Kamis, 16 Februari 2012

At A Time [FF by @Light91916]

At a Time


RaeIn’s scene

Disaat seperti ini bocah itu malah menepati janjinya. Si Kim Sangbeom itu tidak menampakkan batang hidungnya sedikitpun di hadapanku sejak malam itu ia memintaku bercerita soal Hongki oppa. Oke, dia benar-benar jantan! Dan aku tak perlu lagi berteriak-teriak untuk mengusirnya sekarang.

Tapi percaya atau tidak, rasanya jadi sepi setelah si Kimbeom itu menghilang. Masih sering terdengar suaranya berteriak memanggilku “RaeIn-yang!” namun ternyata tak seorangpun di sekitarku yang memanggilku saat itu. Oke, ternyata aku mulai terbiasa dengan bocah itu, dan kini.. bagaimana mengatakannya. Aku merasa kehilangan? Ah, tidak mungkin. Haha.. pasti tidak mungkin!

Aku hanya ingin tahu, mengapa kemarin ia datang mengunjungi Hongki. Itu saja. Tidak lebih.

RaeIn’s scene END

***

“RaeIn-a!” seseorang memanggil RaeIn seraya menggoncangkan tubuhnya yang tengah terlelap di tengah banyak orang yang sedang mempersiapkan pameran mereka yang akan diselenggarakan 5 hari lagi. “RaeIn-a!”

Wae.. Geunseok-a?” katanya. Raut wajahnya nampak sedikit kecewa melihat siapa yang membangunkannya. Jang Geunseok. RaeIn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua teman dan panitia tengah sibuk, tapi dia malah tertidur di salah satu sudut ruangan. Dan Geunseok kini membangunkannya. RaeIn bangun, merapikan rambut dan bajunya. “Bagaimana kau bisa disini?” katanya pada Geunseok yang notabene bukan mahasiswa di kampusnya.

“Aku hanya mencarimu! Dan mereka menyuruhku membangunkanmu! Kau pasti lelah ya? Sampai mukamu kesal begitu..” jawabnya jujur.

RaeIn merapikan barang-barangnya dan mulai mengerjakan karyanya yang akan dipamerkan. Karya yang sudah 85% jadi. “Aku kesal bukan karena kau! Ini karena orang itu!” jawab RaeIn random.

“Orang itu?”

“Ah, maaf! Aku belum pernah menceritakannya padamu ya?” RaeIn menghentikan aktifitasnya sejenak, dan memulainya lagi sambil menceritakan soal orang itu. Kimbeom. “Namanya Kimbeom. Dia terus mengikutiku sebulan terakhir ini sampai aku sebal!” RaeIn memulai, namun tangannya tak berhenti bekerja. Sedangkan Geunseok hanya berdiri di sampingnya sambil mendengarkan apa yang RaeIn katakan. “Tapi kemarin ia berjanji untuk tidak mengikutiku setelah bertanya soal Hongki-oppa. Entah bagaimana ia bisa tahu tentang oppa! Tapi aku tidak habis pikir..” RaeIn menggantung kalimatnya sendiri, kemudian menghela nafas. “Ia malah mengunjungi Hongki oppa kemarin! Buat apa coba? Apa dia ingin menarik perhatianku lagi??”

RaeIn masih mengomel meski Geunseok kini tampak sudah tidak tertarik lagi dengan apa yang dibicarakan RaeIn. Ia tertegun, melihat ke arah lukisan RaeIn, namun nyawanya tidak benar-benar berada disana. Tatapannya kosong.

“Geunseok-aGwaenchana??” RaeIn mengaburkan lamunan anak laki-laki itu.

Geunseok tampak gelagapan.”Umh.. ohh.. iya!” jawabnya.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau kesini? Ada yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya RaeIn menyadari untuk apa sebenarnya Gaeunseok datang menemuinya di kampus.

“Ah.. umh.. ahniyo~! Hanya ingin melihat-lihat saja..” jawab Geunseok dengan senyum di wajahnya.

“Ah.. keurae~?”

Geunseok mengangguk. Meski sebenarnya bukan itu yang ingin ia lakukan setelah jauh-jauh datang kesana.

