejanya dengan biasa saja.

***

Hari ini mereka tidak menerima pelajaran sebagaimana mestinya, maka dari itu kesempatan ini dipakai oleh Rae In dan Taekwoon untuk mengerjakan majalah sekolah edisi Natal. Cuaca yang mulai dingin di luar membuat banyak siswa tertidur di kelas. Sebagian dari mereka menggosip dan sibuk dengan gadgetnya, sedangkan dua orang badung itu duduk di jendela dan tertawa  tidak jelas. Taekwoon sebal dan kesal kepada mereka, namun ia hanya bisa menghela napas.

“Kenapa? Jika kau tidak suka dengan mereka, ceritakan saja padaku!”

Taekwoon menggeleng, “Cepat selesaikan ini, jadi bisa segera di pasang di depan pintu kesenian.” Ia melanjutkan menyapukan kuas berisi cat di atas sterofoam yang sudah di buat oleh Rae In semalam. “Kau membuat ini seorang diri?”

Rae In mengangguk, “Tentu saja, siapa lagi yang mau membantuku? Aku hanya tidur dua jam semalam,....seharusnya jam 12 ini sudah selesai, tapi aku tidak sengaja mematahkannya, jadi aku membuat ulang semuanya...” kemudian ia menguap lebar dan terlihat airmatanya tergenang, ia pasti merasa ngantuk sekali.

“Kau mengantuk sekali...sebaiknya kau pulang saja. Biar aku yang melanjutkan ini.” Taekwoon mencoba membujuk Rae In, karena ia terlihat begitu mengantuk. “Aku antarkan kau pulang, bagaimana?”

Rae In menggeleng, “Sudah, lanjutkan saja ini! Aku tidak apa-apa! Kalau begitu aku ke ruang komputer yah! Aku  ingin menyusun ulang bahan majalah yang sudah di berikan Hyuna tadi....semoga aku tidak ketiduran disana.”

Rae In membawa beberapa map dan juga tidak lupa ia membawa kopi yang sudah ia persiapkan dari rumah.

Taekwoon tidak sadar jika duo badung mengikuti Rae In sampai ruang komputer. Sebenarnya mereka sama sekali tidak ada niat menganggu Rae In, hanya saja tujuan mereka berubah karena Wonshik mengincar kopi yang Rae In bawa.

“Kopinya...!”

Wonshik dan Hongbin mengambilnya ketika Rae In sibuk membuka pintu ruang komputer, “Hei, botolku! Kembalikan!”

“Terima kasih banyak ya kutu buku!” ucap Hongbin sambil mengejek Rae In. “Aku akan mengembalikan botolnya! Hahahahaha!” ucapnya sambil membubuhkan tawa ejek setelahnya.

“......Kopiku.....obat kantukku...” dengan begitu sedih ia tetap harus mengerjakan apa yang harus ia kerjakan.

**

Wonshik dan Hongbin merasa senang bisa mengganggu Rae In hari ini. Bagi mereka hal itu adalah sebuah prestasi.

“Ya~ kenapa kau terlihat senang sekali...apa karena hari ini bisa mengganggu kutu buku itu?” tanya Hongbin kepada sahabatnya.

“Tentu saja! Bukan kah kita tidak pernah mengganggunya? Aku kira selama ini dia begitu lemah ternyata dugaanku salah! Bukankah jika dilihat dari dekat, dia terlihat ... cute?”

Hongbin terbelalak, “YA~ YA~...apa yang barusan kau katakan?! Jika kau berani menyentuhnya...........,maka kau akan segera di hajar Taekwoon!”

Wonshik berdiri dan mendengus kesal, “Jung Taekwoon? Si tuna wicara itu? Bisa apa dia?”

“Bisa mengangguk dan menggeleng saja.”

“...HAHAHAHAHAHAH!” kemudian keduanya tertawa keras bersamaan.

‘BRAAK’ terdengar sebuah pintu toilet perempuan seperti terbuka keras dan mereka mendengarnya.

