Tampilkan postingan dengan label btob. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label btob. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 April 2015
Senin, 14 Oktober 2013
Prince(ss) & Clown [FF-oneshot]
Tittle :
Prince(ss) & Clown
Cast :
Ravi (VIXX) – Sungjae (BTOB) – Shin Moni (OC)
Rated :
16+
Genre :
lover
Theme
song : ~ah whatever~
Author :
Ravla
(i know
it’s seems bored....)
-------------------------------------
“Ketika Ravi menjadi penerus tahta
sebuah kerajaan........”
Pemuda 184 cm itu sibuk membawa
jajanan ringan untuk kawan yang baru ia kenal 3 bulan yang lalu, “Ya~ Ya~ apa
yang sedang kau baca....itu bukan bacaan untuk orang sepertimu!” Ravi merebut
selembar kertas milik istana yang tidak sengaja di letakkan di dekat telepon
rumah. “Tidak seharusnya ini disini...” lalu Ravi memindahkan kertas itu ke
tempat yang tidak bisa di jangkau temannya.
“A...~ aku tidak bisa mengambilnya
jika kau meletakkan itu disana.....biarkan aku membaca itu Ravi-ya!”
“No. No.” Ucap Ravi sambil
menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Lebih baik kita menonton TV
saja dan menghabiskan semua makanan ini.”
Moni menggeleng, “Tidak mau, aku
sedang tidak ingin makan apa-apa. Lagi pula, ada apa kau memintaku datang ke
sini? Aku kira ada hal penting yang ingin dibicarakan?” tanya Moni yang
kemudian duduk rapat di sebelah Ravi.
Sentuhan kulit Moni membuat Ravi
sedikit terhentak, “Eung~? Oh..itu,....em, aku ingin pergi, tapi tidak ada yang
bisa ku ajak. Jadi, ku pikir, kau bisa. Pameran seni di taman wisata kota. Tahu
kan?”
Moni mengangguk, “Yap, aku
tahu...tapi aku tidak berpikir ingin pergi kesana...aku juga tidak tahu kapan
bisa kesana. Kau tahu kan, aku sedang repot mengurus panti asuhan? Bahkan
setelah ini aku harus menginap disana.”
Ravi mengangguk, “Tidak masalah kok.
Tapi aku ingin sekali kesana. Bagaimana...?” ia berakting sok imut agar Moni
mau pergi bersamanya.
“Oh, iya~! Kau kan pernah bercerita
jika kau mempunyai teman baik, ajak dia saja bagaimana? Bukankah, hubunganmu
dengan dia sudah lama sekali? Kalian pasti lebih akrab jika pergi ke sana
bersama.
“Hanmira maksudmu? Tentu saja dia
sudah beberapa kali datang kesana bersama kekasihnya, aku tidak mau terlalu
sering bertemu dengan kekasih Hanmi....aku dulu pernah memiliki konflik dengan
mereka...ah sudahlah!” Ravi kemudian teringat kejadian 3 tahun yang lalu,
setiap kali ia mengingat kejadian itu, ia merasa sangat bersalah.
“Jinjjaro? Aku kira orang sepertimu
tidak bisa bertengkar dengan orang lain!” ledek Moni yang belum pernah melihat
Ravi benar-benar marah terhadap orang lain. “Baiklah, Kim Ravi! Aku akan
menemanimu, jangan lagi kau tunjukkan wajah sok imut itu....tidakkah kau tahu,
wajah itu tidak cocok untukmu!”
“Hore! Benarkah? Kau tidak akan
berbohong padaku?” pandangan itu seolah menyiratkan sebuah trauma. Masa lalu
Kim Ravi tidaklah indah walaupun ia terlahir dengan predikat Prince atau
Pangeran.
“Tapi tidak bisa hari ini, bagaimana
jika....lusa?” tanya Moni yang kemudian pertanyaan di sambut dengan sebuah
pelukan hangat dari Ravi.
*****
Langkahnya begitu pasti, menuju
suatu tempat yang ramai dan semua perhatian akan tertuju padanya. Benar saja,
dari kejauhan, dia sudah tampak begitu sangat mencolok.
“Eomma~ aku mau lihat itu!” teriakan
seorang anak kecil membuatnya semakin bersemangat. Senyumnya merah merekah bak
buah strawberry yang manis.
Mulanya ia memakai sepatu yang
kebesaran, lalu tanpa ia sadar ternyata sepatu itu tertukar. Ia menukarnya
kemudian bajunya tersangkut di celananya yang memiliki sedikit hiasan berbentuk
duri-duri di sisi kiri pahanya. Setelah memperbaiki itu, ia menuangkan segelas
air, namun karena ia begitu fokus dengan gulali yang di bawa salah satu anak
kecil, air itu menjadi meluber kemana-mana. Tapi hal itu menjadi tak masalah,
ia meminumnya namun lagi-lagi air yang sudah di dalam mulut itu menetes akibat
melihat seorang gadis cantik berjalan di depannya.
“Eomma, airnya kemana-mana...” ucap
anak kecil itu lagi dengan tanpa sengaja menjatuhkan gulalinya dan kemudian
menangis keras.
