Selasa, 25 Juni 2013

15th (Fifteenth) -2 [FF-cerbung]


Tittle: 15th (Fifteenth)
Cast : Lee Hongbin VIXX – Lee Changsub BTOB – Han Mira (oc) – Sandara Park 2NE1
Genre : Love / Scifi Fantasy
Rated : 13+
Theme Song : k-pop songs you want hear
Author : Ravla

—————————————————————-
[part 2]

[Dara’s POV]
Aku bisa membaca dengan jelas rasa penasaran itu di matanya, “Mau aku beritahu satu rahasia tidak? Ini menyangkut Hanmi..”

“Rahasia? Hey Noona, kenapa kamu percaya sekali padaku? …okelah apa itu?”

Aku mengelilingi tubuhnya, dia berbeda, tidak seperti manusia serigala kebanyakan. “Hanmi…Hanmi itu…..~”

Aku melihatmu Hongbin-a…kamu begitu peduli dengan Hanmi, namun aku perlu mengetesmu beberapa kali, karena aku tidak mau menyerahkan Hanmi ketangan orang yang salah.

“Noona, cepat katakan…”

Aku tidak bisa menahan tawaku, hanya Hongbin yang bisa membuatku senyaman ini. Nyaman? Iya, sepanjang hidup, aku belum pernah bertemu orang seperti Hongbin.

“Hanmi itu manusia biasa.”

“…………………..” Hongbin terlihat menunduk dan dia mengatakan dalam hatinya, ‘sial aku dikerjai oleh vampir ini. Jika saja dia tidak cantik aku sudah menggigitnya!’ “Oke Noona, terima kasih infonya.”

Hongbin melanjutkan berkebun, ia merasa kesal pasti. Tapi aku bersungguh-sungguh, akan membantu Hanmi memilih lelaki yang tepat untuknya. Berada di antara dua pilihan itu adalah pilihan yang amat sulit…aku sudah pernah mengalaminya, 290 tahun yang lalu.

***

[Changsub’s POV]                       
Aku tidak pernah membayangkan, bisa sarapan dengan seorang wanita…kemana saja diriku selama ini? Dan apa yang kulakukan semalam kepada Hanmi? Seandainya keberanian semalam terus melekat pada sisi manusiaku…

“Oppa! Hmm, setelah ini mau melakukan apa?”

“Hanmi…maaf ya soal yang semalam…” aku memberanikan diri untuk meminta maaf atas perlakuanku semalam kepada Hanmi, aku benar-benar tidak enak hati. “Aku tidak bisa mengendalikan diri setiap tanggal 15…”

“Ah~ itu….” aku melihatnya ikut menunduk, antara mau tersenyum dan tertawa, namun ia berusaha menyembunyikan ekspresi itu. “Tidak apa-apa, itu tidak sengaja kan? Aku mengerti, tapi aku begitu terkejut melihat Hongbin semalam…aku tidak tahu, agak susah mengungkapkannya melalui kata-kata.”

“Apakah perubahan Hongbin menakutkan bagimu? Bagaimana dengan wujudku semalam? Aku bahkan tidak bisa mengingat bagaimana wajahku ketika aku berubah…”

“Oppa, hmm…aku suka melihat perubahanmu semalam. Itu membuatmu begitu beda 180 derajat. Oppa terlihat sangat cocok dalam wujud sepert itu.”

Dia adalah orang yang pertama mengatakan hai itu padaku.

***

[Author’s POV]
Sudah hampir 4 bulan mereka tinggal bersama dan Hongbin merasa tidak kesepian lagi, semenjak ketiga orang itu datang dan meramaikan hidupnya, ia merasa harus berterima kasih kepada semuanya.

Setiap tanggal 15, Hongbin dan Changsub akan merubah wujudnya menjadi sosok setengah serigala dan kucing. Semakin lama hal ini di sukai oleh Hongbin, namun ada yang mengusiknya dan ia tidak memberitahukan pada siapapun tentang hal ini.

Bulan kedua saat ia berubah, ia merasa begitu kesakitan, namun ia menahannya dan tidak membiarkan Changsub juga Hanmi melihatnya. Ia menyembunyikan diri dalam kamar dan meraung kesakitan. Ia bercermin dan tidak ada yang aneh dengan wujudnya, hanya saja ia merasa begitu kedinginan seperti sedang berada di kutub utara, ia merasa begitu menggigil, namun ia merasakan suhu tubuhnya normal. Ia merasakan itu sampai matahari terbit, setelah semuanya usai, semuanya kembali normal.

