Tampilkan postingan dengan label 2ne1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2ne1. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 April 2020
Senin, 06 Februari 2017
Minggu, 28 Agustus 2016
Kamis, 07 Januari 2016
Sabtu, 11 April 2015
Kamis, 06 Maret 2014
Senin, 03 Maret 2014
Selasa, 21 Januari 2014
Selasa, 25 Juni 2013
15th (Fifteenth) -2 [FF-cerbung]
Tittle: 15th (Fifteenth)
Cast : Lee Hongbin VIXX – Lee Changsub BTOB – Han Mira (oc) – Sandara Park 2NE1
Genre : Love / Scifi Fantasy
Rated : 13+
Theme Song : k-pop songs you want hear
Author : Ravla
—————————————————————-
[part 2]
[Dara’s POV]
Aku bisa membaca dengan jelas rasa penasaran itu di matanya, “Mau aku beritahu satu rahasia tidak? Ini menyangkut Hanmi..”
“Rahasia? Hey Noona, kenapa kamu percaya sekali padaku? …okelah apa itu?”
Aku mengelilingi tubuhnya, dia berbeda, tidak seperti manusia serigala kebanyakan. “Hanmi…Hanmi itu…..~”
Aku melihatmu Hongbin-a…kamu begitu peduli dengan Hanmi, namun aku perlu mengetesmu beberapa kali, karena aku tidak mau menyerahkan Hanmi ketangan orang yang salah.
“Noona, cepat katakan…”
Aku tidak bisa menahan tawaku, hanya Hongbin yang bisa membuatku senyaman ini. Nyaman? Iya, sepanjang hidup, aku belum pernah bertemu orang seperti Hongbin.
“Hanmi itu manusia biasa.”
“…………………..” Hongbin terlihat menunduk dan dia mengatakan dalam hatinya, ‘sial aku dikerjai oleh vampir ini. Jika saja dia tidak cantik aku sudah menggigitnya!’ “Oke Noona, terima kasih infonya.”
Hongbin melanjutkan berkebun, ia merasa kesal pasti. Tapi aku bersungguh-sungguh, akan membantu Hanmi memilih lelaki yang tepat untuknya. Berada di antara dua pilihan itu adalah pilihan yang amat sulit…aku sudah pernah mengalaminya, 290 tahun yang lalu.
***
[Changsub’s POV]
Aku tidak pernah membayangkan, bisa sarapan dengan seorang wanita…kemana saja diriku selama ini? Dan apa yang kulakukan semalam kepada Hanmi? Seandainya keberanian semalam terus melekat pada sisi manusiaku…
“Oppa! Hmm, setelah ini mau melakukan apa?”
“Hanmi…maaf ya soal yang semalam…” aku memberanikan diri untuk meminta maaf atas perlakuanku semalam kepada Hanmi, aku benar-benar tidak enak hati. “Aku tidak bisa mengendalikan diri setiap tanggal 15…”
“Ah~ itu….” aku melihatnya ikut menunduk, antara mau tersenyum dan tertawa, namun ia berusaha menyembunyikan ekspresi itu. “Tidak apa-apa, itu tidak sengaja kan? Aku mengerti, tapi aku begitu terkejut melihat Hongbin semalam…aku tidak tahu, agak susah mengungkapkannya melalui kata-kata.”
“Apakah perubahan Hongbin menakutkan bagimu? Bagaimana dengan wujudku semalam? Aku bahkan tidak bisa mengingat bagaimana wajahku ketika aku berubah…”
“Oppa, hmm…aku suka melihat perubahanmu semalam. Itu membuatmu begitu beda 180 derajat. Oppa terlihat sangat cocok dalam wujud sepert itu.”
Dia adalah orang yang pertama mengatakan hai itu padaku.
***
[Author’s POV]
Sudah hampir 4 bulan mereka tinggal bersama dan Hongbin merasa tidak kesepian lagi, semenjak ketiga orang itu datang dan meramaikan hidupnya, ia merasa harus berterima kasih kepada semuanya.
Setiap tanggal 15, Hongbin dan Changsub akan merubah wujudnya menjadi sosok setengah serigala dan kucing. Semakin lama hal ini di sukai oleh Hongbin, namun ada yang mengusiknya dan ia tidak memberitahukan pada siapapun tentang hal ini.
