Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction BB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction BB. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

FF [request by dinar] -6-

Seung Hyun masih menunggui Seol Hyo walaupun cuaca sebentar lagi tidak bersahabat. Sahabatnya, Kwon Ji Yong sudah memperingatkan agar dia sebaiknya pulang saja dan jangan lagi berharap pada Seol Hyo karena situasinya sudah seperti ini, namun ia keras kepala.
*
“Ini sudah setengah jam.” Ucap Seol Hyo.
“Apa kamu mau pulang?” tanya Tae Yang yang enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Seol Hyo.
“Haruskah kamu ikut ke toilet bersamaku?”
Kemudian Tae Yang membiarkan Seol Hyo melarikan diri ke toilet. Sementara itu dia memegangi dahinya, panasnya sudah turun atau belum.
Seung Hyun masih menunggu diluar, dia mengirim pesan singkat kepada Seol Hyo, rintik air dari langit sudah membasahi layar LCD ponselnya.
Aku diluar, apa kamu tidak ingin menemui dan membawakan payung untukku?
Sialnya ponsel Seol Hyo berada di genggaman Tae Yang saat ini.
*
“Sepertinya kran di kamar mandimu bermasalah...”
Seol Hyo menemukan kekasihnya sedang membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
“Ada yang menunggumu diluar..” ucapnya tidak memandang wajah Seol Hyo.
“Hah?”
Seol Hyo melihatnya dari balik jendela dekat pintu, namun yang terlihat hanya rintikan hujan yang semakin deras.
Seol Hyo berbalik dan mengatakan tidak ada siapa pun diluar, yang tampak hanya sekumpulan prajurit hujan yang menyerang bumi.
Tae Yang menyerahkan ponsel milik Seol Hyo, tertegun. Tapi dia berusaha mengacuhkan pesan itu dengan menghapusnya kemudian mematikan ponsel.
“Kamu tidak kasian kepadanya? Di luar hujan, bawakan ini dan suruh dia agar tidak menunggumu.”
“Oppa saja, aku tidak mau.”
“Aku tidak mau dia sakit karenamu, dan mengganggu hubungan kita lagi. Bawakan dia payung dan suruh dia kembali saja dan jangan menemuimu lagi, jika aku yang menemuinya akan kupukul dia lebih keras lagi.”
*
Seung Hyun melihat bidadari itu keluar dan membawakan payung hitam untuknya.
Belum sempat Seung Hyun berkata-kata, Seol Hyo sudah menyuruhnya minggat dari sana.
“Pergi, dan jangan pernah temui aku lagi. Biarkan aku bersama Tae Yang sekarang, mungkin Tuhan punya pendamping yang lebih baik dariku untukmu. Jika tidak Tae akan memukulmu lebih keras dari yang kemarin.”
Seol Hyo meninggalkan Seung Hyun.
Kata-kata yang diucapkan Seol Hyo sama dengan apa yang dikatakan Ji Yong padanya kurang dari sejam yang lalu. Air mata Seung Hyun berbaur dengan air hujan.
*
Keesokan malamnya rumah Seol Hyo ramai, disana ada Seung Ri namun Dae Sung sudah kembali ke Thailand karena masa liburannya sudah usai.
Kwon Ji Yong dan Park Rae In sedang membuat pasta bersama, namun suasana dingin menyelimuti teras belakang—Seol Hyo dan Tae Yang.
“Kamu tidak baik-baik saja kan setelah mengucapkan itu padanya?” buka obrolan dari Tae Yang.
“Huh siapa yang peduli dengannya? Ah, kamu yang peduli padanya bukan aku.” Jawab Seol Hyo ketus.
“...aku cuma tidak ingin dia muncul di hadapanmu lagi. Katakan saja jika dia menemuimu lagi, ada aku yang mem-backing-mu.”
Karena penasaran dengan hubungannya dengan Seung Hyun dulu, Tae Yang bertanya sekali lagi.
“Berapa bulan kamu menjalani hubungan dengan Seung Hyun dulu?”
Seol Hyo hanya menaikkan kelima jarinya.
“Berapa tahun yang lalu?”
Jari telunjuk yang berbicara.
“Apa kamu sariawan tidak mau berbicara denganku?”