Ia menghampiri dan mengambilkan
gulali yang masih belum kotor itu, ia membersihkan dengan tisu basah dan
mengembalikan gulali itu kemudian memberikan balon gas yang ia bawa di
sepedanya. “Aku mau yang merah...” ucap bocah itu dan kemudian dengan senang
hati ia memberikan balon yang berwarna merah.
“Terima kasih Om Badut.....” ucap
anak kecil itu dan kemudian pergi.
Hidung merah besar, wajah yang putih
dengan hiasan hitam vertikal di kedua matanya, goresan serupa lipstik merah
yang tergambar lebar dari pipi kiri ke pipi kanan, dan tentunya rambut kribo
berwarna pelangi dan kostum ‘gendut’ menyerupai Santa Klaus. Tanpa letih ia
terus bergerak tanpa berkata-kata banyak, atraksinya cukup menghibur pengunjung
disana, terutama anak-anak. Dan ia juga memberikan balon secara gratis.
*
Setiap hari, badut itu selalu
menghibur antara jam 4 sore sampai 6 sore. Datang dan pergi, ia selalu nampak
seperti itu, hanya kadang kala ia mengganti jenis pakaiannya dan leluconnya.
Karena jika penonton setia pasti akan hapal dengan lawakannya.
Ia dalam perjalan pulang menuju
sebuah rumah yang sederhana. Disana ia tinggal seorang diri, ia melarikan diri
dari rumah demi membuktikan kepada keluarganya jika ia bisa hidup tanpa menjadi
parasit di keluarga itu. Ayah dan Ibunya, juga seorang kakak perempuan bukan
sebuah jaminan akan membentuk sebuah keluarga yang harmonis karena mereka semua
sebenarnya adalah Paman dan juga Bibi dengan seorang anak perempuan yang 5
tahun lebih tua darinya. Fakta itu baru ia ketahui kurang dari 3 bulan yang
lalu jika ia adalah anak asuh mereka. Namun, sesungguhnya ini adalah sebuah
kesalahpahaman saja.
‘BUKK!’ seseorang yang terlihat
sedang terburu menabraknya dan membuat stok balon gas yang tersisa berterbangan
ke angkasa senja itu.
“OH! Cwesonghamnida~ ah, balonnya...bagaimana?”
tanya seseorang dengan ransel yang cukup berat rupanya.
Ia hanya bisa tersenyum dan
menggeleng, menurutnya, selama dandanan badut belum terhapus dari wajahnya, ia
tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat identitasnya terbongkar.
“Huh? Oh, ini, aku tidak tahu berapa
harganya.....namun, ku rasa ini cukup...” orang itu memberikan sejumlah uang
kepada badut tersebut. “Kenapa? Sudah, tidak perlu kembalian, aku sedang
terburu-buru! Sekali lagi aku minta maaf ya...Tuan Badut!” orang itu berlalu,
namun badut ini tidak akan pernah melupakan wajah itu...
*****
Sore ini Moni datang untuk memenuhi
janjinya kepada Ravi, namun tanpa disangka ia menemukan seseorang asing yang
berkeliaran di dalam rumah Ravi.
“Nuguseyo.....?” tanya Moni sambil
melirik ke arah kaki orang tersebut, `Bahkan
kakiku kalah jenjang dari kakinya.....’
Senin, 07 Oktober 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Jung's Story [FF-oneshot]
Tittle : JUNG’s Story
Cast :
Jung Taek Woon [Leo VIXX] – Jung
Ilhoon [BTOB] – Jung Ema [OC] – Jung Hana [OC]
Genre : Romance
Rated : 12+
Theme song : B1A4’s songs
Author : Ravla [@RavlaLavender]
----------------------------
‘TOK TOK TOK’
Di tengah pembicaraan yang lumayan serius itu, sebuah kunjungan mendadak di
lakukan Ilhoon ke rumah Ema.
Taekwoon melirik tajam ke arah pintu, ia hendak membukanya namun Ema
menghalanginya. “Jangan, biar aku saja.”
Ema beranjak dari sofa dan membuka pintu, ia menemukan raut khawatir itu
begitu kental di wajah Ilhoon. “A~,
Ilhoon-ya~ ada apa? Emm, apakah sesuatu telah terjadi?”
Ilhoon mengangguk dan berbicara pelan, “Hana menghilang...tolong bantu aku
mencarinya!” pinta Ilhoon sambil mengguncang kedua tangan Ema.
“Sudah ku katakan, tetaplah dirumah.” Sahut sebuah suara kemudian.
Ema menoleh ke belakang, ia melihat raut wajah Taekwoon yang sedikit tampak
diliputi kegelisahan. Ema merasa bingung, hati kecilnya menyuruhnya untuk
menolong Ilhoon, karena bagaimanapun Hana adalah sahabat baiknya. Namun ia juga
ingin bersama Taekwoon, lelaki itu adalah kekasihnya.
Ema memandang Ilhoon, dia sudah memutuskan sesuatu. “Baik, aku akan
membantumu mencari Hana!” kemudian ia hanya mengucapkan, “Mianhae.” Kepada Taekwoon. Tidak banyak yang bisa di lakukan
Taekwoon, ia hanya bisa menunggu Ema dirumah. Pemuda itu tidak bisa pintar
mengekspresikan sesuatu.