Hal yang sama ia rasakan pada perubahan bulan ketiga. Sampai sekarang ia tidak tahu anomali apa yang ia alami, dan Hongbin tidak mau membuat yang lain khawatir tentang dirinya.

“Hongbin-a…!” panggil Hanmi dari lantai dua sambil melempar sebuah topi. “Apa yang kamu lakukan tengah hari seperti ini di taman?”

Hongbin mendengus, namun dalam hatinya ia merasa sedikit senang. Ia memungut topi itu kemudian memakainya. “Turunlah! Aku mau memanen buah semangka di ladang belakang rumah!”

“Jinjja? Ah tunggu! Aku ikut!” teriaknya begitu antusias. Hanmi meraih jaketnya dan juga topi pantainya, ia menyusul Hongbin namun karena tidak hati-hati ia menabrak Changsub yang sedang menuju ke arah dapur dan mereka jatuh terpeleset.

‘GUBRAK!!!’

“AH! Neomu appo~..” ucap Changsub sambil meraba wajahnya yang rupanya tergores ujung map plastik yang cukup tajam.

Dara yang mendengar teriakan Hanmi segera menghampiri dan membantu Hanmi berdiri. “Apa yang kamu lakukan sampai jatuh seperti itu?” nampak kekhawatiran yang berlebihan di wajah Dara.

“Oppa, pipimu berdarah…aduh bagaimana ini…nggg~” Hanmi segera mengambil kotak obat dan membersihkan darah yang ada di pipi Changsub, ia merasa bersalah karena menabrak Changsub sampai terjatuh. “Ottokaji~ ah….”

Sementara itu Hongbin kembali ke dalam rumah dan terkejut melihat dagu Hanmi berdarah, “Omo! Hanmi-a…dagumu berdarah!!” tanpa ba-bi-bu lagi Hongbin meraih tisu dan membersihkannya, sementara Dara mencoba membantu Changsub dengan lukanya.

“Hongbin-a..aku tidak apa-apa…”

“Mianhae, aku kurang waspada sampai menabrak Hanmira…!”

Hongbin hendak mengeluarkan amarahnya, namun sesaat sebelum itu terjadi Hanmi langsung menariknya ke arah ladang. Ia tidak mau melihat Changsub terlalu sering mengalami percek-cok-kan dengan Hongbin karena dirinya.

*

“Sudahlah…tadi aku yang kurang hati-hati, aku begitu bersemangat menemui…aku tidak lihat keadaan sekitar…jadi ku mohon jangan terlalu menekan Changsub Oppa lagi.” Seolah Hongbin malas mendengarnya, ia sibuk memilih semangka mana yang harus segera di panen.

Hanmi mengikuti Hongbin yang mengacuhkannya dari belakang, ia terus memandang Hongbin namun seolah Hongbin tidak menginginkan kehadirannya lagi di sini. Kemudian ia melempar keranjang kosong itu kemudian berlalu tanpa sepatah kata.

Melihat Hanmi bersikap seperti itu, Changsub mencoba menghampiri dan menenangkannya. “Hanmi-a..apa Hongbin mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?”

“Aniya…kami bahkan tidak berbicara tadi. Entahlah, Hongbin tampak begitu marah kepadaku…aku tidak mengerti…baru kali ini seperti ini.”

“Mianhae. Gara-gara aku kalian jadi bertengkar…”

“A~ Oppa~…kenapa berkata seperti itu…yang tadi kan memang kecelakaan dan tidak sengaja…jadi aneh sekali jika dia bersikap seperti itu kepadaku!”

‘GRASAKK’ terdengar bunyi yang lumayan keras ketika Hongbin kembali dengan membawa 3 semangka besar di keranjangnya. Ia meletakkan begitu saja di sofa dengan kasar, ini membuat Hanmi jengah dan mengejarnya sebelum Hongbin menghilang di ruang kerjanya.