Bulan kedua saat ia berubah, ia merasa begitu kesakitan, namun ia menahannya dan tidak membiarkan Changsub juga Hanmi melihatnya. Ia menyembunyikan diri dalam kamar dan meraung kesakitan. Ia bercermin dan tidak ada yang aneh dengan wujudnya, hanya saja ia merasa begitu kedinginan seperti sedang berada di kutub utara, ia merasa begitu menggigil, namun ia merasakan suhu tubuhnya normal. Ia merasakan itu sampai matahari terbit, setelah semuanya usai, semuanya kembali normal.
Hal yang sama ia rasakan pada perubahan bulan ketiga. Sampai sekarang ia tidak tahu anomali apa yang ia alami, dan Hongbin tidak mau membuat yang lain khawatir tentang dirinya.
“Hongbin-a…!” panggil Hanmi dari lantai dua sambil melempar sebuah topi. “Apa yang kamu lakukan tengah hari seperti ini di taman?”
Hongbin mendengus, namun dalam hatinya ia merasa sedikit senang. Ia memungut topi itu kemudian memakainya. “Turunlah! Aku mau memanen buah semangka di ladang belakang rumah!”
“Jinjja? Ah tunggu! Aku ikut!” teriaknya begitu antusias. Hanmi meraih jaketnya dan juga topi pantainya, ia menyusul Hongbin namun karena tidak hati-hati ia menabrak Changsub yang sedang menuju ke arah dapur dan mereka jatuh terpeleset.
‘GUBRAK!!!’
“AH! Neomu appo~..” ucap Changsub sambil meraba wajahnya yang rupanya tergores ujung map plastik yang cukup tajam.
Dara yang mendengar teriakan Hanmi segera menghampiri dan membantu Hanmi berdiri. “Apa yang kamu lakukan sampai jatuh seperti itu?” nampak kekhawatiran yang berlebihan di wajah Dara.
“Oppa, pipimu berdarah…aduh bagaimana ini…nggg~” Hanmi segera mengambil kotak obat dan membersihkan darah yang ada di pipi Changsub, ia merasa bersalah karena menabrak Changsub sampai terjatuh. “Ottokaji~ ah….”
Sementara itu Hongbin kembali ke dalam rumah dan terkejut melihat dagu Hanmi berdarah, “Omo! Hanmi-a…dagumu berdarah!!” tanpa ba-bi-bu lagi Hongbin meraih tisu dan membersihkannya, sementara Dara mencoba membantu Changsub dengan lukanya.
“Hongbin-a..aku tidak apa-apa…”
“Mianhae, aku kurang waspada sampai menabrak Hanmira…!”
Hongbin hendak mengeluarkan amarahnya, namun sesaat sebelum itu terjadi Hanmi langsung menariknya ke arah ladang. Ia tidak mau melihat Changsub terlalu sering mengalami percek-cok-kan dengan Hongbin karena dirinya.
*
“Sudahlah…tadi aku yang kurang hati-hati, aku begitu bersemangat menemui…aku tidak lihat keadaan sekitar…jadi ku mohon jangan terlalu menekan Changsub Oppa lagi.” Seolah Hongbin malas mendengarnya, ia sibuk memilih semangka mana yang harus segera di panen.
Hanmi mengikuti Hongbin yang mengacuhkannya dari belakang, ia terus memandang Hongbin namun seolah Hongbin tidak menginginkan kehadirannya lagi di sini. Kemudian ia melempar keranjang kosong itu kemudian berlalu tanpa sepatah kata.
Melihat Hanmi bersikap seperti itu, Changsub mencoba menghampiri dan menenangkannya. “Hanmi-a..apa Hongbin mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?”
“Aniya…kami bahkan tidak berbicara tadi. Entahlah, Hongbin tampak begitu marah kepadaku…aku tidak mengerti…baru kali ini seperti ini.”
“Mianhae. Gara-gara aku kalian jadi bertengkar…”
“A~ Oppa~…kenapa berkata seperti itu…yang tadi kan memang kecelakaan dan tidak sengaja…jadi aneh sekali jika dia bersikap seperti itu kepadaku!”
‘GRASAKK’ terdengar bunyi yang lumayan keras ketika Hongbin kembali dengan membawa 3 semangka besar di keranjangnya. Ia meletakkan begitu saja di sofa dengan kasar, ini membuat Hanmi jengah dan mengejarnya sebelum Hongbin menghilang di ruang kerjanya.