***

Geunseok’s scene

Bisa ku tebak, si Kimbeom itu yang akhir-akhir ini membuatnya tampak bahagia, meski ia tidak mau mengakuinya, tapi aku bisa tahu. Aku sudah berteman dengannya sangat lama, aku sudah tahu kebiasaannya, termasuk saat ia senang karena seseorang menyukainya. Heheh.. RaeIn-a..

Sebenarnya aku datang hanya untuk bilang, kemarin aku jadi datang mengunjungi Hongki untuk menggantikannya, setelah aku meminta ijin boss ku sebentar dan kembali lagi setelah kurasa cukup untuk mengunjunginya. Tapi RaeIn bilang, Kimbeom datang untuk mengunjungi Hongki. Kepalanya memang sudah penuh dengan orang itu, percaya atau tidak. Sedikit demi sedikit ia akan menyukainya.

Hari ini aku datang lagi setelah kemarin aku datang ke kampus RaeIn. Sepertinya ia masih sibuk dengan persiapan pamerannya. Meskipun aku masih sedikit kesal setelah mendengar ceritanya, tapi sudahlah, itu tak perlu lagi. Lebih baik aku datang untuk menghibur Hongki lagi. Akhirnya aku bisa melakukannya.

“Hongki-ya~! Aku datang lagi!” seruku seraya masuk kedalam kamarnya. Hongki tengah mendengarkan lagu lewat headphonenya. Pasti ia tidak bisa mendengarku. Kulepaskan headphone dari telinganya. “Ya~! Nan wasseoyo!”

Nuguseyo??” ia berseru kaget. Apa dia lupa aku yang kemarin datang?

“Geunseok ieyo~! Kau lupa?” jawabku.

“Ah! Yang kemarin menggantikan RaeIn?” katanya. Aku mengiyakan. “Kenapa kau lagi?” katanya.

Aigoo~ jangan kecewa begitu donk! RaeIn kan sedang sibuk! Makanya aku yang datang.” Jawabku jujur. Aku mengambil kursi roda Hongki yang dilipat di samping lemari kecil, kemudian membukanya. “Kita keluar yuk! Di luar udaranya segar!” ajakku. Hongki mengiyakan saja apa yang ku katakan. Setelah membantunya berpindah ke kursi rodanya, aku bergegas keluar. Kami berhenti di salah satu sudut taman. Di sebuah bangku di bawah pohon rindang. Tidak ada yang kami bicarakan sampai beberapa menit kemudian Hongki menghela nafasnya.

Waeyo?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Ahniyo~!” jawabnya pendek. “Gara-gara kau yang datang jadi tak ada topik yang bisa dibicarakan!” tambahnya. Aku terkekeh. “Kenapa kau ketawa? Memang lucu ya? Aku tidak ingat dulu pernah kenal denganmu! Aish!! Amnesia itu menyebalkan!!” Hongki ngamuk-ngamuk sendiri.

Padahal dulu kami teman baik sejak di bangku SMP. Hongki adalah teman sekelasku, dan RaeIn adik kelas kami, tapi sudah mengenalku sejak kecil. Makanya ia tak pernah memanggilku dengan sebutan oppa. Hongki adalah satu-satunya yang sangat suka musik di antara kami bertiga. Sedangkan aku atlet renang, dan RaeIn membanggakan dengan lukisannya. Tapi Hongki selalu memaksa kami untuk membuat sebuah band. Ia menyuruhku belajar drum, dan RaeIn harus bisa main bass. Kami berlatih selama 2 tahun hingga benar-benar yakin untuk bisa tampil di depan umum. Kami mulai tampil di acara sekolah saat perpisahan sekolah, saat kami berdua lulus. Dan setelah kami bisa tampil di beberapa acara kecil, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam sebuah showcase. Namun sebelum kami sempat naik panggung, Hongki dikabarkan kecelakaan dan koma di rumah sakit. Setelah ia bangun, bahkan ia tidak ingat pernah membuat band dengan kami. Pada akhirnya kami bertiga berjalan di jalan masing-masing. Kecuali Hongki yang harus berjuang untuk mengingat masa lalunya.

Kudengar Hongki menghela nafas lagi. “Kau sedang bosan ya?” tanyaku padanya.

“Apa dulu aku punya banyak teman?” katanya padaku. “Saat mendengar suaramu dan suara RaeIn.. aku merasa sangat familiar!” lanjutnya. Sejak tadi ia masih menghadap ke arah yang sama. Tentu saja, melihat kemanapun sama saja. Ia hanya akan melihat latar hitam, meskipun ia tidak sedang terpejam.