15th (Fifteenth) -1 [FF-cerbung]




Tittle: 15th (Fifteenth)
Cast : Lee Hongbin [VIXX] – Lee Changsub [BTOB] – Han Mira (oc) – Sandara Park [2NE1]
Genre : Romance / Scifi Fantasy
Rated : 13+
Theme Song : k-pop songs you want hear
Author : Ravla

—————————————————————-
[Author’s POV]
Kita pasti pernah mendengar kisah seseorang yang  bisa berkomunikasi dengan makhluk hidup selain manusia, bukan? Iya, hal ini terjadi pada seorang laki-laki 20 tahun. Ia mengetahui ada yang aneh pada dirinya semenjak ia berusia 14 tahun. Kala itu Hongbin menolong seekor tikus yang terjepit di sebuah pipa pembuangan dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat dan mendengar tikus itu mengucapkan terima kasih kepadanya. Semenjak hari itu, ia mengasingkan diri dan tinggal disebuah rumah besar di kaki gunung.

Pemuda itu mulai terkenal di kalangan binatang dan manusia setengah siluman. Begitu banyak yang mendatanginya ke rumah itu, dan meminta pengobatan padanya. Hongbin adalah seorang yang mempunyai pengetahuan lebih mengenai obat-obatan. Kakeknya dulu adalah seorang tabib dan sepertinya kini Hongbin yang akan melanjutkan hal itu.

Bagaimana pun Hongbin adalah manusia biasa yang membutuhkan kawan dan teman di dalam hidupnya, suatu ketika ia berfikir akan menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Maka setiap kali ada pasien yang datang kerumahnya, ia berusaha mempromosikannya dan tidak lama setelah hal itu ia lakukan, dua orang datang mengunjungi rumahnya….

***

[Han Mira’s POV]
“Oh, eonni ya~ rumah ini besar sekali…benarkah kita akan menyewa salah satu kamar di sini?” sudah lama aku tidak bertemu dengan orang baru…semoga pemilik rumah ini ramah denganku juga Dara Eonni.

“Hanmi, mundur.” Dara Eonni mulai merasakan sesuatu yang aneh di sekitar rumah ini, padahal kami belum masuk ke dalam rumah, samar-samar aku mendengar lolongan serigala dari bukit yang melatarbelakangi rumah besar ini. “Jangan pernah lengah ketika kamu berada di lokasi asing.”

Aku tidak bisa meninggalkan Dara Eonni, ia sungguh membutuhkanku. Bahkan hal itu seperti terjadi kemarin, aku bertemu dengannya di sebuah perpustakaan pada malam hari. Waktu itu aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di salah satu rak buku dan aku kembali untuk mengambilnya pada saat perpustakaan sudah hampir di tutup. Dan aku menemukan pemandangan yang begitu mengenaskan.

Dia memandangku seperti ingin memakanku, aku tidak tahu bagaimana dan apa yang ia makan kala itu, yang jelas hampir setengah wajahnya merah dan itu adalah darah. Ia menyeringai, namun aku masih bisa melihat kecantikannya yang bersinar di balik wajah yang mengerikan itu. Aku melihat taringnya dan tak bisa ku pungkiri, aku takut setengah mati sampai tidak bisa berteriak, namun aku juga mengagumi apa yang aku lihat. Aku adalah salah satu orang yang terobsesi dengan vampir. Dara Eonni adalah vampir tercantik yang pernah aku temui sepanjang hidupku.

Semenjak hari itu aku semakin penasaran dan aku berusaha mati-matian agar bisa bertemu dengan Dara Eonni, dan saking seringnya kami bertemu, kami menjadi dekat seperti sekarang ini. Dan alasan aku tidak bisa meninggalkan Dara Eonni adalah aku membutuhkan sosok yang bisa melindungiku dari apapun. Tentu saja ada timbal baliknya, aku selalu memenuhi kebutuhan Eonni dengan mencarikannya hewan-hewan untuk dimakan.

“Eonni, sebaiknya kita segera bertemu dengan pemilik rumah ini…sebentar lagi akan turun hujan..”

Aku menengadah untuk melihat betapa kelamnya langitnya, lalu aku mengetuk sebuah pintu yang cukup besar, namun belum ada jawaban dari dalam. “Hallo? Ada orang di dalam?!” teriakku cukup lantang, suaraku menggaung, dan aku kembali mendengar lolongan, kali ini terasa lebih jelas. “Eonni~ apakah itu serigala biasa atau manusia serigala? Kita tidak boleh bertemu dengan mereka…” aku begitu mengkhawatirkan hal itu selama ini. Karena setahuku, vampir dan manusia serigala adalah musuh bebuyutan.

Aku melihat beberapa tetes air hujan mulai jatuh, aku mengetuk lebih keras lagi sampai aku hampir terjatuh karena pintu itu terbuka begitu cepat.