15th (Fifteenth) -1 [FF-cerbung]
Tittle: 15th (Fifteenth)
Cast : Lee Hongbin [VIXX] – Lee Changsub [BTOB] – Han Mira (oc) – Sandara Park [2NE1]
Genre : Romance / Scifi Fantasy
Rated : 13+
Theme Song : k-pop songs you want hear
Author : Ravla
—————————————————————-
[Author’s POV]
Kita pasti pernah mendengar kisah seseorang yang bisa berkomunikasi dengan makhluk hidup selain manusia, bukan? Iya, hal ini terjadi pada seorang laki-laki 20 tahun. Ia mengetahui ada yang aneh pada dirinya semenjak ia berusia 14 tahun. Kala itu Hongbin menolong seekor tikus yang terjepit di sebuah pipa pembuangan dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat dan mendengar tikus itu mengucapkan terima kasih kepadanya. Semenjak hari itu, ia mengasingkan diri dan tinggal disebuah rumah besar di kaki gunung.
Pemuda itu mulai terkenal di kalangan binatang dan manusia setengah siluman. Begitu banyak yang mendatanginya ke rumah itu, dan meminta pengobatan padanya. Hongbin adalah seorang yang mempunyai pengetahuan lebih mengenai obat-obatan. Kakeknya dulu adalah seorang tabib dan sepertinya kini Hongbin yang akan melanjutkan hal itu.
Bagaimana pun Hongbin adalah manusia biasa yang membutuhkan kawan dan teman di dalam hidupnya, suatu ketika ia berfikir akan menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Maka setiap kali ada pasien yang datang kerumahnya, ia berusaha mempromosikannya dan tidak lama setelah hal itu ia lakukan, dua orang datang mengunjungi rumahnya….
***
[Han Mira’s POV]
“Oh, eonni ya~ rumah ini besar sekali…benarkah kita akan menyewa salah satu kamar di sini?” sudah lama aku tidak bertemu dengan orang baru…semoga pemilik rumah ini ramah denganku juga Dara Eonni.
“Hanmi, mundur.” Dara Eonni mulai merasakan sesuatu yang aneh di sekitar rumah ini, padahal kami belum masuk ke dalam rumah, samar-samar aku mendengar lolongan serigala dari bukit yang melatarbelakangi rumah besar ini. “Jangan pernah lengah ketika kamu berada di lokasi asing.”
Aku tidak bisa meninggalkan Dara Eonni, ia sungguh membutuhkanku. Bahkan hal itu seperti terjadi kemarin, aku bertemu dengannya di sebuah perpustakaan pada malam hari. Waktu itu aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di salah satu rak buku dan aku kembali untuk mengambilnya pada saat perpustakaan sudah hampir di tutup. Dan aku menemukan pemandangan yang begitu mengenaskan.
Dia memandangku seperti ingin memakanku, aku tidak tahu bagaimana dan apa yang ia makan kala itu, yang jelas hampir setengah wajahnya merah dan itu adalah darah. Ia menyeringai, namun aku masih bisa melihat kecantikannya yang bersinar di balik wajah yang mengerikan itu. Aku melihat taringnya dan tak bisa ku pungkiri, aku takut setengah mati sampai tidak bisa berteriak, namun aku juga mengagumi apa yang aku lihat. Aku adalah salah satu orang yang terobsesi dengan vampir. Dara Eonni adalah vampir tercantik yang pernah aku temui sepanjang hidupku.
Semenjak hari itu aku semakin penasaran dan aku berusaha mati-matian agar bisa bertemu dengan Dara Eonni, dan saking seringnya kami bertemu, kami menjadi dekat seperti sekarang ini. Dan alasan aku tidak bisa meninggalkan Dara Eonni adalah aku membutuhkan sosok yang bisa melindungiku dari apapun. Tentu saja ada timbal baliknya, aku selalu memenuhi kebutuhan Eonni dengan mencarikannya hewan-hewan untuk dimakan.
“Eonni, sebaiknya kita segera bertemu dengan pemilik rumah ini…sebentar lagi akan turun hujan..”
Aku menengadah untuk melihat betapa kelamnya langitnya, lalu aku mengetuk sebuah pintu yang cukup besar, namun belum ada jawaban dari dalam. “Hallo? Ada orang di dalam?!” teriakku cukup lantang, suaraku menggaung, dan aku kembali mendengar lolongan, kali ini terasa lebih jelas. “Eonni~ apakah itu serigala biasa atau manusia serigala? Kita tidak boleh bertemu dengan mereka…” aku begitu mengkhawatirkan hal itu selama ini. Karena setahuku, vampir dan manusia serigala adalah musuh bebuyutan.