She's Dangerous (part 2-end) [FF-cerbung]



---part 2 start

“................................”

‘KROOK, KRROOOKK....’

Suasana malam yang dingin, hujan yang turun begitu deras. Ia tidak bisa mendengar apa yang gadis itu bicarakan.

“Mwoya?” ia mendekatkan telinganya ke depan mulut gadis itu. “Kau bilang apa barusan?”

“....Sudahlah, aku mau pulang. Aku tidak enak badan.”

Kemudian gadis itu merebut payung milik Hongbin, “Hei tunggu! Aku tidak mau basah sampai dirumah nanti! Tunggu aku!”

Pemuda itu berlari kecil demi mengejar sebuah payung yang di pegang gadis itu. “Hey tunggu! Hujannya belum reda! Aku tidak mau basah kuyup, kembalikan payungku!” Hongbin merebutnya, Rae In terguyur air hujan yang dingin.

“AKU PULANG!” teriak gadis itu kemudian berlari menembus hujan yang masih deras.

*****

Pagi hari ia melangkah dengan nafas yang terburu...
Rae In datang dan ia melihat Taekwoon sedang berjalan bersama Jung Ema menuju kelas. Dia mengabaikannya dan mendahului mereka dan menemui Hongbin yang sedang duduk santai di depan kelas bersama Wonshik.

“LEE HONG BIN! Jahat sekali kau semalam membiarkanku kehujanan basah kuyup!!!” teriakan Rae In menggema di kelas yang masih lengang itu. Tentu saja hal itu membuat murid dari kelas lain bersorak riuh.

“YA! YA! Apa yang kau bicarakan?” tanya Hongbin pura-pura tidak tahu.

“Apa yang kalian lakukan semalam?” tanya Wonshik dengan wajah bingungnya. “Hei...kalian semalam...bersama?”

“Ya Wonshik-a tutup mulutmu!” Hongbin menggertaknya, dan ia melihat raut wajah yang pucat dari Rae In, “Kenapa kau masuk hari ini...? Kau terlihat tidak sehat...wajahmu pucat.”

“Kau gila menyuruhku tidak sekolah? Hari ini aku harus mengulang pelajaran minggu lalu...kau tidak ingat aku tidak ikut pelajaran dua kali saat aku di hukum karena terlambat?”

“Kan itu keinginanmu sendiri?! Kau mengatakan itu padaku kan ...?” ucap Hongbin mengejutkan semua pihak.

Semua mata memandang Rae In, “Kau tidak ingat ya malam itu...aku yang mengantarmu pulang..?” pengakuan Hongbin membuat Wonshik, Jung Ema, dan Taekwoon terkejut sekaligus bertanya-tanya....

Rae In hanya menyebut nama pemuda itu, “ah~Hongbin-a...”

*

#Flashback#
“Bagaimana rasanya datang terlambat..? Bagaimana rasanya di hukum..? menyenangkan? Beritahu aku!”

Hongbin tertawa, “Jangan bilang kau ingin mencobanya! Sudahlah, citramu di mata murid yang lain adalah murid teladan dan pendiam...tidak mungkin kau bisa merubah itu! Dasar gadis kutu buku!”

“Kenapa kau terus saja memanggil aku seperti itu? Aku tidak suka membaca buku! Benar! Aku akan melakukannya minggu depan! Aku pegang omonganku! Ingat itu!”

Hongbin menengguk segelas wine, “Apa jaminannya? Aku sama sekali tidak percaya!”

Rae In menghabiskan minuman colanya dalam sekali tegukan, “Jaminannya, jika aku berhasil melakukan apa yang kau lakukan, aku akan menjadi kekasihmu! Ya tapi sepertinya aku terlalu percaya diri...kau kan menyukai gadis yang cantik! Baiklah, apa ya jaminannya..hmm,hmm...”

“OK! Aku terima! Aku bertaruh kau tidak akan bisa melakukan apa yang aku lakukan biasanya di sekolah! Datang terlambat, bermain ponsel di dalam kelas, memecah konsentrasi kelas, tidur di kelas, makan di kantin saat jam pelajaran berlangsung....”