Seol Hyo kesal dengan hingar bingar musik yang disetel Ji Yong, dia menarik Tae Yang keluar rumah dan mencari udara segar.
“Aku hanya ingin mendengar suara jangkrik. Di dalam sangat berisik.”
“Jika Seung Hyun besikeras ingin bersamamu dan terus memaksamu bagaimana?”
“Sudahlah, jangan bahas itu terus knapa sih? Bosan tahu, aku sedang bersamamu sekarang.”
“Apa benar kamu lebih memilih aku dibanding Seung Hyun mantanmu itu?”
“Jika aku tidak disini sekarang artinya aku lebih memilih dia dibanding kamu. Sudahlah berhenti membahas dia, aku sedang ingin membahas kita.”
“Kita....apa kita mau putus?”
Seol Hyo tertawa geli kemudian menggandeng tangan Tae Yang dan mengajaknya berjalan menyusuri kegelapan.
*
Sementara itu, Seung Hyun rupanya sudah mulai putus asa. Dia mengemasi barangnya dari rumah Ji Yong dan kemudian entahlah pergi kemana.
“Kenapa tidak mau sih? Arrghh!” wanita itu menendang mobil putih miliknya.
“Hey Nona! Kenapa kamu menendang mobilku?” tanya Seung Hyun kesal dan setengah berteriak.
Wanita itu terpana melihat sosok tinggi yang berdiri dibelakangnya. “Kenapa ini kan mobilku!”
“Tidak bisa baca tulisan dibelakang?”
Wanita itu berjalan ke belakang mobil, ada tulisan `TOP IM RAP`.
“Kenapa dimobilku ada tulisan begini? Kapan aku memasangnya?”
Seung Hyun menghela napas kesal kemudian memeriksa sebentar mobilnya dan masuk.
 “Hei hei! Kenapa kamu bisa masuk ke dalam mobilku?!” tanya wanita itu.
Dari dalam mobil Seung Hyun berkata, “jika ini mobilmu maka aku yang tidak bisa masuk. Ingatlah dimana kamu memarkir mobilmu. Dan jangan suka menendang!” teriaknya kesal.
***
Hubungan Seol Hyo dan Tae Yang sudah berjalan hampir satu tahun, dan semenjak malam itu mereka tidak pernah lagi melihat Seung Hyun.
Minggu lalu baru saja keluarga mereka mengadakan acara pertunangan antara Park Rae In dan Kwon Ji Yong, dan Seol Hyo akan segera menyusulnya dalam beberapa tahun ke depan.
Sore ini mereka berempat tanpa Seung Ri makan malam di restoran dekat pelabuhan. Tidak di duga Seol Hyo bertemu dengan Seung Hyun, namun ekpresi Seung Hyun biasa saja seperti bertemu dengan teman lama.
“Hey, apa kabar lama tidak berjumpa. Tae mana?”
“Sedang apa...”
“Baby, kamu lama sekali? Aku sudah lapar! Eh siapa dia?”
“Ah, kenalkan ini Martha, pacarku. Ini Park Seol Hyo, teman lamaku. Dulu aku sempat melatihnya.”
Martha langsung memeluk hangat Seol Hyo dan mencium pipi kanan dan kirinya.
“Aku Martha, sebentar lagi kami akan menikah.” Bisiknya.
“Oh selamat! Aku ke sini bersama Unnie dan Oppa juga. Kalian mau bergabung?” tanya Seol Hyo.
“Aku rasa tidak, aku hanya ingin berdua dengan Martha. Ya kan?”
“Mungkin lain kali ya Seol Hyo-ah! Senang bertemu denganmu, ternyata kamu lebih manis dari pada yang di foto. Selamat makan malam ya!” ucap Martha kemudian pergi bersama Seung Hyun menuju mejanya.
Tae Yang sengaja tidak mendekat, dia baru bertanya ketika Seol Hyo kembali berkumpul bersama mereka.
“Itu tadi...”
“Iya.”
“Dan yang bersamanya?”
“Tentu saja...”
“Oh, tapi kamu lebih cantik dari dia.”
Seol Hyo tersipu malu karena Tae Yang terus memujinya selama ini.
Tae Yang mendekat kepada Seol Hyo dan melihat situasi seperti ingin merampok seseorang.
“Kenapa sih? Apakah Oppa mengundang teman juga?”
Dengan jari, Tae Yang ingin Seol Hyo sedikit menunduk dan mendekat padanya.
Tanpa perlawanan Seol Hyo mengikutinya dan  ... CUP! Sebuah ciuman manis untuk gadis yang manis diberikan oleh Tae Yang dan mendarat di bibirnya.
Bayangkan saja bagaimana merahnya wajah Seol Hyo ketika itu dilakukan di dalam restoran dengan banyak pengunjung.