“Kaja!” seru Ema kemudian pergi
bersama Ilhoon menuju suatu tempat untuk mencari Hana. Ini kali kelima Hana
menghilang secara misterius.
Jung Ema...mengapa kau lakukan ini
padaku?? Batin Taekwoon
ketika ia melihat gadis yang ia cintai itu pergi.
*
Mereka berlari menembus rintik-rintik hujan di malam yang cukup dingin,
demi menemukan adik kesayangan Jung Ilhoon.
“Kau sudah mencoba menghubunginya kan?” tanya Ema yang sibuk berlari sambil
memencet nomor ponsel Hana, namun sepertinya itu tidak membuahkan hasil apapun.
“Sudah, aku tidak tahu kapan ia menghilang, ketika aku ingin memanggilnya
untuk makan malam, ia sudah tidak ada.”
Ema memandang lelaki yang dua tahun lebih muda darinya, Ia masih tidak berubah... kenapa aku bisa
melakukan hal itu? Betapa bodohnya aku. “Perpustakaan sekolah? Kau sudah
kesana?”
Ilhoon mengangguk sambil mengatur nafasnya, “Sudah! Dia tidak ada disana!
Apa kau tahu tempat kesukaannya selain perpustakaan, cafe dan toko buku? Aku
khawatir tidak bisa menemukannya kali ini!”
“Haissh!” Ema memukul ringan
lengan Ilhoon, “Apa yang kau bicarakan! Kita pasti akan menemukannya!” pasti, aku akan menemukannya untukmu...
Sabtu, 29 Juni 2013
POISON [FF-oneshot]
Tittle : POISON
Cast : Lee Hongbin [VIXX] – Jung Il
Hoon [BTOB] – Jung Hana [OC]
Genre : Scifi Fantasy / Siblings / Friendship / Lover
Rated : 16+
Theme song : Monni band
Author : Ravla
------------------------------------
POISON
“Oh Oppa! Ambil yang itu, yang
itu juga!” teriak remaja yang mulai beranjak dewasa tersebut.
Ilhoon memetik dua tanaman yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, sampai
ia mendengar teriakan adiknya yang lumayan kencang. “KYAA!”
“Hana!” Ilhoon buru-buru melihat adiknya yang rupanya jatuh terjerembab ke
dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Sepertinya seseorang membuatnya untuk
menjebak rusa.
“Oppa, tolong aku...” ucapnya
sambil mencoba berdiri untuk meraih sebuah akar tanaman, namun sepertinya kaki Hana
terkilir. “Auw~ kakiku...sakit!”
Ilhoon tampak mulai panik, “Tunggu disitu~! Aku akan mencari bantuan!” ia
meninggalkan semua keranjang yang berisi tanaman obat dan berlari menuju desa
untuk memanggil beberapa orang dewasa.
Sepeninggal Ilhoon, hutan terkesan begitu senyap dan Hana tidak bisa
melihat apa pun disekitarnya karena lubang itu lumayan dalam, sekitar 3-4 meter
dan diameternya tidak begitu besar. “Oppa!” panggilnya mulai khawatir dan
tidak ada jawaban apapun dari atas sana. Ia melihat sekeliling, hanya akar
tanaman yang begitu lebat dan juga tercium aroma aneh dari lubang tersebut.
Awalnya ia merasa baik-baik saja, namun lambat laun ia merasa tidak enak badan
dan mulai lemas. “Ah aku kenapa...” gumamnya antara sadar dan tidak.
‘SRAK..SRAK...SRAK...’
“Oppa!” teriaknya mencoba sekeras
mungkin, namun ia tidak mendengar jawaban dari Ilhoon.
Sesaat sebelum Hana hilang kesadaran, ia melihat seseorang, pria, melongok
dari atas sana, kemudian ia tidak bisa menahannya lebih lama. Hana pingsan di
bawah sana.
***
Hana merasakan tubuhnya begitu sejuk, ia merasa ada yang memijit tubuhnya.
Perlahan ia membuka mata dan pertama kalinya ia merasakan nafasnya yang begitu
tenang dan nyaman.
“Eung~.....”
“Oh? Ilhoon-a! Adikmu sudah
sadar!” teriak seseorang yang memijiti lengan Hana. “Dia sudah siuman!”
Ilhoon meninggalkan kerjaannya di dapur dan langsung menghampiri Hana dan
memeriksa keadaan adik semata wayangnya itu. “Hana, Hanaa~...Hana!” ucapnya
sehingga membuat Hana meliriknya, namun sepertinya gadis 16 tahun tersebut
masih ling lung.
“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” tanya orang-orang yang
sudah mengerumuninya.
“Oppa....” panggilnya lemah dan
kemudian ia merasakan tangan hangat membelai wajahnya.
“Iya, iya aku disini...maaf meninggalkanmu waktu itu...” ucap Ilhoon begitu
menyesal. “Apa yang terjadi sampai kau pingsan di dalam sana? Adakah orang lain
disana selain dirimu?” tanya Ilhoon memastikan. “Jawab aku Hana!”