“Kau ingin tau?” tanyaku. Ia mengangguk. “Kalau kuceritakan, akan panjang! Bagaimana kalau kau berusaha mengingatnya sendiri?”

“Aish~! Cari ribut!” aku terbahak.

“Aku ingin mendengarmu main gitar lagi, Hongki-a..” ujarku tiba-tiba, setelah beberapa memori di masalalu menyeruak di ingatanku. Dia tidak menjawab, tapi aku benar-benar ingin melihatnya bersemangat dengan musiknya seperti dulu. Dan aku merindukan hubungan baik kami seperti saat sebelum Hongki mengalami kecelakaan itu.

***

“25 detik!” coach berseru tepat saat aku mencapai garis finis. Aku naik ke permukaan, mengelap wajahku dengan tanganku yang basah juga, walau tidak kering, paling tidak air tidak membanjiri wajahku dan aku bisa melihat dengan jelas. “Kesempatan menangmu besar, Geunsuk-a!”

Ye coach!”

“Cepat keluar, latihan kita selesai untuk hari ini!” katanya dengan senyum lebar. Aku tahu ia senang karena waktuku semakin baik.

Aku segera keluar dari kolam, mengambil handuk untuk mengeringkan badanku, dan segera ke shower room untuk membersihkan diri. Seperti yang sudah diketahui, aku adalah seorang atlet renang yang masih setingkat provinsi, namun aku ingin menjadi atlet yang bisa mewakili Negara berlomba di kejuaraan tingkat dunia. Itu impianku. Namun alasanku memilih jalan hidupku sebagai atlet renang bukanlah itu, aku punya alasan lain untuk ini.

#FLASHBACK#

Waktu itu usiaku 10 tahun, aku masih SD, dan merupakan bocah biasa tanpa cita-cita yang pasti. Yang kulakukan hanya bermain-main. Aku malas belajar, bahkan aku tidak suka berkesenian atau olah raga. Yang kulakukan hanya bermain dari jam pulang sekolah sampai senja. Di rumah aku tidak belajar. Aku main video game sendirian sampai ayah dan ibuku kapok untuk menghentikanku. Sampai suatu hari yang mengubah jalan pikiranku.

“Geunsuk-a!!” suara gadis itu melengking dan memanggilku. RaeIn, ia mengejarku dari belakang. Kuhentikan langkahku untuk membiarkannya lebih dekat denganku.

Wae?” tanyaku sok cool sambil berbalik ke arahnya.

“Kau berjanji menungguku sepulang sekolah! Aku mengajakmu nonton opera boneka! Kenapa kau meninggalkanku?” jawabnya panjang. Ia bawel sekali!

“Aku nggak mau nonton ah..” jawabku seadanya. Sebenarnya aku tidak ingin mengecewakannya, tapi opera boneka itu.. membosankan!

Ya~! Wae irae? Kau sudah berjanji padaku!” RaeIn tampak tidak senang. Aku hanya diam, dan sesaat kemudian kembali berjalan pulang. “YA~!” RaeIn menyamai langkahku. Ia menarik tanganku untuk pergi dengannya. Tapi aku menolaknya dan mendadak berhenti. Kutarik tanganku, dan tanpa sengaja membuatnya jatuh tersungkur. Sialnya, kami berjalan di sebuah jalan setapak di tepi sungai. Al hasil, RaeIn bergulung ke bawah melalu tanah berumput yang bentuknya miring, dan ia jatuh ke sungai yang saat itu arusnya cukup deras.

“TOLONG~!!” ia berteriak. Sesekali RaeIn mencoba bangkit ke permukaan, namun ia kembali tenggelam. Ia mengalaminya berulang kali dan terus berteriak minta tolong, dan sejak tadi aku hanya melihatnya dengan wajah cengo karena bingung.

“AHH~!!!” akhirnya aku tersadar, aku harus melakukan sesuatu. Tapi bagaimana caranya?? Aku tidak bisa berenang. Dengan panic, kuambil ranting di sebelahku, aku turun pelan-pelan. Setelah cukup dekat dengan sungai, ku sodorkan rantng itu padanya, walaupun aku tahu ranting itu tidak cukup panjang dan kuat untuk meraihnya.