F I N I S H

Minggu, 29 Mei 2011

FF [request by dinar] -5-

Dua lelaki itu terlibat baku hantam, bergantian dan tidak mau berhenti sampai akhirnya salah satu tersungkur.
“Seol Hyo...?”
Jari-jari dingin itu menutup mulutnya yang menganga melihat aksiden tersebut. Ia tidak tahu haru bertindak dan  membela siapa.
“Apa yang kalian lakukan..??!!!!!” Seol Hyo marah, dia bertanya sekaligus dengan nada yang membentak agar keduanya berhenti melakukan hal bodoh itu.
Seung Hyun yang tersungkur, sesungguhnya ia ingin melakukan hal ini sejak pertama kali tahu Seol Hyo menyukai Tae Yang. Menurutnya, Seol Hyo hanya pantas bersanding dengan dirinya.
“Jangan bertindak seperti anak kecil! Aku tidak akan bersimpati pada kalian berdua! Jika seperti itu mau kalian, lebih baik tinggalkan aku sendiri!”
Suasana menghening sejenak, empat mata itu memandang Seol Hyo – sama-sama tidak mau kehilangan gadis lugu dan polos itu.
Seol Hyo meninggalkan mereka, berjalan kembali dari arah kedatangannya. Tae Yang mengejarnya namun Seol Hyo rupanya benar-benar marah dengan sifat kekanak-kanakan mereka.
*
Di lokasi lain Ji Yong dan Rae In kebingungan mencari Seol Hyo karena Seol Hyo pergi dengan Dae Sung tanpa pamit terlebih dahulu.
Ji Yong mendapatkan pesan singkat dari Seung Hyun mengenai kejadian barusan, karena tidak ingin hubungannya dengan Rae In hancur maka ia mengabaikan Seung Hyun dan esok ia berencana membuat semuanya lebih baik.
*
Seol Hyo sudah ada dirumah semenjak pukul 11 malam setelah ia marah kepada dua lelaki itu. Ini sudah lima hari semenjak kejadian itu, dan Seol Hyo masih belum mau bicara dengan mereka padahal Seung Ri dan Ji Yong sudah mengusahakannya.
Semua keputusan ada ditangan Seol Hyo.
Sepertinya hari ini Seol Hyo harus membolos lagi gara-gara Seung Hyun terus memberinya bunga di dua hari terakhir ini. Bagaimana bisa, karena Seung Hyun mengirim toko bunga itu berjualan didepan rumah Seol Hyo dan menghalangi jalan.
“Maafkan aku Seol Hyo-ah.” Ucap Seung Hyun yang nekat melakukan hal itu. Bahkan hanya dia yang berani muncul di hadapan Seol Hyo, padahal Seol Hyo mengharapkan Tae Yang yang melakukan ini semua.
Seol Hyo mengabaikannya dan memindahkan beberapa pot agar ia bisa berjalan menuju sekolah. Seung Hyun menguntitnya, ia tidak peduli bahkan sampai rela menunggu sampai sore disekolah.
Hal ini sudah hampir satu minggu terjadi dan bersamaan dengan itu tidak ada kabar dari Tae Yang yang  masih menjadi kekasihnya itu. Merasa khawatir, Seol Hyo mengunjungi rumah Tae Yang.