“Sudah...sudah jangan seperti itu! Dia baru saja sadar Ilhoon-a!” tegur sang Ibu mencoba menenangkan
anak sulungnya itu. “Hana...” tangan perempuan itu memeriksa suhu tubuh anak
gadisnya, semua tampak normal.
“Aku...melihat....” gumam Hana pelan, namun hanya Ilhoon yang mendengarnya. Dan kembali memaksa adiknya
untuk berbicara banyak.
“Melihat siapa? Siapa?!”
Hana menatap kakaknya lemah, ia merasa amat lelah...bahkan ia tidak tahu
berapa hari ia tak sadarkan diri.
*
Ilhoon tampak begitu khawatir, wajahnya menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang begitu
misterius.
“Jangan biarkan anak kecil memasuki hutan
itu lagi, cukup Hana yang terakhir atau dia akan lebih ganas dari yang
sebelumnya...”
“Tapi kan kita tidak tahu apa itu? Apa
tidak sebaiknya kita menyeledikinya dan memusnahkannya? Itu akan jauh lebih
baik!”
“Apa kau mau mati?! Tidak akan ada orang
yang selamat jika tertangkap olehnya! Tidak ingatkah kau dengan kejadian 20
tahun yang lalu! Dan kini generasi baru pasti lebih kuat dari masa itu!”
Samar-samar Ilhoon mendengar percakapan beberapa orang desa tersebut
membicarakan tentang sesuatu yang bersembunyi di hutan lebat itu. Ia bahkan
berniat untuk membawa makhluk itu ke desa dan mempertontonkannya di depan
khalayak umum. Namun ia tidak bisa melakukan hal senekat itu, cukup sekali itu
saja. Ia berjanji pada dirinya sendiri.
“Oppa...aku..takut...” ujar Hana
kemudian yang merasa tubuhnya sudah enakan. “Aku waktu itu tidak...entahlah aku
sendiri tidak mengerti apa yang tengah terjadi...” Hana menggelengkan
kepalanya, ia tidak ingat persis apa yang ia lihat sesaat sebelum pingsan.
Ilhoon meremas bahu adiknya, ia gemas kenapa Hana tidak langsung berterus
terang di depan orang-orang itu. “Kenapa kau tidak mengatakannya kepada kami
semua? Kenapa kau hanya mengatakan hal ini padaku?”
Hana menatap Ilhoon dalam, ia mengerti Ilhoon begitu mengkhawatirkan
dirinya, namun ia tidak ingin membuat kehidupan di dalam hutan itu rusak. “Oppa...apa itu? Apa dia manusia? Aku
melihatnya sesaat sebelum aku benar-benar pingsan, hanya siluet hitam...seorang
laki-laki...apa itu, beritahu aku tentang kisah itu Oppa..”
Ilhoon menelan ludah, ia merasa Hana tidak perlu mengetahui kisah buruk
itu. Namun jika ia tidak memberitahunya, gadis itu akan masuk dan mencari tahu
lebih dalam ke hutan itu. “Ah, itu hanya cerita kacangan, tidak benar-benar
ada!” sangkalnya.
“Oppa, jangan berbohong
padaku...ceritakanlah!” Hana menarik baju Ilhoon, ia benar-benar ingin tahu
tentang kisah itu.
Rabu, 26 Juni 2013
Little White Lie [FF-oneshot]
Tittle : Little White Lie
Cast : Lee Changsub [BTOB] – Park Rae In
[OC] – Jang Dayoung [OC] – Han Sang Hyuk [VIXX] as Park Byung Jae
Genre : Siblings / Love / Angst
Theme song : any kpop songs you want hear
Rated : 15+
Author : Ravla
------------------------------------
......
“Aku kira kita bisa menjalani semua ini
dengan baik, namun ternyata aku salah. Tapi aku tidak akan mengalah, karena
sekarang kita adalah rival.”
Ucap gadis dengan penampilan yang feminin
dan melenggang seperi model profesional, namanya Jang Dayoung. Dia adalah
primadona di kampusnya, bagaimana tidak. Jelas, ia melakukan bedah plastik dan
kini setelah ia menjadi jauh lebih cantik dengan wajah palsunya itu, ia merasa
‘tinggi’ dan selalu memandang rendah serta sebelah mata terhadap kawannya
sendiri, Park Raein.
***
Beberapa bulan yang lalu, sebelum semua ini terjadi semuanya baik-baik
saja. Baik Changsub maupun kedua gadis itu tidak pernah terlihat benar-benar
terperosok dalam suatu masalah. Sampai akhirnya mereka pergi untuk main biliar
dan Changsub mengatakan sesuatu hal yang membuat Dayoung sedikit kesal.
“Nuna, kapan kau akan kenalkan
aku dengan pacarmu? Kau bilang minggu lalu akan membawanya pada kami di minggu
ini..?”
Dayoung tampak bingung menjawab pertanyaan tersebut, “Ah~ itu....maaf ya,
sepertinya dia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya...maklum, pengacara.”