“AH!” aku merasakan tangan Dara Eonni menahan pinggangku. Aku melihat rumah itu begitu remang-remang, hanya lampu kecil kuning yang menghiasi sudut-sudut ruangan. “Halo? Ada orang?” cukup lama keadaan menghening, bahkan aku sampai bisa mendengar deru angin yang mulai kencang di luar sana.

“Tetaplah waspada.”

*

Rabu, 19 Juni 2013

Friendship Pendant [FF-oneshot]



Tittle : Friendship Pendant
Cast : Kim Ravi [VIXX] – Lee Changsub [BTOB] – Park Rae In [OC]
Genre : Fantasy/Friendship
Theme song : B1A4’s songs – B2ST Midnight & I’m Sorry
Rated : all ages
Author : Ravla

--------------------------------


Ku harap, aku bisa menemukan arti ketulusan yang sebenarnya di tempat ini.

Aku sudah cukup letih dengan semua kepalsuan mereka yang penuh dengan kemunafikan, peduli jika mereka memiliki tujuan tertentu. Iya, sulit menemukan seseorang yang benar-benar tulus...

Mungkin tidak selalu, namun aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukan semuanya dengan setulus hati. Karena aku percaya, suatu saat nanti akan ada sebuah ketulusan yang akan aku terima dari orang yang memang benar-benar tepat masuk dan menyelami kehidupanku.

------------------------------

FRIENDSHIP PENDANT

[Author’s POV]

21 tahun orang ini menghirup oksigen bumi dan makhluk indah berambut coklat itu bernama Rae In. Ia akan menghabiskan malam ini di rumah baru untuk pertama kalinya. Alasannya pindah karena di lingkungan yang sebelumnya ia merasa tidak nyaman dan banyak yang ‘berwajah dua’ di sekitarnya. Maka ia memutuskan hal ini secepatnya tanpa memberitahu keluarganya terlebih dahulu. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan memberitahu orang tuanya dalam waktu dekat.

Ia nampak sibuk sekali dengan dus-dus yang menumpuk di sudut ruangan. Membongkarnya satu persatu, membuang masa lalu yang tidak pantas disimpan, lalu membakarnya di halaman belakang. Rumah itu cukup luas dengan rumput hijau di bagian belakang. Hampir 50% bangunannya terdiri dari kaca tembus pandang.

“Ku rasa ini tidak buruk.” Ucapnya memecah kesunyian, ia menyimpan sebuah foto dimana terdapat foto dirinya dan ketiga sahabatnya. Lalu ia meletakkan foto itu di samping televisi dan sedikit menghela nafas dan kemudian ia kembali memilih barang-barang.

Sekitar satu atau dua jam kemudian, setelah api padam dan ia siap untuk kembali masuk kedalam, secara tidak sengaja ia melihat sebuah pantulan cahaya agak jauh dari posisinya berdiri. “Hh? Apa itu?” Rae In mendekatinya sambil tetap memastikan cahaya apa yang ia lihat. Ternyata sebuah pendant atau kalung berliontinkan batu utuh seperti kristal berwarna biru muda seperti air laut yang bercahaya di siang hari terkena bias sinar matahari. “Ini punya siapa? Bukannya rumah ini sudah lama tidak laku?”

Rae In membawa serta pendant itu ke dalam dan memeriksanya di kamar. Ia merasa harus mengembalikan barang ini kepada pengurus terdahulu rumah yang ia tempati sekarang.

***

Sore hari menjelang malam di hari berikutnya Rae In merasa kebingungan. Masalahnya, pengurus terdahulu rumah yang ia tempati tidak mengenali pendant itu. Rae In kembali ke rumah dan tidak mengurusi pendant itu. Ia berlalu ke dapur dan menonton televisi, mengerjakan sesuatu di laptopnya, sampai ia mematikan semua lampu untuk pergi tidur.

“Ah...pendantnya bercahaya!” Rae In meraih pendant itu dan mengamatinya, benar-benar tidak di mengerti dari mana benda itu berasal. “Jangan-jangan kemarin ada UFO lewat sini?” Rae In melempar pendant ke sofa, namun benda itu nampak tak berbahaya sehingga Rae In mengambilnya kembali dan memakainya di leher. “Hmm...tidak jelek!” ucapnya ketika bercermin sambil melihat dirinya menggunakan pendant itu. Rae In berlalu ke kamar dan istirahat tenang malam ini.

