Minggu, 22 Mei 2011

FF [request by dinar] -2-

*
Itu adalah seikat bunga dan sekantung kelereng dengan corak yang indah, itu benda kecil yang mahal.
“Kalian yakin tidak melihat siapa pun di depan rumah?” tanya Unnie sangar, dia benar-benar dibuat rumit oleh tugas kuliahnya.
Seol Hyo dan Seung Ri sepakat untuk tutup mulut. Mereka menggelengkan kepala bersamaan.
Rae In curiga, “jika kalian berbohong dan aku mengetahuinya, awas!” ucapnya, namun bunga dan kelereng itu ia ambil dan disimpan.
“Sepertinya cara kita berhasil.” Bisik Seol Hyo kepada Seung Ri.
“Aku khawatir Unnie-mu benar-benar hanya akting di depan kita.” Keluhnya.
“Tidak, aku tahu benar seperti apa dia. Sudahlah, kita akan sukses!”
***
Pendekatan sedang berjalan. Tae Yang sebenarnya sudah mengetahui bagaimana perasaan Seol Hyo kepadanya, namun ia berusaha cuek dan menikmati dengan caranya sendiri. Respon positif sempat beberapa kali dilontarkan, seperti semangat ya buat pertandingan basketmu, sepatunya cantik seperti yang punya dan begitu saja bisa membuat Seol Hyo melayang sebulan penuh.
Siang ini Seung Ri mendatangi sekolah Seol Hyo bersama seorang temannya.
“Seol Hyo-ah!” teriakan Seung Ri memancing keramaian. “Maaf yang tidak memberitahumu dahulu, aku sebenarnya hanya mengajak jalan-jalan temanku yang datang dari luar Seoul.”
“Ah, annyeong haseyo!” ucap Seol Hyo dan dibalas oleh orang itu.
“Annyeong, aku Dae Sung. Teman SMA Seung Ri. Sepertinya dulu kamu masih kecil sekali ya?”
“Eh? Kita pernah bertemu ya? Ah, maaf ya aku lupa...”
Pelatih sudah memanggil Seol Hyo untuk kembali melanjutkan latihan sore ini.
Seol Hyo mohon pamit namun keduanya menunggu Seol Hyo di tribun sambil mengobrol seru.
Tidak jauh dari tribun dimana mereka duduk, ternyata Tae Yang sengaja meluangkan waktu untuk melihat Seol Hyo latihan basket, namun tidak seorang pun tahu jika orang itu adalah Tae Yang karena ia sengaja menyamar agar tidak membuyarkan konsentrasi Seol Hyo.
*
Kelas sore ini sungguh membosankan. Rae In terpaksa mengikutinya sampai 10 menit kemudian kelas bubar. Dia merasa suntuk dan malas untuk kembali ke rumah karena Seol Hyo akan pulang 1,5 jam lagi tepat pukul 7 petang.
“Park Rae In?” panggil seseorang.
Rae In menoleh ke arah belakang, dan menemukan sesosok wajah yang ditutupi penuh dengan balon warna warni dan jeans robek disana-sini.
“Siapa ya?”
Orang itu tidak juga menunjukkan wajahnya, malahan berjalan mundur membuat Rae In mengikutinya.
Sepatu cats biru itu tampak familiar, Rae In mengingatnya sambil terus mengikuti pemuda yang ada dibalik balon gas warna warni itu.
*
Seung Ri mengambilkan es krim pesanan mereka, Dae Sung berbincang dengan Seol Hyo dengan asyik di tribun. Mereka bercanda asyik, Tae Yang melihatnya dari kejauhan. Terpecik rasa cemburu dihatinya.
Saat Seung Ri kembali tidak sengaja dia mengenali jaket itu, “Tae Hyung?” ucapnya.
Begitu mendengar nama itu Seol Hyo spontan berdiri dan mencari sosok itu.
“Mana? Mana..????!” mata Seol Hyo berbinar seperti melihat berlian ditengah lumpur.
“Tae Hyung?!” panggil Seung Ri sekali lagi namun orang itu tidak meresponnya. Tentu saja jaga penampilan.
“Seung Ri-ah, mungkin cuma mirip saja...ini sudah malam ayo sebaiknya kita antarkan Seol Hyo pulang...pasti dia sangat letih latihan sore ini.” Ucap Dae Sung yang terdengar lumayan keras dari tempatnya berdiri sampai ke tempat Tae Yang.
*
“Kamu siapa sih?” tanya Rae In kepadanya.
“Aku penggemarmu.” Jawabnya lantang di aula utama kampus.
Penggemar? “Kelereng dan bunga itu darimu?”
“Yap.”
“Dari mana tahu benda-benda favoritku? Seol Hyo?”
“Bukan, aku tidak kenal Seol Hyo.”
“Seung Ri?”
“Bukan.”
Rae In mendekat dan mengambil balon-balon gas itu, dia terkejut siapa yang ada dibaliknya.
*