Aku melihat beberapa tetes air hujan mulai jatuh, aku mengetuk lebih keras lagi sampai aku hampir terjatuh karena pintu itu terbuka begitu cepat.
“AH!” aku merasakan tangan Dara Eonni menahan pinggangku. Aku melihat rumah itu begitu remang-remang, hanya lampu kecil kuning yang menghiasi sudut-sudut ruangan. “Halo? Ada orang?” cukup lama keadaan menghening, bahkan aku sampai bisa mendengar deru angin yang mulai kencang di luar sana.
“Tetaplah waspada.”
*
Minggu, 24 Juni 2012
Puppet of Death -10-
Lyn tidak bisa mengatur nafasnya, ia tengadah dan lehernya juga robek. Darah segar keluar, boneka itu meminum seperti orang kehausan ditengah padang pasir. Tatapannya kini sejajar dengan Kevin. Ia melihat Kevin menangis.
“Kevin....” ucapnya Lyn lirih.
Lyn meraih tangan Kevin, ia merasakan pedihnya. Sungguh amat pedih, amat menyakitkan. Dan ia tidak pernah berfikir seperti ini sebelumnya; ia menyukai Kevin. Namun Kevin besikeras menemukan Sera bahkan disaat kondiri mereka seperti ini.
Lautan merah berada di sekeliling mereka. Kini iblis bertanduk itu malah sudah keluar dengan sendirinya. Ia tampak lemas karena memaksa masuk ke dalam tubuh Kevin. Ia bukanlah sebuah manekin lagi, tubuh itu hidup, berdenyut dan berdetak. Tidak seperti manekin yang terbuat dari porselen.
Boneka Pullip itu juga sudah tergolek menjadi sebuah benda mati, lama-lama tanduk iblis itu mencari menjadi sebuah lendir seperti lava gunung merapi yang panas. Sementara, Kevin terus tidak bisa menghentikan airmatanya. Dan Lyn, ia berusaha agar tetap sadar dengan meremas tangan Kevin.
“Kev.......vin......jangan mati....” desahnya.
Sebuah cahaya putih menyilaukan datang dari sebuah lorong, ia berlari membawa sebuah burung dara yang terbang rendah di samping kedua kakinya, sepasang. Kevin dan Lyn hanya bisa melihat sepasang kaki tak beralaskan sandal atau pun sepatu.
Terdengar begitu banyak kepakan sayap burung, dan benar-benar terang.
“Kevin...” ucapnya. Sepasang tangan hangat dan lembut menyentuh badan Kevin, ia membalikkan badan itu dan mengikatkan sesuatu di lehernya. “Hiduplah, kenang aku dalam indahmu. Jangan pernah cari aku...kita sudah impas.” Bisiknya lembut setelah itu mengecup kening Kevin.
Ialah Sera. Dia datang tepat pada waktunya.
Lyn hanya bisa melihat iblis itu meleleh menjadi sebuah cairan putih yang menggenangi mereka berdua. Ia membersihkan darah itu; ia telah di sucikan oleh hadirnya Sera.
Kemudian tangan halus itu merangkul kepala Lyn dan juga berbisik, “Aku percaya padamu... tolong jagalah Kevinku...”
Tidak lama setelah itu terasa sebuah benda masuk ke dalam leher Lyn. Ia merasakannya betul! Sebuah rantai yang dingin terpasang disana.
‘PLASSSHHH~’
Ia menghilang meninggalkan banyak bulu-bulu putih yang jatuh di tubuh Kevin dan Lyn. Dan Lyn menutup mata.
@.@
“Kehebohan. Bahkan petugas pameran pun tidak tahu kenapa boneka-boneka itu berhamburan keluar dari kotak kaca. Penyebabnya sementara karena hendak di curi oleh pihak yang memang menginginkan barang antik itu. Pihak panitia mengutarakan pameran ini akan di tunda pembukaanya sampai keadaan benar-benar aman dan terkendali.”
“Astaga, berita ini benar-benar melebih-lebihkan!” Sabia melempar keras koran tidak berguna itu. Ia menjaga Lyn sampai benar-benar sembuh. Namun bagaimana pun ia tak kan bisa melupakan kejadian mengerikan yang terjadi pada saat itu. Ia bertekad akan segera meminta maaf kepada Kevin jika ia sadar nanti.