Dowa ju..” kalimat RaeIn terpotong karena ia kembali tenggelam.

“AHH~!! EOTTEOKHE??” aku berteriak setelah membuang ranting itu. Akhirnya dengan segala kenekatan yang kupunya, kulemparkan tas sekolahku dan seketika, aku terjun ke sungai, mencoba untuk menolong RaeIn. Tapi apa yang terjadi, aku juga ikut tenggelam. Aku gagal menolongnya.

---

“Ah.. dia sudah sadar..” kudengar gumaman beberapa orang, namun visual ku masih hitam. “Dia selamat..” kudengar lagi suara yang berbeda dari arah lain, diikuti dengan masuknya secercah cahaya putih ke pandanganku. Apakah aku sudah berada di surge?

Sedikit demi sedikit kubuka mataku. Masih buram, tapi aku bisa melihat beberapa orang tengah melihatku. “Kau selamat nak~!” suara yang berbeda lagi kudengar, diiringi pelukan seseorang yang merengkuh tubuhku yang basah.

Eomma..?”

Eomma mengkhawatirkanmu nak.. kau hampir saja tenggelam~!” ibuku berbicara lagi. Tenggelam? Sesaat aku ingat kejadian sebelum aku berada disini.

“RaeIn??” aku berteriak. Mataku mencari-cari gadis itu di sekitarku. Sampai kulihat seorang bocah 9 tahun tengah menangis di pelukan seorang wanita muda yang mencoba menenangkannya. Ibunya.

“Dia tidak apa-apa! Tenang saja..” ibu menenangkanku.

Aku masih ketakutan. Bagaimana kalau aku tadi tidak bisa menyelamatkannya dan kami terbawa arus? Bagaimana kalau kami tidak selamat? Bagaimana kalau kami mati? Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dengan RaeIn lagi..?

Sejak saat itulah aku mulai belajar untuk berenang. Setiap pulang dari sekolah, aku akan pergi untuk berlatih. Hingga aku pandai, dan memutuskan untuk benar-benar serius dibidang ini. Aku ingin menjadi juara dunia renang, dan aku tidak ingin RaeIn mengalami hal yang sama seperti yang pernah terjadi padanya saat itu.. aku pasti bisa menyelamatkannya kalau hal itu terjadi.

#FLASHBACK END#

Ya! Mau berapa lama disana? Sampe masuk angin?” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku masih berdiri di bawah shower. Sudah berapa lama ya? Aku tidak ingat.

Setelah merasa cukup bersih dan kedinginan, aku keluar dan memakai bajuku, kemudian bergegas pergi. Bayangan belasan tahun yang lalu itu tak pernah bisa lepas dari pikiranku. Aku merasa sangat bersalah pada RaeIn, meski mungkin bocah itu sudah tidak mengingatnya lagi.

Aku duduk di kursi halte, menunggu bus datang menjemput. Tak lama bus yang ditunggu datang. Aku masuk dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong di bagian tengah. Kupandangi keluar jendela. Rasanya lelah.. sedikit demi sedikit sandaranku sedikit turun. Kupejamkan mataku. Dan aku tertidur tanpa tahu bus ini membawaku berkeliling kota selama berjam-jam.

Geunsuk’s scene END

***

“Tak ada satupun donor mata..” Kimbeom bergumam saat membaca daftar pendonor yang diberikan oleh seorang dokter kenalannya. Setelah ia mendengar cerita tentang Hongki, ia ingin sekali membantu bocah itu. Bukan karena RaeIn, tapi karena ia benar-benar peduli. Tapi factor karena Hongki itu teman RaeIn juga ada sih.. tapi itu bukan alasan sepenuhnya.

Kimbeom menghela nafas. Ia menjejalkan kertas itu di tasnya dengan asal, kemudian menengadah ke langit untuk sedikit merasakan hangatnya cahaya matahari menyentuh kulitnya. Ia bosan setelah cukup lama menepati janjinya pada RaeIn. Seharipun ia tidak mengikuti gadis itu. Ia laki-laki, janji yang sudah ia katakan harus ia pegang. Ia menghela nafas. Masih terdiam disana sampai tiba-tiba sesosok bayangan menutupinya. Kimbeom yang semula memejamkan matanya, mulai membukanya. Ia lihat sosok siluet di hadapannya, hanya menyisakan sedikit semburat cahaya di sekelilingnya. Kimbeom mengernyitkan keningnya. “Siapa ya?”