to be continue . . .

FF [request by dinar] -1-

“Apa benar kamu mau menyatakan perasaanmu pada Tae Yang?” tanya Unnie-nya, Park Rae In.
Seol Hyo hanya bisa mengangguk melihat sang Unnie yang tidak percaya jika adiknya ini begitu nekad dengan kehendaknya.
“Tolong bantu aku aku Unnie! Aku sungguh-sungguh dengan Tae Yang Oppa!” Seol Hyo benar-benar bersujud pada Unnie-nya.
Rae In Unnie hanya bisa memandangnya dengan jengkel karena tatapan Seol Hyo seperti anak kucing yang lapar.
“Unnie tidak kenal dengannya. Bagaimana bisa membantumu?” kilahnya yang sebenarnya malas berurusan dengan hal-hal asmara orang lain.
Sedang asyiknya Seol Hyo memohon, sepupu mereka yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sana datang. “Ya! Sedang apa kalian berdua? Persiapan drama sekolah Seol Hyo ya?”
“Seung Ri-ah!!” terkejut melihat Seung Ri datang, Seol Hyo langsung berdiri dan merapikan diri.
Rae In hanya melihat Seung Ri lalu duduk kembali melanjutkan tugas kuliahnya.
“Kalian bisa membantuku membuat ini?” Seung Ri menunjukkan banyak koran dan kertas manila untuk tugas kuliahnya juga, serupa tapi tak sama dengan tugas Rae In.
“Kesepian ya dirumah?” tanya Rae In kemudian.
Seung Ri tidak menjawab pertanyaan Rae In, “tadi dari luar aku dengar nama Tae Yang, iya ya?”
“Ah tidak! Mungkin kamu salah dengar...di luarkan ramai...”
“Hah? Ini pukul 8 malam, diluar sudah sepi?” Seung Ri memastikan yang ia dengar benar.
Karena merasa berisik Rae In lebih memilih mengerjakan di kamarnya saja sambil mendengarkan lagu klasik.
Tidak satupun menganggp Rae In ada, sadis.
“Ayolah Seol Hyo, beritahu aku!” paksa Seung Ri.
Seol Hyo tidak mengatakan apa-apa dan tetap membantu Seung Ri menggunting koran-koran itu.
Seung Ri memohon lagi dan akhirnya Seol Hyo kalah.
“Aku suka dia...tapi Unnie tidak mau membantuku. Entahlah, aku tidak tahu harus minta tolong siapa lagi. Aku tidak mungkin mengatakan hal ini pada teman-teman dikelas, jelas kamu juga tahu siapa itu Tae Yang. Populer.”
Tiba-tiba Seung Ri menjitak Seol Hyo lumayan keras, “aww!! Kenapa sih?”
“Baboo!” teriaknya, “lupa ya Tae Yang itu satu kampus denganku! Kenapa tidak beritahu aku sejak awal?!”
Tanpa ekspresi bersalah Seol Hyo menanggapinya, “hmm? Iya ya, aku tidak tahu.”
“Tidak salah kamu suka padanya, Hyung itu penuh dengan kharisma...dia ada dijurusan seni musik. Dan tidak lama lagi dia akan menjadi seniorku.”
“Benarkah?” Seol Hyo sudah dipenuh dengan harapan ini itu.
“Eits, ga gratis lho!”
“Pamrih! Tapi apapun demi Tae Yang Oppa deh! Kamu minta apa aja aku turutin!”
Dengan senyum liciknya Seung Ri membisikkan sesuatu kepada Seol Hyo.
***
Di hari pertama : Seol Hyo menitipkan sebuah puisi karyanya pada Seung Ri agar bisa tersampaikan  dengan pasti. Sementaran itu ada seorang teman Rae In dikampus yang memberinya setangkai mawar, ada yang memberikan bunga itu secara estafet.
Benar saja, sampai dirumah Tae Yang suka dengan isi puisi itu. Lembut namun tetap ada ketegasannya di dalamnya. Namun ini belum sampai tahap penasaran, Tae Yang hanya kagum dengan puisi tertanda HSP itu.