Sepi, namun ada tanda kehidupan.
“Oppa? Boleh aku masuk?” tanya Seol Hyo yang sudah melupakan kejadian bodoh malam itu. Beberapa meter dari rumah itu Seung Hyun mengawasi.
“Hm..” hanya terdengar suara pelan itu.
Tae Yang demam, sudah tiga hari dan dia sendirian dirumah sebesar itu.
*
“Kenapa tidak memberitahuku Oppa?” isak Seol Hyo yang mendramatisir keadaan.
Tae Yang tertawa senang, “aku kan hanya sakit biasa...aku masih bisa hidup kok untuk memukul mantanmu itu.” Candanya.
Seol Hyo memukul keras lengan Tae Yang. “Bukan itu yang jadi masalah! Aku tidak mau Oppa sakit karena aku! Atau aku tidak mau aku menjadi tidak peduli kepadamu! Oppa pikir aku masih mau dengan Seung Hyun itu?”
“Bukannya memang sedang bingung ya sekarang? Sepertinya dia memperjuangkanmu sekali?”
“Sudahlah Oppa jangan bahas dia!”
“Tapi jika memang dia beranggapan kamu pantas untuk diperjuangkan, aku setuju.”
Seol Hyo memeras handuk basah dan meletakkannya di dahi Tae Yang, “jika aku memang pantas untuk diperjuangkan, maka aku ingin Oppa yang memperjuangkan aku sampai menang.”
Seol Hyo beres-beres dan ingin pulang namun Tae Yang menariknya dan memeluknya.
“Apa kamu berfikir aku pantas untukmu? Aku ini tidak semenarik dia bagaimana bisa kamu menyukai dan menerima aku menjadi pacarmu? Aku ini payah, bahkan aku takut untuk mendekatimu terlebih dahulu.”
“......jangan tanyakan kenapa aku menyukai Oppa, aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Silakan katakan semua tentangmu ; payah, bodoh, atau apa saja. Tapi bagiku itu adalah bagian dari Oppa yang aku sukai, aku menyukai semua tentang Tae Yang Oppa.”
Seol Hyo melepaskan pelukan itu karena dia harus pulang, rumahnya kosong.
Tapi, Tae Yang menariknya sekali lagi.
“Kalau begitu, peluk aku....3 menit saja.”
Seol Hyo tidak mungkin bisa menolaknya.
*
“Sebaiknya mundur sebelum sepenuhnya hatimu hancur.”
Dengan tatapan tajam ia hanya bisa bersinis ria dengan rumah Tae Yang.
“Aku sudah bilang tidak akan menyerah begitu saja kali ini.”
“Jangan memaksakan dirimu, hatimu hancur jangan buat orang yang kamu sayangi ikut merasakan hancurnya. Lebih indah jika melihat dia bahagia. Meskipun itu menyakitkan.” Ji Yong hanya menghampiri Seung Hyun dan mengatakan itu.
Lebih indah melihatnya bahagia dari pada harus melihatnya ikut hancur bersamamu...
Perkataan Ji Yong terngiang di benak Seung Hyun, kini dia yang bimbang dan ragu harus mengikutinya atau justru menentang arus.

to be continue . . .