“Kenapa kau mengunjungi Hongki oppa kemarin??” bukannya menjawab, orang itu malah berteriak pada Kimbeom.

“R..RaeIn?” Kimbeom bangun, ia menoleh kebelakang untuk memastikan lagi siapa orang itu. Benar, dia Park RaeIn.

“Kau ingin menarik perhatianku dengan mengunjungi Hongki oppa, ha??” RaeIn berteriak lagi.

Kimbeom yang ditanya hanya mengernyitkan keningnya. “Apa maksudmu??”

“Lusa! Aku telat datang menemui Hongki oppa! Dan perawat bilang seorang laki-laki datang menemuinya sebelum aku sampai!” jelas RaeIn dengan tampang sengit. “Itu kau kan?”

Kimbeom mengernyit, ia memang sering datang ketempat itu. Tapi sekalipun ia tidak pernah menemui Hongki. “Aku nggak pernah menemuinya!”

Geojitmal! Aku tahu kau datang kesana untuk menarik perhatianku kan??”

Kimbeom bangun, dengan wajah yang mulai diliputi emosi ia memandang RaeIn tajam. “Kau yang memintaku untuk menjauhimu kan?? Lalu apa urusanmu bertanya seperti itu padaku hah?? Lagi pula aku tidak pernah menemui temanmu itu!” Kimbeom membentak. Ia senang akhirnya kini RaeIn yang menghampirinya. Tapi ia sebal karena gadis itu meneriakinya dan menuduhkan hal yang tak pernah dilakukannya.

“Sekarang apa maumu??” RaeIn berteriak.

“Kau yang maunya apa, HAH??” Kimbeom membalas. RaeIn terdiam menciut. Ia tidak tahu Kimbeom bisa marah seperti ini padanya. “Apa kau terganggu karena aku tak pernah membuntutimu lagi?? Kenapa kau tiba-tiba datang dan menuduhku seperti ini setelah kau menyuruhku untuk menjauhi mu?? Apa sih maumu?”

RaeIn masih terdiam. Kimbeom membuang nafasnya, terlalu berat untuk melanjutkan kalimatnya yang panjang itu. “Jangan-jangan kau sadar sekarang kalau kau menyukaiku juga??” Kimbeom mengakhiri kalimatnya. Ia melayangkan pandangan tajam tepat di mata RaeIn sebelum bocah dengan kamera itu akhirnya pergi dari sana.

Tanpa di sadari, jantung RaeIn berdegub kencang, melebihi batasan normal seseorang yang tengah dipacu adrenalin. Ini berbeda, bukan degun jantung yang cepat karena kelelahan. Mendadak wajahnya panas, pipinya merona. Ia memegang wajahnya. “Geojitmal..~” bisiknya pada diri sendiri. Sementara RaeIn masih menyadarkan diri, Kimbeom yang sudah berjalan cukup jauh mulai menyesali apa yang baru saja di lakukannya.

***

RaeIn’s scene

Ini tidak mungkin! Dia cuma orang menyebalkan yang tiba-tiba datang memenuhi kehidupanku! Perasaan ini tidak mungkin terjadi! Tapi sejak tadi jantungku tak dapat berhenti berdegub secepat ini. Dan beberapa ingatan tentangnya menyeruak di anganku. Sesekali aku masih mendengar panggilan yang sering ia layangkan padaku. Tapi ini pasti tidak mungkin! Aku baru mengenalnya, bahkan kami tidak berteman!

Aku mencoba menolak perasaanku. Aku tidak mau menyukai orang itu! Aku tidak mungkin menyukainya! Tidak! “ANDWEE..~!!”

“Ya~! Kau kenapa??” tiba-tiba sesosok suara mengagetkanku. Minji, teman ku yang sejak tadi mengerjakan karyanya di sebelahku menginterupsi.

“Eh.. a.. ahniyo~” jawabku dengan senyum kecil yang di paksakan.

“Sebentar lagi aku mau pulang! Kau tolong kunci studionya ya!” katanya. Ia sudah mengemasi beberapa perlengkapannya dan menutup kanvas pekerjaannya.