Di hari kedua :  ia hanya memberikan id chatnya kepada Seung Ri untuk disampaikan kepada Tae Yang. Rae In kebingungan, ditempat ia biasa duduk di dalam kelas fotografi dipenuhi kelereng-kelereng indah kesukaannya.
Tae Yang sempat menolaknya, namun Seung Ri memaksa Hyung-nya. Dengan sedikit tawa Seung Ri mengatakan, “ajaklah orang ini mengobrol, dengan begitu Hyung sudah membantu dia menjadi pemain basket terbaik.” Kini ada dua petunjuk yang Tae Yang pegang.

Di hari ketiga : Seol Hyo menjemput Seung Ri sore hari selesai berlatih basket disekolahnya, dan Seung Ri keluar dari kampusnya bersama Tae Yang tentu saja dengan senyumnya yang manis dan lucu. Rae In sedang menghadiri meet and greet penulis buku favoritnya, ‘Soulmates’.
Setelah tawanya, Seung Ri menghampiri Seol Hyo.
“Ah, kamu beneran datang menjemputku?”
Seol Hyo hanya mengangguk, terlihat raut letih diwajahnya (sebenarnya raut menahan ekspresi terkagum-kagum).
“Pacarmu?” tanya Tae Yang.
“Hahaha, bukan! Ini adik sepupuku, Seol Hyo.”
Seol Hyo membungkuk sambil tersenyum, dia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“Ah! Senang berjumpa denganmu.”
Mereka saling berpamitan, setelah Tae Yang menghilang dari pandangan, Seol Hyo berdiri kaku di tempat ia berpijak.
“Nah, sepertinya setelah ini kalian bisa melanjutkan sendiri.” Ucap Seung Ri  bangga karena bisa membantu dua orang sekaligus dalam satu waktu.
“Aku tidak percaya aku bisa berbicara langsung kepadanya....”
Seung Ri menghelas napas, “semoga berhasil!” ucapnya dan jalan terlebih dahulu.
*
Tae Yang mengingat chatnya semalam dengan si pemain basket itu.
~ besok aku akan berlatih menggunakan sepatu baruku, warnanya merah. Terima kasih Oppa sudah memberiku suntikan semangat !
Dan sore tadi dia bertemu dengan gadis dengan sepatu basket merah yang masih mengkilat.
“Apa mungkin adik Seung Ri yang ku ajak chatting semalam? Dia kah? Aku tidak percaya jika ada seorang gadis yang benar-benar menyukaiku sampai seperti itu.”
***
Makan malam menjelang.
Seol Hyo bergabung dengan keluarga Seung Ri malam ini karena Paman dan Bibinya memaksanya untuk singgah dahulu toh rumah mereka tidak begitu jauh.
~ cring
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Seol Hyo, ternyata dari Unnie-nya.
PULANG !!!
Membaca pesan itu Seol Hyo jadi tidak berselera untuk mencicipi hidangan penutup buatan Ibu Seung Ri.
“Lho? Kenapa mau pulang sekarang?”
“Unnie sudah menyuruhku pulang.” Jawab Seol Hyo lemas.
“Kamu tidak katakan berada disini?” tanya Ibu Seung Ri
Seol Hyo menggeleng. Dia sudah bersiap untuk pulang.
“Ya sudah kalau begitu, ini makanlah dirumah. Bagi juga untuk Unnie-mu ya Seol Hyo, lain kali ajak dia main ke sini ya.”
“Terima kasih!” Seol Hyo pulang diantarkan Seung Ri.