***

[Rae In’s POV]

Pendantnya...masih kan?” aku meraba leherku dan betapa leganya aku masih menggunakan pendant kristal indah ini. Entahlah, semalam aku sudah ke rumah penjaga rumah tapi dia mengatakan tidak pernah melihat atau memiliki benda ini.

‘TEET...TEET..’

“Ada tamu????” aku melirik jam dinding dan ini masih jam setengah 8 pagi. Aku merapikan rambut dan menggunakan jaket, aku baru saja tersadar setengah jam yang lalu dan sekarang sudah ada orang yang bertamu ke rumah baruku!

Cukup ragu untuk membukakan pintu, aku menarik napas panjang dan menemukan dua laki-laki; yang satunya tampak lebih tinggi dari yang satunya lagi. “Hmm....mau cari siapa?” Aku melihat mereka saling melempar pandang dan tidak ada yang berani memulai percakapan. “Hallo...mau cari siapa?” Aku sempat berfikir mungkin mereka salah alamat atau mencari pemilik rumah yang sebelumnya.

“Nggg~.....Rae In-ssi?” tanya salah satu dari mereka. Yang lebih pendek dari yang satunya.

Aku curiga...bagaimana bisa orang asing mengenalku? “Kalian siapa? Ada keperluan apa?” tanyaku berusaha senormal mungkin.

Mereka bertukar pandang lagi, “Aku Lee Changsub! Dan ini temanku, Kim Ravi! Salam kenal!” ucapnya setengah berteriak membuatku terkejut dan semakin tidak mengerti dengan kondisi ini.

Aku melirik orang bernama Kim Ravi itu, kharismanya kuat sekali! Tapi aku harus tetap waspada. “Oh...oke....lalu kalian ada perlu apa?”

“Boleh kami masuk?” tanya pemuda tinggi bernama Kim Ravi. Ia sudah melongok di atas kepalaku.

“Tunggu...sepertinya aku tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke dalam rumahku begitu saja....”

Ravi memandangku dengan tatapan ‘OH YA?’ , “Cwesonghamnida, kami datang dari agensi yang kamu telfon beberapa hari yang lalu.”

Aku mencoba mengingatnya, “A....aku baru ingat sekarang...tapi kenapa dua orang?” Aku hampir saja lupa, beberapa hari  yang lalu sebelum aku deal membeli rumah ini, aku menghubungi sebuah agensi yang menawarkan jasa teman hangout, aku iseng mencobanya, ternyata ini bekerja. Semoga kami bisa menjadi teman baik! “Masuklah kalau begitu...aku minta maaf membiarkan kalian lama berdiri di luar rumah!”

Aku menuangkan dua gelas jus apel dan menghidangkan biskuit seadanya, ku harap mereka tidak menyadari jika aku baru bangun tidur.

“Jadi, mulai sekarang...kalian bisa memanggilku Rae In.” Ucapku berusaha menebar senyum paling tulus. Aku merasa senang setelah sekian lama tidak pernah mengenal orang baru lagi.

“Kamu yakin kamu tidak lupa dengan nama kami kan?”

Entahlah, aku tidak bisa berhenti tersenyum pagi ini, “Lee Changsub, kan? Ah..sebelumnya, aku tidak tahu usia kalian...sepertinya aku harus bertanya lebih jauh...sungguh tidak sopan jika usia kalian lebih tua dariku...”

“Kim Ravi, 1993.” Ucapnya tanpa basa basi.

“Lee Changsub, 1991.”

Oppa!” spontanitas aku meneriakkannya karena aku belum pernah memiliki teman yang usianya di atasku. “Bolehkan aku...ah...ini agak sedikit aneh, tapi aku boleh memanggilmu dengan sebutan ‘Oppa’ kan?”

Changsub tertunduk dan sepertinya tersipu malu, ia mengangguk perlahan sambil menyembunyikan senyumnya yang terkesan nerd namun lucu. “Namaku Park Rae In, 1992.”

Jumat, 07 Juni 2013

GODDESS [anime-story]

buat cerita ini sambil ngebayangin versi komiknya ~
ada yang suka rela mau gambarin komiknya mungkin?
i love anime
so this one not a FF like always
im just kinda bored with FF



Titte : Goddess
Cast : Tomoya Haite – Namiya – Wonryu – Jun – Hiruka [all OC]
Genre : Fantasy / Light Romance / Light Fantasy
Rated : All ages
Theme Song : anysongs you want hear
Author : Ravla

-----------------------------------------

2009. Festival Bunga Sakura.
“Aku pasti bermimpi....”

Dia berbalik dan tersenyum, trus menarik tanganku dan mengajakku melewati jalanan yang penuh dengan bunga sakura yang berguguran.