“Hmm..” jawabku mengiyakan sambil mengangguk. Tapi jantungku masih belum mereda. Ia membuatku tak bisa berkonsentrasi!

RaeIn’s scene END

***

“Aku menyukaimu~”

Aku mendengarnya mengatakan itu dengan telingaku sendiri..

“Oppa~”

Aku mendengarnya memanggilnya oppa..

Aku tak bisa mendengarnya lagi.. aku berlari keluar ruangan, menaiki motorku dengan serampangan menuju entah kemana. Yang ku tahu aku hanya ingin lari dari sini.

Namun tiba-tiba kudengar suara mobil dengan klakson yang di tekan tanpa jeda. Tak sempat. Dan beberapa detik kemudian, kurasakan semuanya sakit.. panas.. dan gelap..

Tiba-tiba Hongki terjaga. Namun yang ia lihat hanya gelap, meskipun matanya terbuka begitu lebar. Keringat bercucuran di seluruh badannya. Ia baru mendapatkan sebuah mimpi, yang membuatnya bangun begitu saja di tengah malam. Sejak Geunsuk sering menemuinya, mimpi itu selalu datang. Namun sampai sekarang ia masih tidak  tahu, apa sebenarnya yang baru dilihatnya dalam mimpi..


***To be Continue***


[golden circle] ~ part 3

cast : Lee Hong Ki - Nara - Jang Geun Suk



Lee Hong Ki’s Scene

“Hong-ah, bagaimana ini?” Jason rupanya terus mendesakku dengan urusan audisi band itu. Tidak mungkin jika aku mengatakan hal yang sebenarnya.

“Jujur aku tanya, apa kamu masih bersemangat dengan semua ini setelah Hyuri merusaknya?”

Ku lihat Jason menghelas nafas, dia berfikir sejenak. “Tidak, tapi aku masih ingin mengusahakannya..namun setelah melihat reaksi yang lain aku jadi malas..namun disisi lain aku masih ingin mengikuti audisi itu. Kamu sudah mendaftar kan?”

Aku menggangguk, namun fikiranku masih melayang oleh selebaran yang kemarin aku temukan di dekat rumah Geun Suk.

YA Hong-ah, ada yang sedang kamu fikirkan?”

“Aa, aniyo...jadi kesimpulannya kita mundur dari audisi itu? Harinya semakin dekat...”

“Tapi bagaimana dengan yang lain? Apa mereka tidak akan kecewa?”

Aku membuang pandangan ke sekitar taman kampus, ku lihat yang lainnya sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. “Lihat saja mereka, sepertinya sama sekali tidak memikirkan audisi itu.”

“Lalu, formulirnya sudah dikirim kan?”

“Ah, itu tidak jadi masalah. Kan bisa di skip, atau jika memang belum dikirim oleh Ahjussi, aku bisa memintanya lagi nanti malam. Apa kamu mau ikut aku ke klub malam nanti?”

Jason menggeleng, “Tidak bisa, aku sudah ada janji.” Kemudian dia berlalu.

*

Pukul 11 malam aku mengunjungi Ahjussi, niatku sebenarnya mau meminta kembali formulir yang ku isi beberapa hari yang lalu. Tapi sepertinya niat itu jadi tak terlaksana.

“Ahjussi!”

“Eh Hong Ki, apa mau membantuku?”

Aku menggeleng, “Tidak, aku hanya.....”

Seseorang merangkulku tiba-tiba, “Eh bocah! Aku punya berita bagus untukmu.” Geun Suk Hyung berbisik padaku, “bagaimana jika kita membuat band, bersama?”

Aku melepaskan rangkulannya, masih ingat benar jika dia itu seorang gay. Aku merinding geli. “Aku kan belum tahu bagaimana caramu bermusik.”

Geun Suk mentoyor kepalaku, “Ayo kerumahku, akan ku tunjukkan keahlianku berpiano!”

“Andwae!” aku mendorong Hyung cukup keras, “Hyung, aku tidak mau dekat-dekat denganmu!” kulihat Ahjussi memperhatikan kami, dia pasti tahu jika laki-laki gondrong ini seorang gay.

“Aniyo....aku tidak menyukaimu seperti apa yang kamu fikir selama ini! Yang ku katakan waktu itu benar! Tenang saja aku sudah mempunyai kekasih!!”