Raein meliriknya dengan tatapan ‘pembual’. Namun ia tetap diam, Raein bukan
tipe orang yang mudah untuk mengeluarkan kata-kata. Bahkan ia membungkam mulutnya
dengan masker. “Huk~!” hanya suara itu yang ia keluarkan untuk melemaskan
otot-otot tenggorokannya.
“Eung~..? Kau tidak apa-apa Raein?” tanya Dayoung mengalihkan perhatian.
“Sudah malam, sebaiknya kita bergegas ke tempat biliar, kaja!”
Changsub dan Raein menyusul Dayoung yang melangkah terlebih dahulu, mereka
tampak begitu akrab namun sebenarnya selama ini Changsub begitu susah
berkomunikasi dengan Raein karena memang gadis itu tidak ramai seperti Dayoung
yang cenderung mengomentari segala hal.
“Raein-a, benar kau tidak apa-apa? Kau selalu memakai masker, aku bahkan
tidak pernah melihat wajahmu tanpa masker..”
Raein mendongak untuk menoleh dan menatap sosok pria yang lebih tinggi
darinya itu, “Benarkah? Aku kira kamu sudah tahu.”
Changsub menghentikan langkahnya seketika. Ia merasa terkejut karena jarang
sekali dirinya mendapati Raein yang seperti itu.
“Raein-a...kau...kau...berbicara padaku? Ah~ ini seperti mimpi saja....” lalu
lelaki itu menggeleng keras untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Raein menoleh ke belakang, “Kau kira aku tuna wicara?” ucapnya sambil
menepuk pelan lengan Changsub. Sentuhan itu membuat Changsub sedikit melompat
ke belakang.
*
“YA~ sekarang giliranku lagi! Park Raein!” teriak Dayoung lumayan keras
sambil menggeser tubuh Raein menggunakan tubuhnya. Raein bahkan belum sempat
memukul bola.
‘TAK!’
“AH~ kenapa tidak masuk sih!” gumam kesal Dayoung pada bola berwarna merah
itu. “Sudahlah, aku bosan! Kalian lanjutkan saja berdua!” Dayoung melempar
begitu saja tongkat kayu di atas meja, kemudian Raein mengembalikan ke
tempatnya semula.
“Raein-a, giliranmu.” Ucap Changsub.
Raein mulai bersiap untuk menyodok bola di atas meja hijau itu, namun ia
tidak bisa menemukan posisi yang tepat untuk memasukkan bola itu ke lubang.
“Dari sini, begini...” tiba-tiba Changsub berdiri di belakangnya dan
membantu Raein mencari posisi.
‘TAK!’ bola hitam itu sempat mengenai bola yang lainnya namun akhirnya
Raein berhasil menghilangkan bola hitam tersebut.
“Bravo!!” teriak Changsub
kemudian menepuk-nepuk punggung Raein yang nampak biasa saja.
Sementara itu, di sudut sana sepasang mata tidak suka melihatnya. `Apa bagusnya dia..jika bukan karena dia
pintar dalam sastra, aku malas bergaul dengan orang aneh itu.`
“Raein-a, sudah hampir jam 12 malam...tidak pulang?” tanya Changsub
mengingatkan kawannya itu.
Raein menatap jam dinding yang ada diruangan itu, kemudian ia mengangguk
dan menyudahi semuanya. Mereka menghampiri Dayoung yang sedang asyik minum soda
dan kemudian Changsub mengatakan sesuatu.
“Nuna, itu tidak baik buat kesehatan! Jangan terlalu banyak minum minuman
bersoda, dan aku lihat sepertinya berat badanmu naik, yah? Haha...”
Raein melihat perubahan diwajah Dayoung, ia tampak tidak senang dengan
candaan Changsub barusan, kemudian seperti biasa perempuan itu berjalan
mendahului yang lain.
Setelah Changsub selesai membayar tagihan, mereka bergegas menyusul
Dayoung.
*
Aku pasti bisa membuat Changsub lebih
dekat denganku daripada dengannya.
“Terima kasih ya, kalian sudah menemani aku bermain biliar..kapan-kapan
kita bertemu lagi...sudah ya aku masuk ke dalam rumah. Bye..bye...” Dayoung
berjalan menuju rumahnya yang berada lebih tinggi dari rumah yang lainnya.
“Hhhh~.....” terdengar Raein menghela keras setelah perempuan yang lebih
tua 4 tahun darinya itu menghilang di balik tangga yang lumayan tinggi itu.
Changsub menatapnya, “Kenapa? Kau merasa tidak enak badan Raein-a?”
kemudian Changsub sedikit memijat pundak Raein namun gadis itu tidak
menginginkannya.
Raein berlalu dan Changsub mengantarnya pulang ke rumah yang lebih mirip
Dojo. Disanalah Raein tinggal bersama kedua orangtuanya dan juga seorang adik
laki-lakinya yang berusia 17 tahun.
“Sudah sampai, hmm~ apa kau senang bermain biliar tadi?” tanya Changsub
sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya.
Raein merebutnya, ia tidak suka melihat orang-orang disekitarnya merokok.