“Bagus ya bunganya... ~” ucap bidadari yang menggunakan dress bermotif bunga merah. Dia tertawa, juga tersipu malu.

“Kamu ini apa..? Setan? Iblis? Malaikat..?” tanyaku. Aku sudah masuk dimensi lain...ini bukan tempatku berasal...semuanya terasa hangat...padahal aku tahu, bunga sakura nggak bisa mekar di musim dingin...

Dia berhenti, menunduk, aku nggak ngerti....

“Terima kasih....” ucapnya, dengan masih menunduk ia terdengar sedikit gemetar. Mungkin menangis namun menahannya. “Ku harap kita bisa ketemu lagi,...di lain waktu.”

“Uungg~ ngomong apa sih? Aku nggak ngerti..”

Aku nggak sempat melihat dia berbalik, begitu cepat, ia menyentuhku di bahu dan kemudian mendorongku dengan keras. Begitu silau, aku ngga bisa melihat wajahnya....cuma air mata itu yang ku lihat menetes sampai dagunya....

GODDESS


2012. Awal tahun yang kacau.
Tomoya Haite. Mahasiswa tingkat akhir yang selalu mengeluh dan pusing dengan skripsinya yang belum selesai juga. Motto hidupnya adalah “Aku tidak hidup untuk waktu yang lampau”. Tapi mungkin tidak seperti itu kenyataannya.

“Mungkin besok aku mati nih....” ucap Haite kepada dirinya sendiri setelah selesai menjawab soal ujian.

“Hei Tomoya! Gimana kalau kita makan pizza?” ajak Wonryu, temannya yang bermata segaris. “Aku lapar.”

Haite meliriknya malas, “Aku enggak.........”

Wonryu mendengus kesal, “Ah iya,....ah sudahlah, kamu pasti nolak ajakanku...ngajak yang lain aja ah!”

“Bilang sampai selesai!” Haite berbalik dan meremas kerah baju Wonryu. “Kalo nggak pengen bilang, lebih baik jangan di omongin..”

“Eih! Minggu depan aku mau kemping dengan Jun sama Hiruka! Kalo kamu mau ikut...”

Haite melepas cengkramannya, “Ah~ aku tahu, tempatnya pasti itu itu aja...bosan ah!” dengan santainya Haite menaruh tangannya di belakang kepala.

“Jepang!” teriak Jun, “Jepang lho, JEPANG!”

Aku nggak menahan diriku kalo denger ada orang bilang nama negara itu.

Haite tampak melongo, ia mendengarkan rencana Jun juga Wonryu. “Ke Jepang, minggu depan hari Selasa. Tapi disana luas banget,...aku nggak kenal daerah sana...” Jun tampak melirik ke arah Hiruka.

“Aku...ikut.” jawab Haite membuat keduanya saling melempar pandang tidak percaya. “Kabarin aja aku nanti, kalian tahu kan harus nyari aku dimana?” Haite kemudian berlalu meninggalkan kelas. Seperti hari biasanya, ia tidak pernah absen dari rumah kaca tempat mengembang biakkan segala jenis tanaman langka.

***

‘SRET, SRET.’

‘I DON’T LI........’ “Gimana aku bisa punya motto kayak ini kalo sampai sekarang aku nggak bisa lupa kejadian itu?”

Haite meletakkan penanya dan mulai menatap lampu kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Ia mengingat kembali peristiwa yang membuatnya bingung setengah mati sampai detik ini.

“Mungkin dia mengira aku orang Jepang, makanya mengajakku ke tempat itu...tapi kenapa aku? Kenapa nggak Hiruka saja? Hiruka kan.....asalnya dari Nagoya...”

‘PLETAK!’ terdengar bunyi kerikil yang di lemparkan ke arah jendela kamar Haite. Mulanya ia mengacuhkan, namun karena bunyinya semakin berisik, Haite mencoba menegur orang yang iseng pada larut malam seperti ini.

“Siapa sih?!”

Haite melihat sekeliling dari kamarnya di lantai dua dan suasana tampak sepi, tidak ada kerikil yang terdapat di dekat jendela kamarnya, pot bunga yang ada disana pun tampak tak rusak ataupun lecet.