Mendekati rumahnya, Seol Hyo melihat seseorang yang meletakkan seikat bunga di depan rumahnya. Menyadari kehadiaran si pemilik rumah, orang itu kabur.
“Eh, itu siapa?” tanyanya kepada Seung Ri yang sepertinya mengenalinya.


to be continue . . .

Selasa, 17 Mei 2011

FF tengah malam part -5-


*
Sementara Jenny meninggalkan rumah dengan buru-buru setelah menerima telepon, tanpa diketahui siapa pun, sebuah tunas hijau kecil muncul di batang kering mawar pelangi yang telah mati tersebut.
Seung Ri bertemu dengan Seung Hyun di sekitaran sekolah, “Hyung mencari Jenny? Ke rumahnya saja, dia ada disana sekarang.”
“Tapi pesan dan teleponku tidak di respon. Baru saja aku menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Aku khawatir.”
Seung Ri kemudian dengan sedikit sengak berbicara, “Hyung khawatir? Bahkan Hyung tidak tahu kan dia sedang tertimpa masalah, aku heran mengapa seolah Hyung peduli sekali kepadanya namun selama ini bahka tidak pernah bertemu lagi dengannya.”
Seung Hyun terkejut Seung Ri, seniornya bisa berkata seperti itu.
“Ya jelas aku peduli, aku sudah menganggap dia sebagai adikku.”
“Jika memang kau peduli kenapa tidak tahu dia sedang tertimpa masalah?”
Di sela-sela mereka berdebat, datang seorang gadis memeluk Seung Hyun dari belakang. Karena waspada Seung Hyun melepaskan gadis itu dari tubuhnya.
“Hey, ngapain kamu ke sini?” Seung Ri terkejut melihat Lee Ri Yoon mendatangi mereka disini.
“Ri Yoon?” Seung Hyun terkejut melihat mantan kekasihnya datang menemuinya lagi.
Ri Yoon datang dengan wajah yang pucat, sepertinya dia amat tertekan.
*
Di atas gedung, dia berdiri dengan raut wajah yang sedih. Di bawah, semua orang sudah berkumpul dan bertanya-tanya siapa yang sedang berada nun jauh di atas sana.
Jenny menerobos orang-orang itu, namun seorang petugas keamanan menahannya dengan alasan yang tidak jelas. Tidak ada yang bisa dilakukan selain melawan petugas keamanan itu dengan memukul keras kepalanya dengan kepalanya juga.
~ ..... finally i realized, that i’m nothing without you...i was so wrong, forgive me.
Dia, Kwon Ji Yong.
Jenny segera menuju ke lift dan menuju ke tempat Ji Yong berada. Meskipun Ji Yong sudah membuatnya menjadi ‘zombie’ namun Jenny tidak pernah peduli dengan itu ; dia masih menganggap Ji Yong miliknya.
Beberapa menit kemudian Seung Ri, Ri Yoon, Seung Hyun sudah ada disana bergabung bersama orang-orang yang ada dibawah. Tangis Ri Yoon pecah, namun Seung Hyun tidak peduli dan timbul rasa ibanya untuk naik ke atas dan menolong Ji Yong.
Apa daya, petugas keamanan sudah berjaga-jaga di depan pintu.
Ya, ini gedung perkantoran milik keluarga Ji Yong, Seung Ri bebas saja masuk ke sana. Namun terlambat, sistem lift sudah di matikan atas perintah Ji Yong.
Jenny sudah berada di satu lokasi yang sama, dia berlari ke arah Ji Yong dan menariknya kebelakang, mereka jatuh bersama, Ji Yong melindungi kepala belakang Jenny. Tangannya terluka.
Tangis mereka pecah bersamaan.
***
Di suatu ruangan di gedung perkantoran.
Ri Yoon duduk memandang Jenny penuh kebencian.
Ji Yong tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Jenny.
Seung Ri duduk di sebelah Ri Yoon, melirik jijik ke samping kirinya.
Seung Hyun duduk di sisi lain Jenny, menganggap dunia ini sempit dalam hatinya.
“Sekarang semuanya sudah jelas kan? Sepertinya harus ada yang mengalah dengan berbesar hati.” Ujar Seung Ri yang sudah muak dengan hal ini karena dia ikut kesal karena tidak menyangka sang Kakak yang selama ini diserahi tanggung jawab atas Jenny menjadi kekanakan seperti ini.
Ri Yoon memerah, itu mungkin saja air mata buaya. Tidak satu pun hatinya menyukai Ji Yong, dia hanya memanfaatkan Ji Yong untuk bertemu dengan Seung Hyun. Dan tatapan amarahnya memang benar untuk Jenny karena dirinya Seung Hyun bosan dengan Ri Yoon dan mencampakkan begitu saja.
Ri Yoon meninggalkan ruangan, dia tersedu.
Seung Hyun mengikuti Ri Yoon, menurutnya ini terlalu drama!