Jumat, 27 Mei 2011

FF [request by dinar] -4-

Kamis sore kali ini adalah jadwal Park Seol Hyo bertanding melawan sekolah lain. Namun 1 jam sebelum pertandingan dimulai, ada perubahan juri yang menilai mereka kini.
“Apa? Ada pergantian juri? Yang benar saja, siapa orangnya?”
Seol Hyo hanya bersiap sambil mendengarkan teman-temannya protes karena juri yang biasanya ada dipihak mereka tengah digantikan oleh juri lain.
Ketua tim mereka datang dan berbisik memberikan siapa orang itu, namun bagi Seol Hyo tidak penting mau jurinya diganti atau tidak ada juri sekalipun dia bertekad untuk memenangkan pertandingan kali ini karena sudah berjanji pada kekasihnya, Tae Yang.
*
Tae Yang duduk di tribun paling tinggi, ia ingin melihat kekasih yang baru dipacarinya selama 3 minggu itu tidak gugup karena ia pandangi seperti itu.
Ya, Tae Yang menyatakan perasaannya lewat sebuah lagu ketika mereka pergi berdua waktu itu dan dilihat banyak orang di tengah taman kota. Waktu itu wajah Seol Hyo sudah tidak karuan lagi dan tidak banyak basa-basi Seol Hyo mengiyakannya.
Pertandingan sudah berjalan selama 10 menit, namun pihak lawan dengan mudahnya memenangkan 2 poin pertama ini. Diliputi rasa kesal dan ambisi yang besar, Seol Hyo tampak lebih serius kali ini tapi ketika arah matanya tidak sengaja melihat ke kursi juri.
Choi Seung Hyun yang menggantikan juri yang biasanya berpihak pada mereka.
*
Poin yang terkumpul saling susul menyusul, walaupun Seol Hyo tampak lelah sekali, namun dia masih berjuang sekali lagi agar bisa memenangkan pertandingan ini karena ia mempunyai tanggung jawab atas janjinya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya sudah mendapatkan pemenang.
*
Begitu membuka mata, Seol Hyo sudah sendirian. Beberapa orang tampak sedang berbincang cukup keras dan itu membuatnya terjaga. Di luar ada Tae Yang, Seung Hyun, dan Park Rae In kakaknya.
Sayup-sayup terdengar pembicaraan mereka bertiga.
Sedang apa dia disini? Apa tadi aku pingsan, siapa yang menang? Mereka membicarakan aku, atau apa? Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Terima kasih Seung Hyun-ssi, sudah mengantarkan Seol Hyo.”
“Sama-sama, ku harap Seol Hyo cepat sembuh. Aku tidak bisa lama-lama menemani kalian, aku mohon pamit.”
Berlalunya Seung Hyun, membuat pertanyaan besar di kepala Tae Yang, “dia itu kenal dengan Seol Hyo?”
“Aku juga tidak tahu pastinya, sepertinya mereka memang kenal tapi tidak terlalu dekat. Seol Hyo dulu sempat mengidolakan dia, namun entah kenapa 2 tahun belakangan ini sudah tidak.”
“Apa mereka lebih dekat tanpa diketahui siapa pun? Aku merasakan ada yang mengganjal disini.”
Rae In menepuk bahu Tae Yang, “jangan berpikiran yang macam-macam! Tidak mungkin mereka pernah lebih dekat yang aku tahu. Jadi mereka itu tidak mungkin ada apa-apa.”
“Tetap saja rasanya ada yang aneh diantara mereka...aku berharap semoga feelingku salah.”
***
5 hari berlalu semenjak pertandingan yang dimenangkan oleh tim Seol Hyo....
Seung Hyun jadi sering muncul menemui Seol Hyo, mengetahui hal ini Ji Yong diam saja dan tidak mau ikut campur dengan masalah adik kekasihnya tersebut. Tae Yang mengetahui hal ini dan Seol Hyo jelas dengan banyak alasan lebih memilih kekasihnya yang sekarang.