Aku merapat lagi, “Apa dia seorang wanita?”

Geun Suk mentoyorku lagi, “Bukanlah! Aigoo, dia tampan sekali!”

Aku refleks memukul lengannya, “Ish! Aku tidak mau dekat-dekat denganmu!” ku tinggalkan Hyung begitu saja.

YA Hong Ki-ah! Tunggu!”

Lee Hong Ki’s Scene End

***

Geun Suk mengejar bocah berambut orange itu, di saat seperti ini Hong Ki masih saja sempat mengubah warna rambutnya.

“Hong Ki, apa kamu menolak tawaranku?”

Hong Ki mendengus, “Kapan aku bilang seperti itu?”

“Artinya kamu setuju?” Geun Suk memegangi tangan Hong Ki, dia menepisnya. “Kemarin, ada gadis yang memohon-mohon padaku agar aku menjadi salah satu anggota bandnya...” Geun Suk tampak menggantungkan kalimatnya.


:: Flashback ::

“Ku mohon, jadilah keyboardist untuk bandku!!”

Geun Suk nampak mengamati dandanan gadis itu, namun ia berasa tidak bisa tidak membukakan pagar rumahnya untuk gadis itu.

“Masuklah, bicara di dalam saja.”

Nara, dia mengucapkan nama itu untuk Geun Suk dan hal yang tanya pertama kali pada laki-laki tinggi dengan rambut bergelombang itu adalah piano yang terletak di ujung ruangan.

“Itu, piano itu bukan milikmu kan?”

Geun Suk menoleh kebelakang, ke arah gadis itu. “Bagaimana kamu tahu?”

Nara sedikit tersenyum, “Yah seperti itulah, aku tahu begitu saja. Hahaha..” imbuhnya dengan tawa garing.

“Itu milik mendiang kakekku. Sudah lama sekali, oya...kamu berlutut memohon apa tadi?”

“Ah! Bagaimana jika kamu menjadi anggota bandku? Aku mendengar kamu bermain piano tadi, aku suka irama itu.”

“Kamu suka dengan irama itu?” Geun Suk tiba-tiba tampak antusias dengan mengambil map hijaunya.

Nara menggangguk, “Iya, suka. Tapi aku mendengarnya samar, bisa kamu ulangi lagi? Aku ingin dengar.”

Rabu, 15 Februari 2012

[golden circle] ~ part 2

cast : Lee Hong Ki - Nara - Jang Geun Suk



:: Flashback ::

Geun Suk mengunjungi Nitez Bar n Club seperti malam-malam sebelumnya. Tentu saja menghilangkan rasa kesepiannya karena ditinggal sang ‘kekasih’ ke Swiss. Sembari mencari inspirasi untuk musik barunya, Geun Suk melempar senyum dan pandangan nakal kepada setiap orang yang dilihatnya. Namun ada sesosok anak manusia yang benar-benar menarik perhatiannya.

~`Bocah itu lumayan manis, aku tidak pernah melihatnya disini...apakah dia pelayan baru disini?~`

“Tuan, seperti biasa?” tanya bartender yang ternyata adalah Paman dari bocah laki-laki yang dilihat Geun Suk tadi.

Geun Suk menggangguk, “Itu siapa? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya?”

“Aa, dia keponakanku. Kebetulan sedang tidak ada jam kuliah makanya membantu disini. Jangan bilang Tuan ingin mendekatinya!” dia memberikan peringatan.

“Aa....Aniyo! Dia bukan tipeku! Tenang saja Ahjussi!”

“Dia bocah yang baik, tapi dia sering kabur dari rumah. Demi bermusik dia juga sering membolos, tapi sekarang semuanya sudah terkendali.”

“Ah, keponakanmu suka musik juga?”

“Semenjak kecil Ibunya mengajari dia tentang dunia musik, tapi Ayahnya tidak menyukai kegiatan itu. Sepertinya ia sama denganmu?”

“Mungkin, Ayahku juga tidak suka aku bermusik. Ahjussi, apa dia serius dengan musiknya?”

“Yah, sepertinya begitu. Ku harap suatu hari dia benar-benar sukses dengan musiknya. Dia suka bermain drum, gitar,...suaranya juga bagus.”