Chia tampak begitu lelah, ia menjaga Kevin siang malam. Begitu juga dengan Tom, ia bergantian menjaga Lyn dirumah sakit. Sudah dua bulan, dua bulan Kevin koma.
“Kak, apakah lehermu masih terasa sakit?” tanya Sabia sambil mengupaskan buah untuk Seniornya itu.
“Tidak seberapa...mungkin minggu depan aku sudah bisa pulang...apakah kamu sudah melihat Kevin hari ini?”
Sabia mengangguk, “Masih sama seperti kemarin-kemarin...ia masih tidur tenang disana. Aku kasihan melihat Kak Chia, ia sudah sering bolos kuliah demi menjaga Kevin.”
“Ia sudah bekerja keras menjaga Kevin. Oiya, apakah Chia tidak mengambil kalung yang Kevin pakai?”
Sabia menggeleng, “Aku sudah mengatakan hal itu padanya, bahkan ia tidak berani menyentuh kalung itu. Tapi aku sungguh minta maaf Kak, meninggalkan Kevin pada saat itu...aku merasa bersalah.”
Lyn hanya tersenyum, ia meraba liontin berbentuk tangan itu. Baginya, itu bukanlah hanya sebuah liontin, itu adalah sebuah mandat, sebuah pesan mulia.
@.@
Suatu hari di musim semi....
Tom kali ini mengajak Chia makan siang, terpaksa ia harus meninggalkan Kevin untuk beberapa saat.
“Tidak apa, ia akan baik-baik saja disini Chia.”
Chia sangat ingin Kevin bisa segera sadar, ia ingin Kevin kembali seperti dulu lagi.
“Baiklah, tidak lebih dari 2 jam.” Sahut Chia seraya meninggalkan Kevin seorang diri.
Begitu sunyi, senyap. Tubuh Kevin benar-benar damai. Suhu ruangannya tidak terlalu dingin untuknya. Ia tampak seperti manekin tampan, garis rahang yang sempurna dan rambut yang agak gondrong dan tersisir rapi dengan poni kesamping kanan.
Namun bola mata itu bergerak kesana kemarin, mencari sesuatu sampai akhirnya...mata itu terkejap setelah sekian lama tak pernah terbuka.
‘TAP, TAP, TAP...’
Sebuah langkah mendekat, begitu dekat.
“Kevin???!!” panggilnya dengan sejuta ekspresi bahagia di wajahnya. Wanita berambut panjang itu langsung memeluk tubuh Kevin dengan luapan kebahagiaan selama penantian setahun lamanya.
END .
Label:
2ne1,
BIGBANG,
cerbung,
dakotakoti,
doll,
Fan Fiction
Sabtu, 16 Juni 2012
Puppet of Death -9-
Sekumpulan anak kecil bergaun warna warni itu berjalan beriringan, menabur
bunga dan tidak lupa tersenyum kepada semua mata yang memandang mereka.
Festival tahunan telah dibuka, lokasi pameran akan segera diresmikan. Tampak
Lyn amat tidak sabar ingin melihat boneka-boneka tersebut.
Ia tampak sangat antusias di bandingkan Chia yang malah kurang nyaman
dengan keramaian seperti ini.
“Mau aku belikan minuman?” tawar Kevin yang haus karena berteriak heboh
disaat dancer seksi menari tadi.
“Ah, kamu mau beli minuman? Aku ikut!” pinta Chia, namun Kevin menolaknya.
“Jangan, temani Lyn! Aku akan kembali secepatnya.”
Kevin bergegas menghilang di keramaian, Chia memandang punggung orang itu.
Akhir-akhir ini ia merasa khawatir yang berlebihan pada sahabatnya itu.
Lyn memergoki ekspersi Chia, “Kenapa?” tanyanya lembut.
Chia menggeleng, mengipasi lehernya dengan tangannya. “Tidak, ku harap dia
tidak hilang ditengah keramaian.” Kilahnya.
*_*
Di lokasi yang sama, Sabia tengah jengkel karena usahanya kabur dan
menginap dirumah Shirley pun gagal total. Kakak sepupunya memergoki ia saat
sedang berada di halte bus semalam. Alhasil
hari ini ia merengut, padahal ia ingin gembira disaat menikmati pameran boneka
nanti.
“Sebenarnya aku juga tidak mau menemanimu!” keluh kakak sepupu Sabia.