Rae In meremehkan tantangan Hongbin, “Ah! Lihat saja aku akan buktikan!” gadis itu berdiri kemudian terhuyung.

Hongbin yang melihat gadis itu seperti orang mabuk, kemudian mengecek minuman yang ada di gelas Rae In, terang saja ia mengira itu minuman cola padahal Rae In menenggak satu gelas sake. Hongbin mengantarkan gadis itu pulang dan Rae In terus saja bergumam bahwa ia akan bisa memenuhi tantangan dari Hongbin.

“Aku..bisa...pasti...bisa menjadi..kekash.....” gadis itu terkapar di kamarnya sesaat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
#Flashback End#

“Ah! Hongbin-a...kapan kau mengantarkanku pulang? Aku kan belum pernah mengajakmu ke rumahku! Jadi jangan membuat gosip!!” teriakan Rae In membuat Hongbin tertawa geli.

“Sudahlah, aku tahu kau malu membahas hal ini dihadapan mereka!” ucap Hongbin yang kemudian mengajak Wonshik ke  kantin untuk sarapan.

`Malam itu...memangnya apa yang ku katakan?`

Taekwoon kemudian mendekati Rae In tanpa kata-kata, ia hanya merespon Jung Ema seorang. “Nanti mau makan apa pulang sekolah? Aku ingin memasakkanmu makanan dirumahku.”

“HEH???” respon yang di berikan Jung Ema membuat Rae In mengusap wajahnya pelan. “Oh...jadi kau mengundangku ke rumahmu? Benarkah? Ah, aku tidak ingin merepotkanmu.”

Taekwoon menggeleng, “Daripada harus makan di luar terus, lebih baik aku membuat sesuatu yang enak untuk kita makan.”

Rae In tersenyum dari balik punggung Taekwoon dan mengangguk-angguk ke arah Jung Ema.

“Benarkah...baiklah...makanan apa saja asal enak aku suka ...”

“Oke, sampai bertemu pulang sekolah nanti ya Jung Ema.” Ucap Taekwoon sambil tersenyum ke arah gadis itu.

Sedangkan Rae In yang melihat situasi ini mendadak menjadi senang dan girang.

***

Siang hari di saat pelajaran tengah berlangsung.....Wonshik dan Hongbin tertawa kecil karena pembingbing pengajar mereka tertidur di dalam kelas, dan ketika Wonshik ingin mengajak Rae In untuk mengerjai pembimbing pengajar, ia melihat gadis itu tertidur beralaskan jaket yang ia lipat di atas meja.

“Eh, ketiduran...lucu ya...?” ucap Wonshik kepada Hongbin. “Baru kali ini aku melihatnya tidur di kelas. Iya kan? Eh, apa yang kau bicarakan dengannya pagi tadi? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Hongbin mengamati gadis itu, begitu juga Taekwoon yang ternyata melihat Hongbin sedang mengamati temannya tersebut dari sebuah cermin yang ia pegang. Wajahnya begitu tampak pucat, tidurnya begitu pulas dan sepertinya ia sedang memimpikan sesuatu. Gerakan bola matanya cepat.

“Ya~, jawab pertanyaanku!”

“Hhh~ intinya, ia ingin menjadi nakal seperti kita. Aku memberikan tantangan, dia menyanggupinya. Tapi aku tidak percaya, aku minta sebuah jaminan. Dia mengatakan akan menjadi kekasihku jika ia bisa menyelesaikan semua tantangan yang aku berikan. Tapi dia mengatakan jika aku hanya menyukai gadis yang cantik saja...”

Wonshik mengangguk mengerti, “Kau memang menyukai gadis cantik kan?”

Hongbin mengiyakan, “Iya itu benar. Tapi bagiku, dia juga cantik.”

“Menurutku, dia biasa saja.” Ucapan Wonshik membuat Hongbin menatapnya tajam, “Why..why? Aku suka gadis yang seksi seperti Hyuna dari kelas tari.”

**