“Orang iseng!”

Haite menutup jendela kamar dan menarik napas panjang sebelum ia berbalik, “Padahal lagi asyik flashback tadi...”

“Lagi mikirin aku yah?”

Rabu, 29 Mei 2013

BLACK DECEMBER [FF-oneshot]



Tittle : Black December
Cast : Leo [VIXX] – Phia [OC] – Goo Hye Sun – Lee Changsub [BTOB]
Genre : Romantic Fantasy / Fantasy Love
Rated : 12+
Theme song : VIXX’s songs
Author : Ravla


-----------------------------------------


Suatu malam di bulan Desember....

YA! Oppa! Kenapa begitu lama? Jadi tidak?” ucap seorang gadis di tengah kegelapan malam, ia tengah menuju sebuah bioskop di kota, ia pergi di bawah langit mendung yang menaunginya.

“Oh, Phia! Nggh~ mianhae...tiba-tiba aku kehilangan moodku...lain kali saja yah..pulanglah...aku menunggumu dirumah!”

Phia kemudian menghentikan langkahnya dan menatap layar ponselnya. Kekecewaan mulai nampak di wajahnya, guntur menyapa dan ia mulai menemui titik-titik air yang jatuh dari langit kelam.

Oppa ini selalu saja seperti ini...jika bukan sepupuku aku akan......”

Sesuatu memotong kalimat Phia, dari tempatnya berdiri terlihat petir yang menyambar begitu cepat dan berwarna putih beberapa kilometer di depannya. Ia sempat terpana dengan listrik alam yang begitu besar itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sehelai bulu berwarna hitam jatuh dan kemudian memungutnya, menyimpannya di balik case ponselnya. Dan kemudian hujan mulai turun dengan deras.

“Ah! Hujan!” Phia menepi ke sebuah pelataran toko yang sudah tutup dan menunggu hujan mereda. Namun sepertinya air yang jatuh dari langit semakin banyak. Ia memandang layar ponselnya dan ia merasakan tenggorokannya tercekat, matanya mulai memerah.

“Ha~~~......kenapa begitu banyak air di tubuhku....~~~” ucap seseorang yang berjalan di tengah hujan lebat.

Shit!” umpat Phia pelan sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas. Seseorang yang tengah mabuk berat berjalan di tengah hujan dan ia melihat Phia lantas mendekatinya dengan wajah mesumnya.

Phia hanya diam dan mulai mengepalkan tangannya, pria asing itu mulai menaikkan tangannya untuk meraih Phia. Phia segera melayangkan tinju namun ternyata tangannya hanya memukul angin.

Phia melihat sesosok pria kurus tinggi dengan rambut gondrong mendorong pemuda yang mabuk itu ke jalanan sampai orang itu pontang panting, berdiri pun tidak sanggup.

“........” Phia tidak bisa jelas melihat wajah orang yang sudah menolongnya itu, namun ia masih waspada karena bisa saja orang yang menolongnya salah satu kawan dari pemuda yang mabuk tersebut.

Sosok itu berbalik dan menatap Phia, sayangnya lampu jalan bersinar terang tepat di belakang kepala pria itu sehingga Phia hanya bisa melihat siluet gelap.

“Ss-siapa...” belum selesai Phia berbicara, orang itu menarik lengan Phia dan berlari ke arah rumah. Anehnya, tanpa di sadari Phia, hujan sudah reda dan hanya meninggalkan rintik-rintik halus saja.

Mereka berlari cukup jauh untuk menuju rumah Phia, dan beberapa blok sebelum mereka sampai orang itu melepaskan genggaman tangannya.

“Eh? Kenapa?” tanya Phia yang masih berusaha melihat wajah orang itu dengan jelas, namun ia hanya mendapatkan siluetnya. Phia menunggu respon orang itu, namun ia tidak menjawab apa-apa dan pelan-pelan berjalan mundur.

Sinar remang-remang dari salah satu rumah orang menyinari wajah orang itu, ia tersenyum kepada Phia dan kemudian berjalan santai menjauhi gadis bermantel tebal itu.

“Tunggu! Tunggu!” Phia berusaha mengejarnya, namun seperti bayangan...orang itu entah menghilang kemana. “Ke mana orang tadi? Siapa dia? Kenapa ia tersenyum padaku? Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih....”

*