Seung Ri sebenarnya tahu banyak hal, dia tahu jika Seung Hyun itu pernah sempat menjalin hubungan dengan adik sepupunya itu, namun dia tidak mengatakan pada siapapun tentang hal ini karena ia pun mengetahui hal ini tidak sengaja saat membaca pesan singkat di ponsel Seol Hyo.
Dae Sung memilih mengalah, alasan dia kembali adalah berusaha memenangkan hati Rae In, namun sayang dia terlambat satu langkah dibanding Kwon Ji Yong, mantan kekasih Rae In yang kini sudah kembali bersama.
Yang dihadapi Seol Hyo kali ini lebih menguras tenaga dibandingkan semua pertandingan basketnya ; cinta segitiga. Karena hati kecil Seol Hyo mulai goyah memilih antara Seung Hyun dan Tae Yang.
*
Disuatu malam ketika Seol Hyo sedang berjalan bersama Unnie-nya dan juga Ji Yong, dia tidak sengaja berpapasan dengan Seung Hyun, tapi Seol Hyo mengacuhkan karena dia ingin berjuang untuk hubungannya saat ini bersama Tae Yang.
Bukan Seung Hyun jika tidak berusaha.
“Pura-pura tidak kenal? Atau takut mereka melihat kita berbicara?”
“Menjauhlah, aku sedang tidak mood mengobrol.”
Seung Hyun masih menjaga jarak dengan Seol Hyo sekaligus mengawasi Rae In agar jangan sampai melihat dirinya bersama Seol Hyo malam ini.
“Hey, jangan seperti itu. Rasanya aku masih bisa diberi satu kesempatan darimu.”
Seol Hyo menggeleng, dia berusaha memikirkan Tae Yang saja malam ini.
“Ayolah, satu kali saja. Aku tahu kamu sudah  bersama orang itu sekarang, bukan berarti aku tidak bisa merebutmu darinya kan?”
Seol Hyo memandang orang ini dengan malas, lalu berjalan menjauh. Tidak disangka Seol Hyo bertemu Dae Sung di dekat sana.
“Seol Hyo-ah? Sedang bersama siapa disini? Apa Park Rae In ada disini?” Dae Sung sama seperti Seung Hyun, masih mengharap Rae In padahal sudah ada Ji Yong disisi Rae In.
Belum sempat Seol Hyo menjawabnya, Seung Hyun mendahuluinya.
“Ah, dia bersamaku malam ini. Rae In tidak bersamanya.”
Dae Sung kebingungan melihat sosok yang tinggi dan tampan dengan tatapan mata yang tajam itu. “Siapa kamu? Bersama Seol Hyo malam-malam begini? Kawan Tae Yang kah?”
“Aku tidak mengenalnya, bisa tolong antarkan aku ke rumah Tae Yang Oppa? Aku ingin bertemu dengannya.” Seol Hyo menunggu Dae Sung berpamitan dengan Seung Hyun.
Dae Sung akhirnya mengantarkan Seol Hyo ke rumah kekasihnya, sejujurnya dia tidak bisa sepenuhnya mengabaikan Seung Hyun yang setelah 2 tahun menghilang kemudian kini muncul tidak di undang dalam situasi rumit seperti ini.
*
Seol Hyo yang sudah ditinggalkan oleh Dae Sung itu melihat keadaan yang tidak sepantasnya terjadi.
Entah menggunakan pesawat jet atau kendaraan yang lainnya, Seung Hyun rupanya sudah membuat Tae Yang amat marah dan jengkel. Karena tidak mungkin Tae Yang asal memukul orang yang tidak bersalah dengan begitu amat keras.
Malam ini tak lagi menjadi dingin, suasana sekitar mereka menjadi panas.
Darah segar mengalir di ujung bibir Seung Hyun, tangan yang mengepal itu nampak memerah. Seol Hyo menutup mulutnya, dia terkejut melihat perkelahian barusan.
3 menit kemudian Tae Yang baru menyadari jika kekasihnya melihat ia memukul mantan kekasih Seol Hyo, Seung Hyun.
“Seol Hyo..?”