Dan kemudian ia menggeleng keras. Raein tidak suka basa-basi, ia akan
mengatakan apapun sesuai dengan apa yang ia rasakan.
“Oh, kalau begitu maaf ya...pasti ada yang membuatmu tidak nyaman, iya
kan?”
Raein menatap Changsub, “Besok, pagi-pagi datanglah lagi. Aku...aku ada
perlu denganmu.” Ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Changsub merasakan Raein tidak seperti biasanya, “Eh, kau membawa rokokku!”
teriaknya dari luar pintu, namun Raein sudah berlalu di dalam rumah.
*
Raein merasa lelah dan ia melepas maskernya, menyibak poni rambutnya dan
menggulung rambutnya rapi. Ia tampak lebih rapih dari pada tampilan
sehari-harinya, dan kemudian ia pergi ke halaman belakang rumahnya untuk
membakar sekotak rokok yang rupanya masih utuh itu.
“Nuna~!” panggil adik
laki-lakinya yang perlahan menghampirinya. “Kemana saja? Tadi aku sendirian
dirumah! Dan kau tidak dapat bagian
pizza yah! Appa dan Eomma tadi membelikannya untukku! Oh,
apa yang kau lakukan, Nuna? Ah,
itu....!”
“Kenapa kau berisik sekali, Byung-a! Diamlah, ini bukan milikku. Aku
menyitanya dari Changsub tadi. Aku tidak suka melihatnya menghisap benda ini.”
Byung menyipitkan mata, “Nuna,
kau menyukai Hyung itu ya? Padahal aku kira orang itu menyukai tipe gadis
seperti temanmu yang lagi satu itu...yang jalannya seperti model itu!”
Raein melemparkan kotak rokok itu dan mulai membakarnya, ia melamun melihat
api yang mulai membesar, menyambar lapisan luar kotak rokok, perlahan mulai
membakar tembakaunya, bau khasnya mulai tercium. “Sedang apa kau jam segini,
kenapa belum tidur? Anak kecil tidak boleh begadang!”
“YA~ Nuna....aku menunggumu! Aku
sudah tidur dari jam 8 tadi. Aku terbangun karena mendengarmu datang. Janganlah
sering pergi meninggalkan rumah, setidaknya Nuna
harus mengabari aku!”
Bahkan aku tidak menyadari jika Byung
sudah mulai beranjak dewasa saat ini..aku bukan Nuna yang baik...kurasa.
“Mian, Byung-a...lain kali aku
akan mengajakmu keluar bersama ya. Tapi kau jangan berisik ketika pergi
bersamaku. Oh iya, besok pagi-pagi tolong bangunlah lebih awal. Aku menyuruh
Changsub datang kerumah.”
“Ada apa? Ada apa?”
Raein sedikit tersenyum, “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengenalkannya
pada kalian.”
***
Keesokan harinya Byung bangun lebih awal dan menunggu kawan kakaknya itu di
depan pintu. Namun sudah jam 8 lewat tidak ada tanda-tanda dari orang itu.
“Mana...ini sudah siang..”
‘KLAK’
Pintu terbuka dan Eomma heran
mengapa anak bungsunya begitu tampak risau dan bangun lebih pagi darinya.
“Byung-a, sedang apa kau disini?”
“O~ Eomma, aku menunggu teman Nuna, katanya mau datang pagi ini..tapi
aku sudah menunggunya satu jam lebih tidak ada siapa pun yang datang.”
“Teman Raein? Teman? Atau kekasih?” tanya Appa kemudian yang sudah tampak tampan dengan setelan jasnya. Pria
berusia setengah abad itu merapikan sedikit dasinya. “Yeobo ppali~ ppali kita
akan terlambat!” ucapnya kemudian menuju ke mobilnya.
“Byung-a, jaga rumah ya, Eomma
dan Appa akan datang ke acara
pernikahan, dan tempatnya agak jauh. Jadi pulangnya mungkin sore hari.” Wanita
itu mengecup kening anak bungsunya.
“Ne, Eomma.” Kenapa mereka suka sekali pergi sih? Padahal aku kan ingin ikut juga.
*
Ia terjebak disana sudah satu setengah jam. Namun karena makanan yang
disajikan lezat, ia jadi melupakan janjinya dengan gadis bermasker itu.
“Changsub-a! Bagaimana rasa masakanku? Enak?”
Changsub mengangguk dan terus mengunyah apa yang ia makan, “Aku baru tahu, Nuna bisa memasak masakan selezat ini.
Lain waktu kita harus piknik, dan pasti Raein suka sekali dengan rasa
masakanmu!”
Dayoung kesal, ia tidak melanjutkan menuangkan susu di gelas Changsub.
“Hmm~ kalau boleh aku tahu, apa yang kau lakukan di sekitar rumahku?”
“AH~ aigooo~ Nuna ya~ aku sampai
lupa jika pagi ini sebenarnya aku di undang ke rumah Raein, tapi karena kau
memanggilku untuk mencicipi masakanmu, aku jadi tidak bisa beranjak dari sini!
Aku sungguh lapar!”