“Kenapa tidak bilang dari awal? Kamu kira aku suka jalan dengan Om-Om
sepertimu?”
“Apa katamu?! Jaga sikapmu Nona Sabia!”
Sabia mendekatinya, “Jika bukan karena Ibuku, aku tidak mau bertemu
denganmu. Apa tidak ingat dengan ini hah?!” Sabia menyapu poninya hanya untuk
memperlihatkan bekas lukanya.
“Aku kan sudah bilang dari dulu, aku tidak sengaja!”
Sabia memberi sedikit dorongan di bahu, “Ini jelas-jelas di se-nga-ja!
Bahkan sebenarnya saking bencinya aku padamu, aku bahkan tidak bisa mengingat
nama lengkapmu!”
“Paqeuin! Thomas Paqeuin, TOM!” sahutnya.
Tidak jauh dari mereka, berdiri seorang laki-laki tinggi dengan rambut agak
gondrong. “Sabia?”
“Kamu lagi!!” Sabia menunjuk Kevin dengan terkejutannya, tidak mungkin bisa
bertemu dua orang yang menyebalkan dalam satu hari di tempat favoritnya. “Kamu
menguntitku ya!? Iya kan? Ngaku deh!!”
“Ah Kevin? Masih ingat aku?” tanya Tom melunak. “Aku yang waktu itu...”
“Ah...ingat, aku ingat. Sedang apa dengan dia?” tunjuk Kevin ke arah Sabia
yang sudah melipat tangan tanda kekesalannya.
Rabu, 13 Juni 2012
Puppet of Death -8-
cast :
TOP [BigBang] as Kevin
Park Bom [2NE1] as Lyn
Dakota Rose [@dakotakoti] as Sabia/Sera
Kevin menekannya keras, tapi sesuatu itu meronta ingin keluar. “Lalu apa
yang akan kita bahas lagi? Jika sudah aku ingin pulang.”
Lyn melihat tangan Kevin yang sibuk dengan tas kainnya. “Ah Sabia, temani
Chia dulu...aku ingin berbicara empat mata dengan Kevin.” Lalu Lyn menarik
Kevin menjauh dari keramaian, mereka berbicara di toilet dekat sana.
Karena Kevin tak sanggup menahan tenaga itu, ia melempar tasnya dan hal itu
mengejutkan Lyn. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu melempar tasmu?”
Tak lama kemudian, boneka Pullip Prunella itu merangkak keluar. Kepalanya yang
lebih besar dari pada tubuhnya itu berputar 360 derajat. Tak seorang yang tidak
ngeri melihat hal itu terjadi di depan mata mereka sendiri.
“Astaga!” Lyn sama terkejutnya seperti Kevin saat pertama kali melihat
boneka itu bergerak, “kenapa Kev? Kenapa bisa begini?”
“Jangan mendekat!” teriak Kevin pada boneka itu, suasana pada saat itu
sepi. Namun boneka cantik nan rupawan itu terus berjalan tanpa gentar kearah
mereka. “Apa maumu?”
Lyn merasakan itu lagi, kepalanya pening sama seperti waktu ia mendapat
gambaran di lokasi karnaval itu. “Sakit sekali!!” ia jongkok meringkuk dan
boneka itu malah jalan ke arahnya.
Kevin menarik Lyn cepat-cepat dari tempat itu, tapi mungkin boneka itu bisa
seribu langkah bayangan, secepat itu sudah berada di hadapan Lyn.
‘SRAAKKK!’
Kevin menendang boneka itu sampai jauh terpental dinding-dinding keramik,
namun ia bangkit lagi seperti tak merasakan sakit.
“Kalian harus mati.....” desisnya.
Label:
2ne1,
BIGBANG,
cerbung,
dakotakoti,
doll,
Fan Fiction
Selasa, 12 Juni 2012
Puppet of Death -7-
3 hari setelah Lyn mengalami astral projection...
“Benarkah? Kamu sudah membuat bocah itu mengenali siapa dirinya? Lalu, apa
kamu baik-baik saja?” Tom senang mendengar kabar yang Lyn bawa.
Lyn mengangguk, “Aku rasa dia pasti sudah sangat tahu siapa kamu, Sera, dan
juga dirinya. Sayangnya, aku belum bertemu dengannya semenjak hari itu. Aku tidak
tahu dia dimana.”
“Syukurlah....tapi ku rasa aku harus bertemu dengannya.”