 to be continue . . .

Selasa, 24 Mei 2011

FF [request by dinar] -3-

Akhirnya Dae Sung mengantarkan Seol Hyo sampai rumah, namun pikiran Seol Hyo masih menerawang pada sosok berjaket tebal yang berada di tribun sore tadi. Seung Ri yakin dia sangat yakin mengenali sosok itu. Tapi Seung Ri tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Seol Hyo.
“Terima kasih kalian sudah mengantarkan aku sampai rumah. Tapi sepertinya Unnie belum kembali...aku tidak mempunyai kunci cadangan.”
“Hmm kalau begitu kita tunggu saja diteras, kami akan menemanimu sampai Rae In datang.” Ucap Dae Sung sambil melemparkan senyum malaikatnya.
Seol Hyo merasa tidak enak hati karena hampir seluruh sore milik Dae Sung ia habiskan untuk dirinya saja, “ah, aku tidak apa-apa kalian tinggal seorang diri. Mungkin sebentar lagi Unnie pulang. Dae Oppa, lebih baik beristirahat saja kan baru satu hari masa sudah capek gara-gara aku?”
Seung Ri memandang Seol Hyo tidak biasa, itu sebuah isyarat.
“Hahahaha...” tawa khas Dae Sung, “tidak masalah, aku kan sudah lama tidak melihat Rae In!”
Dae Sung begitu saja duduk bersila menunggu Park Rae In, ini sudah pukul 9 malam ia tak kunjung pulang juga, membuatnya khawatir.
Seol Hyo sempat tertidur setengah jam menunggu Unnie-nya kembali dari kampus, lalu 15 menit kemudian Rae In kembali dengan ekpresi yang tidak biasa.
“Dae Sung? Kalian? Sedang apa disini?”
“Rae In?” Dae Sung mendekat, ingin memeluk namun urung. Ada yang pulang bersama Rae In, mantan kekasihnya semasa SMA, Kwon Ji Yong.
“Ji Yong?” Dae Sung sama terkejutnya dengan Ji Yong. “...ah lama tidak berjumpa denganmu.”
*
“Jadi, begitu?” Seung Ri dan Seol Hyo sedang mengobrol di teras belakang menjauh dari yang lainnya.
“Aku juga tidak menyangka kali ini membantu mereka lagi, dan ternyata Unnie sudah ngga marah lagi sama Ji Yong Oppa.”
Kripik satu toples mereka bagi berdua, “Aku malah tidak tahu sama sekali jika Ji Yong yang meminta ini semua.”
“Maksudmu?”
“Aku kira yang mau menyatakan perasaan pada Rae In itu Seung Hyun.”
“Seung Hyun yang pernah jadi legend perbasketan itu???” Seol Hyo sempat menjadi fans dari Oppa tinggi yang satu ini.
“Ekspresimu berlebihan!”
“Jadi,....sebenarnya,...” Seol Hyo masih bingung.
Seung Ri menghabiskan makanan dalam toples jumbo itu.
“Yang sebenarnya mau berpacaran dengan Unnie-ku itu siapa? Ji Yong oppa atau Seung Hyun Oppa?”
“Ji Yong, aku baru saja tanya Seung Hyun. Bukan dia, hanya saja dulu yang mengenalkan Rae In dengan Ji Yong itu Seung Hyun.”
Disela-sela percakapan mereka, ponsel Seol Hyo berbunyi. Tae Yang mengiriminya sebuah SMS.
Selamat malam, apakah besok ada waktu luang? Oppa ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar saja. Kuharap kamu bisa.
Bak orang kesurupan, tanpa mengatakan pada siapapun Seol Hyo mengucapkan kata “I will, I will, I will Beibeh!!!!!!” yang menarik perhatian semuanya. Lalu dia berlalu ke kamarnya, entahlah mungkin melanjutkan itu dengan mimpi indahnya.
*
Dae Sung dan Seung Ri sudah pulang 10 menit yang lalu, Rae In sudah masuk ke dalam kamarnya, Ji Yong sudah tertidur ditempat Seung Hyun karena saking senangnya. Tapi tidak seperti itu, Seung Hyun belum bisa tidur senyenyak sahabatnya.
Pukul 4 subuh, Seung Hyun masih mendengarkan lagu klasik untuk menenangkan batinnya. Ji Yong terbangun, mendengar suara musik itu.
“Hey boy, apa  yang kamu lakukan subuh begini? Tidurlah, Seol Hyo bisa kamu temui siang atau sore nanti.”
“Aku tidak bisa menunggu lagi.”
“Maksudmu? Kamu masih mengejarnya? Buat apa dia tidak pernah menyukaimu, dia hanya kagum padamu.”
“Aku akan mengubah rasa kagum itu menjadi rasa cinta.”
*

to be continue . . .