Dayoung kembali mendapatkan senyumnya, “Kalau begitu, sering-seringlah
datang ke sini! Aku suka jika kau...maksudnya, aku senang bisa berbagi jatah
makananku bersamamu!”
Changsub tersenyum karena senang ia mendapatkan sarapan gratis pagi ini,
tapi sebenarnya ia tidak yakin jika semua ini Dayoung yang membuatnya.
***
“Nuna, aku tidak suka melihat
wajahmu yang seperti itu!” Byung duduk di meja makan dan mengamati wajah Raein
yang sedikit kesal. “Mungkin lain waktu dia bisa menemui kita, jangan berburuk
sangka padanya!”
“Byung-a...aku biasa saja, jadi tolong kurangi intensitas protesmu. Tidak
lihat kah kau aku sedang sibuk? Jangan buat aku semakin bingung...atau kuas ini
akan mengotori wajahmu!”
Raein yang memiliki kemampuan melukis di atas rata-rata sering menjadikan
adiknya sebagai objek lukisannya, dan hasilnya selalu mengagumkan, ia tidak
pernah menceritakan pada siapa pun tentang keahliannya, karena ia tidak ingin
terlihat menonjol di antara mahasiswa di jurusan kesenian lainnya.
“Nuna, aku ingin ke kamar
kecil...apakah lukisanmu sudah selesai? Sudah satu jam aku menahannya....” ucap
Byung sambil mengeluarkan ekspresi yang lucu bagi Raein.
Raein tak dapat menahan tawanya, “Tunggu apalagi? Apa kau mau mengeluarkan
itu disini?” kemudian ia melihat adiknya lari terbirit-birit ke kamar mandi dan
ia melanjutkan lukisannya yang sebentar lagi selesai. “Selalu saja, berakhir di
atas kanvas. Hhhhh~...” eluhnya.
‘DOK, DOK, DOK’
“Raein-a~ apa kau di dalam? Ini aku, Changsub!”
Selasa, 25 Juni 2013
15th (Fifteenth) -2 [FF-cerbung]
Tittle: 15th (Fifteenth)
Cast : Lee Hongbin VIXX – Lee Changsub BTOB – Han Mira (oc) – Sandara Park 2NE1
Genre : Love / Scifi Fantasy
Rated : 13+
Theme Song : k-pop songs you want hear
Author : Ravla
—————————————————————-
[part 2]
[Dara’s POV]
Aku bisa membaca dengan jelas rasa penasaran itu di matanya, “Mau aku beritahu satu rahasia tidak? Ini menyangkut Hanmi..”
“Rahasia? Hey Noona, kenapa kamu percaya sekali padaku? …okelah apa itu?”
Aku mengelilingi tubuhnya, dia berbeda, tidak seperti manusia serigala kebanyakan. “Hanmi…Hanmi itu…..~”
Aku melihatmu Hongbin-a…kamu begitu peduli dengan Hanmi, namun aku perlu mengetesmu beberapa kali, karena aku tidak mau menyerahkan Hanmi ketangan orang yang salah.
“Noona, cepat katakan…”
Aku tidak bisa menahan tawaku, hanya Hongbin yang bisa membuatku senyaman ini. Nyaman? Iya, sepanjang hidup, aku belum pernah bertemu orang seperti Hongbin.
“Hanmi itu manusia biasa.”
“…………………..” Hongbin terlihat menunduk dan dia mengatakan dalam hatinya, ‘sial aku dikerjai oleh vampir ini. Jika saja dia tidak cantik aku sudah menggigitnya!’ “Oke Noona, terima kasih infonya.”
Hongbin melanjutkan berkebun, ia merasa kesal pasti. Tapi aku bersungguh-sungguh, akan membantu Hanmi memilih lelaki yang tepat untuknya. Berada di antara dua pilihan itu adalah pilihan yang amat sulit…aku sudah pernah mengalaminya, 290 tahun yang lalu.
***
[Changsub’s POV]
Aku tidak pernah membayangkan, bisa sarapan dengan seorang wanita…kemana saja diriku selama ini? Dan apa yang kulakukan semalam kepada Hanmi? Seandainya keberanian semalam terus melekat pada sisi manusiaku…
“Oppa! Hmm, setelah ini mau melakukan apa?”
“Hanmi…maaf ya soal yang semalam…” aku memberanikan diri untuk meminta maaf atas perlakuanku semalam kepada Hanmi, aku benar-benar tidak enak hati. “Aku tidak bisa mengendalikan diri setiap tanggal 15…”
“Ah~ itu….” aku melihatnya ikut menunduk, antara mau tersenyum dan tertawa, namun ia berusaha menyembunyikan ekspresi itu. “Tidak apa-apa, itu tidak sengaja kan? Aku mengerti, tapi aku begitu terkejut melihat Hongbin semalam…aku tidak tahu, agak susah mengungkapkannya melalui kata-kata.”
“Apakah perubahan Hongbin menakutkan bagimu? Bagaimana dengan wujudku semalam? Aku bahkan tidak bisa mengingat bagaimana wajahku ketika aku berubah…”
“Oppa, hmm…aku suka melihat perubahanmu semalam. Itu membuatmu begitu beda 180 derajat. Oppa terlihat sangat cocok dalam wujud sepert itu.”