“Aku tidak menyangka Hyung akan melakukannya, aku kira semua ini lelucon. Dan kini aku tidak lagi bangga, huh kekanakan.” Kesalnya.
Kini mereka hanya tinggal berdua diruangan itu.
Melihat Ji Yong masih mengenakan cincin pertunangan itu, Jenny langsung melepasnya dan melemparkan cincin perak itu jauh ke salah satu sudut ruangan.
Mereka diam namun masih saling bergandengan.
Lucu.
“Maaf.” Ji Yong akhirnya membuka mulut.
“Itu bukan kamu, Oppa. Aku tidak pernah mengenalmu seperti ini.”
“Aku tahu aku salah.”
“Mungkin aku memang..tidak pantas untukmu.” Suara Jenny bergetar, dia berdiri melepaskan genggaman itu.
Namun Ji Yong memeluknya dari belakang, tidak ingin kehilangan dia sekali lagi.
“Aku bodoh!” teriaknya menggema dengan suara yang bergetar.
*
Rumah Jenny kosong, hari ini cerah. Sinar mentari masuk bebas dari jendela kamar Jenny, tunas itu sedang makan. Itulah tanda tanda kehidupan.
Young Bae kembali, dia sudah mendengar kabar siang ini melalui Seung Hyun yang lalu mendatangi bar dimana Young Bae bekerja. Seung Hyun mengatakan akan meneruskan studinya ke luar negeri saja. Itu hanya alasan agar tidak bertemu dengan Jenny.
Dae Sung membawa dua orang pulang, Jenny dan Ji Yong.
“Lain kali jangan melakukan hal bodoh, gara-gara kamu suaraku dibilang buruk oleh adikku sendiri!”
“Maaf.” Ucap Ji Yong sambil membungkukkan badan. Dia merasa amat bersalah.
Jenny ngeloyor ke dapur, membuatkan teh hangat agar perasaan mereka tenang. Young Bae hanya tersenyum lega dari balik lemari kemudian menghilang.
“Kamu masih marah padaku?”
Terdengar bunyi video game dari kamar Dae Sung, setidaknya suasana kini tidak sepi.
Jenny tidak langsung menjawabnya, dia mulai berfikir jernih.
“Aku tidak pernah bisa mearah padamu.”
Ji  Yong memandangi terus wajah kekasihnya itu. “Tapi kamu masih cemberut.”
“Siapa yang tidak khawatir melihatmu berdiri di atas gedung seperti itu? Salah langkah aku akan melihat namamu di nisan!” Jenny membentak. Dia amat takut ketika menarik Ji Yong dari bibir gedung.
Melihat tangan Ji Yong terluka, dia meninggalkan teh yang masih panas di dalam poci keramik, beralih mengambil kotak P3K dan menggiring Ji Yong duduk di sofa.
“Kenapa? Seharusnya biarkan saja kepalaku membentur tanah. Dengan begitu mungkin aku bisa lupa ingatan dengan semua yang telah terjadi.”
Ji Yong menghapus air mata kecil itu.
“Aku sudah berjanji...akan menjagamu dari apa pun.”
Perban putih membalut tangan kanan Ji Yong. Kecupan lembut mendarat di kening Ji Yong.
“Aku tidak mau kamu terluka lagi karena aku.”
Young Bae mencari dvd miliknya yang sempat di pinjam adiknya. Pintu kamar Jenny terbuka dan dvd itu ada di meja kecil Jenny, namun Young Bae tertegun.
***
Empat bulan.
Ri Yoon, tidak ada yang mengerti dengan jalan pikirannya. Dia masih sering mampir mencari Ji Yong namun selalu gagal. Ibu Ji Yong amat tidak menyukai Ri Yoon dan selalu mengusirnya dengan kasar, bagaimanapun naluri seorang Ibu tidak akan bisa ditipu jika ada seseorang yang beniat jahat terhadap anaknya.
Seung Hyun, pergi menuntut ilmu ke luar negeri. Ia bertemu dengan seseorang yang mirip Jenny disana, namun sayang sekali gadis itu meninggal dunia tidak lama setelah bertemu dengan Seung Hyun akibat kanker paru-paru. Gadis itu menitipkan adiknya kepada Seung Hyun.
Young Bae berhenti menjadi bartender, dia kini mulai sibuk dengan debutnya. Melatih muridnya menari dan ia sendiri akan memulai perjalanan hidupnya yang baru, seperti impiannya, menari.
Seung Ri kembali ke Jepang, menyelesaikan akademinya. Dia superstar, sibuk memperdalam ini-itu di akademinya. Dia ingin memperoleh semuanya dengan kerja keras.
Dae Sung, tidak ada yang bisa dilakukannya selain bergaul dengan doraemon. Bahkan dia pindah jurusan kuliah ke bidang seni menggambar. Dia ingin membuat barang-barang rumah tangga dengan desain yang lucu, tentu saja bertemakan doraemon. He’s same as Doraemon.
*
Kamar Jenny dipenuhi mawar pelangi, hampir disetiap sudutnya.
....