“Jangan! Aku yakin ia pasti akan fokus mencari..Sera. Bagaimana pun,
baginya Sera tetap menunggunya. Bahkan, bisa saja dia melakukan hal yang
nekad... Sebaiknya temui Chia, sahabatnya saja.”
Tom meraih tangan Lyn, “Terima kasih Lyn...aku tidak tahu harus berbuat apa
jika tidak bertemu denganmu saat itu. Aku juga berterima kasih kepada bibimu.”
Lyn hanya tersenyum, senyum yang menyembunyikan sesuatu di baliknya.
@.@
Label:
2ne1,
BIGBANG,
cerbung,
dakotakoti,
doll,
Fan Fiction
Puppet of Death -6-
Sang Ibu memeras handuknya, kemudian meletakkan di dahi anaknya, Lyn
Alexandria. Ibunya tahu jika anaknya sedang mengalami astral projection. Sudah
lama Lyn tidak seperti ini, sudah hampir 7 tahun Lyn tidak pernah lagi
mengalami hal ini. Ia menekan dunia spiritualnya agar bisa sama dengan remaja
yang lain, namun percuma saja. Lyn tetap saja tidak bisa mengontrolnya.
@.@
“Chia! Aku tidak bercanda!!” Kevin menarik-narik rambutnya, ia merasa
seperti senang namun tidak sepenuhnya. Ia merasakan aneh, dari dalam tubuhnya.
Seperti ada yang menyembul keluar.
“Bagaimana bisa aku bercanda di saat seperti ini? Ayolah Kev, itu hanya
mimpi buruk! Aku sama sekali belum pernah datang ke sebuah pameran boneka!”
‘CIIIITTTT!!!!’
Tiba-tiba saja kereta berhenti mendadak, mereka tersungkur bersama, kepala
Kevin menghantam kaca tebal itu lumayan keras. Ia pingsan.
“Ah ada apa ini?!” semua orang terkejut dan berhamburan keluar. Chia
melupakan Kevin sesaat, ia melihat apa yang terjadi dan, “ini tidak mungkin...”
tiada kata yang bisa terucap.
Disatu jalur rel kereta api, jika salah satu tidak berhenti mungkin
kecelakaan maut sudah terjadi. Kereta yang Chia tumpangi berhadapan dengan
kereta lainnya di satu jalur yang sama.
“Bagaimana ini? Kereta api tidak di desain untuk berjalan mundur!” ucap
salah satu penumpang.
@.@
Seperti habis terlontar jauh, Kevin tengkurap di aspal,
tengah jalanan dekat darah itu.
“Darah!!” teriak Kevin histeris. Nafasnya tersengal, ia
langsung menjauhinya namun matanya melihat sosok itu. “Hah?” lalu Kevin melihat
sekeliling, tempat yang tadi. Dimana ia melihat gadis berambut pirang itu.
“Ah kamu!” tegurnya sambil berteriak. “Sedang apa kamu di
sini? Kamu bisa melihat aku? Bisa mendengarku?”
Kevin menelan ludah, bahkan ia menampar dirinya sendiri,
berkali-kali.
“Sudah hentikan!!” ia meraih tangan Kevin dan mencoba
menenangkannya. “Jangan buat dirimu pingsan disini! Ini bukan dunia kita!”
sahutnya.
“Aku ingat, kamu yang ku lihat siang itu di kampus kan?
Iya kan?” Kevin mengguncang tubuh Lyn kencang.
“Iya iya aku ingat...aku juga ada urusan sebenarnya
dengan kamu...tapi sebaiknya...,” Lyn menatap Tom, Tom muda, disaat ia sedang
bersama Sera waktu itu. “Suaraku tidak terdengar olehnya, aku tidak tahu harus
bagaimana lagi.”
“Tom? Siapa Tom? Orang yang bersamamu di kantin itu?”
“Dia sahabat Sera. Kamu tidak kenal Sera?”
Sesaat Kevin merasakan dadanya sesak dan sakit, namun ia
tak mengerti kenapa. “Sera? Ugh....aku tidak kenal, siapa dia? Apakah aku harus
mengetahuinya juga?”
Lyn menajamkan pandangannya, “Ya, kamu harus tahu tentang
Sera.”
Label:
2ne1,
BIGBANG,
cerbung,
dakotakoti,
doll,
Fan Fiction
Langganan:
Postingan (Atom)