Dia adalah orang yang pertama mengatakan hai itu padaku.
***
[Author’s POV]
Sudah hampir 4 bulan mereka tinggal bersama dan Hongbin merasa tidak kesepian lagi, semenjak ketiga orang itu datang dan meramaikan hidupnya, ia merasa harus berterima kasih kepada semuanya.
Setiap tanggal 15, Hongbin dan Changsub akan merubah wujudnya menjadi sosok setengah serigala dan kucing. Semakin lama hal ini di sukai oleh Hongbin, namun ada yang mengusiknya dan ia tidak memberitahukan pada siapapun tentang hal ini.
Bulan kedua saat ia berubah, ia merasa begitu kesakitan, namun ia menahannya dan tidak membiarkan Changsub juga Hanmi melihatnya. Ia menyembunyikan diri dalam kamar dan meraung kesakitan. Ia bercermin dan tidak ada yang aneh dengan wujudnya, hanya saja ia merasa begitu kedinginan seperti sedang berada di kutub utara, ia merasa begitu menggigil, namun ia merasakan suhu tubuhnya normal. Ia merasakan itu sampai matahari terbit, setelah semuanya usai, semuanya kembali normal.
Hal yang sama ia rasakan pada perubahan bulan ketiga. Sampai sekarang ia tidak tahu anomali apa yang ia alami, dan Hongbin tidak mau membuat yang lain khawatir tentang dirinya.
“Hongbin-a…!” panggil Hanmi dari lantai dua sambil melempar sebuah topi. “Apa yang kamu lakukan tengah hari seperti ini di taman?”
Hongbin mendengus, namun dalam hatinya ia merasa sedikit senang. Ia memungut topi itu kemudian memakainya. “Turunlah! Aku mau memanen buah semangka di ladang belakang rumah!”
“Jinjja? Ah tunggu! Aku ikut!” teriaknya begitu antusias. Hanmi meraih jaketnya dan juga topi pantainya, ia menyusul Hongbin namun karena tidak hati-hati ia menabrak Changsub yang sedang menuju ke arah dapur dan mereka jatuh terpeleset.
‘GUBRAK!!!’
“AH! Neomu appo~..” ucap Changsub sambil meraba wajahnya yang rupanya tergores ujung map plastik yang cukup tajam.
Dara yang mendengar teriakan Hanmi segera menghampiri dan membantu Hanmi berdiri. “Apa yang kamu lakukan sampai jatuh seperti itu?” nampak kekhawatiran yang berlebihan di wajah Dara.
“Oppa, pipimu berdarah…aduh bagaimana ini…nggg~” Hanmi segera mengambil kotak obat dan membersihkan darah yang ada di pipi Changsub, ia merasa bersalah karena menabrak Changsub sampai terjatuh. “Ottokaji~ ah….”
Sementara itu Hongbin kembali ke dalam rumah dan terkejut melihat dagu Hanmi berdarah, “Omo! Hanmi-a…dagumu berdarah!!” tanpa ba-bi-bu lagi Hongbin meraih tisu dan membersihkannya, sementara Dara mencoba membantu Changsub dengan lukanya.
“Hongbin-a..aku tidak apa-apa…”
“Mianhae, aku kurang waspada sampai menabrak Hanmira…!”
Hongbin hendak mengeluarkan amarahnya, namun sesaat sebelum itu terjadi Hanmi langsung menariknya ke arah ladang. Ia tidak mau melihat Changsub terlalu sering mengalami percek-cok-kan dengan Hongbin karena dirinya.
*
“Sudahlah…tadi aku yang kurang hati-hati, aku begitu bersemangat menemui…aku tidak lihat keadaan sekitar…jadi ku mohon jangan terlalu menekan Changsub Oppa lagi.” Seolah Hongbin malas mendengarnya, ia sibuk memilih semangka mana yang harus segera di panen.
Hanmi mengikuti Hongbin yang mengacuhkannya dari belakang, ia terus memandang Hongbin namun seolah Hongbin tidak menginginkan kehadirannya lagi di sini. Kemudian ia melempar keranjang kosong itu kemudian berlalu tanpa sepatah kata.
Melihat Hanmi bersikap seperti itu, Changsub mencoba menghampiri dan menenangkannya. “Hanmi-a..apa Hongbin mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?”
“Aniya…kami bahkan tidak berbicara tadi. Entahlah, Hongbin tampak begitu marah kepadaku…aku tidak mengerti…baru kali ini seperti ini.”
“Mianhae. Gara-gara aku kalian jadi bertengkar…”
“A~ Oppa~…kenapa berkata seperti itu…yang tadi kan memang kecelakaan dan tidak sengaja…jadi aneh sekali jika dia bersikap seperti itu kepadaku!”
‘GRASAKK’ terdengar bunyi yang lumayan keras ketika Hongbin kembali dengan membawa 3 semangka besar di keranjangnya. Ia meletakkan begitu saja di sofa dengan kasar, ini membuat Hanmi jengah dan mengejarnya sebelum Hongbin menghilang di ruang kerjanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
&clown.jpg)