Jenny dan Ji Yong.
Yang tampak sejauh ini hanya cincin yang sama melingkar di kedua jari manis mereka.

Finish ~

FF tengah malam -4-

***
Dae Sung hanya bisa duduk diam menemani Jenny dikamarnya. Tidak ada percakapan atau pun sentuhan fisik di antara mereka. Sedangkan hari ini Young Bae benar-benar baru sekali absen mengajar tari di sanggar. Sesuatu sedang terjadi.
Dae Sung memberanikan bertanya sesuatu kepada adiknya, “apa kamu lapar?” 
Jenny menggeleng pelan, matanya menerawang keluar jendela kamarnya.
Dae Sung mencoba membuat adiknya tertawa, setidaknya tersenyum dengan bernyanyi ala bapak-bapak dengan lagu aliran country.
“Sedang apa? Suaramu saat ini terdengar amat buruk.”
“Astaga! Suara sebagus ini kamu bilang buruk?” Dae Sung memegangi dadanya, “..ahh aku....sakit hati!!!” keluhnya dengan mimik wajah yang lucu dan kemudian meninggalkan Jenny.
Apa yang terjadi?
.........
~ Aku kehilangan separuh nyawaku
Aku kehilangan surgaku
Aku kehilangan  semuanya, bahkan diriku sendiri
Secarik kertas menempel di loker sekolah milik Jenny, sebuah puisi dari kekasihnya—hm bukan, mantan kekasihnya, Kwon Ji Yong.
Banyak murid yang membaca itu lalu mulai di sana dan sini, itulah gosip. Namun sebenarnya itu fakta, mereka sudah putus semenjak 3 hari yang lalu. Mengetahui hal ini saat kembali dari Jepang, Seung Ri benar-benar berada di pihak Jenny.
Kertas itu sudah tertempel disana dan di pemilik loker belum membacanya, Seung Ri sudah mengatakan hal ini kepada Jenny, namun Jenny merasa tidak pernah mendengar apa-apa. Bahkan ponselnya di abaikan begitu saja di kamar mandinya, tidak peduli dengan semuanya untuk sementara waktu ini.
Siang ini sudah kelima kalinya Seung Ri menengok sahabat karibnya, keadaanya tetap sama tidak mau makan hanya menghabiskan banyak air dalam beberapa jam kebelakang.
“Seung Ri, aku bingung dengan Jenny.”
Sebenarnya Seung Ri tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, karena melihat Young Bae Hyung khawatir seperti itu lantas Seung Ri memberitahukan hal yang sebenarnya. Ketika semua masalah jelas, terlihat raut wajah yang miris.
Aku...kenapa aku tidak bisa berfikir? Apakah otakku masih berfungsi?
Tanpa sepengetahuan Seung Ri dan Young Bae, Jenny meninggalkan rumah melalui pintu belakang. Hanya menggunakan t-shirt lengan panjang dengan celana selutut, padahal cuaca diluar sangat dingin dan entah kebal atau memang dia tidak bisa lagi berfikir jernih.
***
Jenny menghentikan mobilnya di dekat rumah Ji Yong, sengaja agar sedikit lebih surprise. Dia membuka pintu mobil dan membuka payung pelanginya, hujan masih lebat.
Tampak seorang laki-laki setengah baya dan Ji Yong di teras, mereka sedang berbincang. Jenny sempat senang karena paman Ji Yong mengunjungi keponakannya itu. Hubungan mereka kurang baik.
Jenny nyaris membuka pintu pagar mewah itu, namun urung.
Payung bercorak pelangi itu terbalik, mobil putih Jenny menerobos hujan lebat. Jarak pandang hanya sekitar 20 meter saja. Seluruh tubuhnya sekejap basah kuyup, siapa pun tidak akan bisa membedakan yang mana air hujan dan yang mana air mata.
Saat Jenny pulang rumah dalam keadaan kosong, berjalan gontai menuju depan pintu rumahnya. Ia masuk hanya untuk mengembalikan kunci mobil, kemudian keluar lagi hujan-hujanan. Daya tahan tubuhnya terlalu kuat untuk pingsan di luar rumah.
Ji Yong ikut basah, ia mencari Jenny bahkan sampai rumahnya. Waktu itu Dae Sung sedang berada dirumah namun Jenny tidak ada disana. Ketidakjujuran dimulai disini, atau mungkin ini semua salah paham namun rupanya tidak.
Ji Yong memang bertemu dengan sang paman, bahkan Ji Yong akan mengenalkan Jenny padanya. Paman Ji Yong menolak dengan segala alasan dan alasan utamanya adalah Lee Ri Yoon, gadis kenalan pamannya di Amerika dan menurutnya Ri Yoon sangat ideal buat keponakannya. Jenny melihatnya, memilih untuk menghindar karena baginya Kwon Ji Yong tak tergantikan—Kwon Ji Yong tidak bisa membuatnya mengubah rasa cinta dan sayang itu menjadi suatu kebencian.
***
Dua bulan.
Jenny tidak mengerti mengapa Ji Yong tidak lagi mengirimi puisi di lokernya. Menghilang, tidak pernah muncul di depan Jenny. Mawar pelangi itu sudah lama mati, namun entahlah Seung Ri sudah mau membuangnya namun selalu saja Jenny melarangnya dan masih merawat tangkai mawar yang sudah kering itu. Dia percaya suatu saat mawar itu bisa kembali mekar disana, karena ia adalah kuncup yang belum sempat mekar.
Ponselnya berdering, nomor asing memanggil.          
“Hallo?”
Kemudian terdengar suara angin, kencang.

to be continue . . .  

tidak ada judul

mendadak semua terasa 'lucu'
 
sudah lama tidak kurasakan
mataku basah
 
seperti sekarang
hanya karena sebuah kalimat,
 
...............
aku menghilang.

no title

...tengah malam
 
aku seorang diri, terluka
kamu tidak mengerti
 
aku peduli