“Eh? Jinjjaro?”

“Ne. Suatu hari pasti Tuan akan mendengarkan suaranya!” Ahjussi membereskan pesanannya kemudian menyuruh ponakannya mengantarkan minuman, “Hong Ki, antarkan ini ke meja 5.”

“NE!”

~`Bocah itu...Hong Ki?~`

:: Flashback End ::


“Siapa? .... Aku Lee Hong Ki.” Jawabnya dengan wajah tanpa senyuman.

Geun Suk bangkit dan menarik kembali ucapannya, “Sudahlah, hanya luka kecil tidak perlu sampai kerumah sakit segala.”

“Hyung,...” Hong Ki menggantung kalimatnya.

“Mwo?”

“Ah... mungkin aku sudah gila..!” gumam Hong Ki. Dia mengacak rambut sejadi-jadinya.

Geun Suk hanya memperhatikan bocah itu, lekuk hidungnya, bentuk bibirnya...Geun Suk suka bibir tipis milik Hong Ki.

“Hyung, maaf dari kemarin aku jalan tidak hati-hati. Aku sedang,...ada masalah.”

“Aaa, gwaenchana. Bagaimana jika sebagai permintaan maaf kamu mentraktirku makan di kedai dekat rumah sakit?”

Hong Ki memutar bola matanya, “Okay..no problem!”

*


Lee Hong Ki’s Scene

Ku fikir Hyung adalah pribadi yang unik, ‘cara berpenampilan seseorang adalah cerminan bagaimana sikapnya’.

“Hyung, boleh aku tanya sesuatu?”

“Sure!”

“Siapa namamu?”

Hyung berambut gondrong ini tidak menjawab, ia malah tersenyum dan meminum minuman sodanya. Tidak lupa melahap daging sapi kualitas nomor 1 di Korea ini.

YA~ Hyung..”

“Panggil saja seperti itu, nama tidaklah penting. Toh, ini kan hanya kebetulan kita bertemu. Mungkin besok atau seterusnya tidak akan bertemu lagi.”

“Kenapa Hyung ngomong gitu? Apakah aku merusak mood mu?”

“Ani....” ku lihat Hyung hanya membolak-balikkan daging di atas panggangan itu. “Aniyo...”

Aku menunggunya berbicara lagi, jujur aku tertarik dengan orang macam Hyung gondrong ini. Mengenal banyak orang baru, aku menyukainya.

“Makanlah, ini milikmu.” Hyung mengambilkan aku beberapa potong daging, namun aku lebih tertarik dengan Hyung, maksudnya dengan kepribadiannya.

“Hyung!” refleks aku mengguncang tangannya, pandangannya sedih namun bercampur rasa kaget juga. “Hyung, kita sudah makan bersama, ini artinya kita sudah menjadi teman!”

“EH? Hukum dari mana itu? Ingat, kamu menabrakku dua kali!”

“Hyung! Anggap saja begitu, aku lihat sepertinya Hyung kesepian, kalau begitu kita berteman saja! Setiap hari aku akan menemuimu! Ku lihat juga Hyung pandai bermusik, jika Hyung mengajakku membuat sebuah band, aku mau!”

Geun Suk menepis tanganku, “YA! Bocah! Kamu berlagak seperti orang yang sudah lama kenal denganku saja...ingat, aku terluka! Perih tahu!......Tapi apa benar kamu mau menjadi temanku? Kita kan baru mengobrol sekali ini doang..”

“Hyung, aku sedang ada masalah...setidaknya bertemu denganmu bebanku jadi sedikit terlupakan..”

“Bukan berarti kamu bisa lepas tanggung jawab dong.”

Aku menghela nafas, bingung dengan audisi yang semakin hari semakin dekat ini. Jika aku pergi begitu saja mereka pasti akan membenciku, tapi jika ku hadapi, aku merasa tidak sanggup menggantikan posisi Hyuri...

“Rockout Festival.” Ucapku ngelantur.

“Itu...kalau tidak salah audisi dari GC Entertainment kan? Kamu ikutan juga? Kamu punya band?”

“Iya Hyung, tapi.....” aku menghelas nafas lagi, memandang daging sapi itu dengan 0% hasrat untuk menyantapnya. “Vokalisku lepas tanggung jawab, jadinya kacau, terpaksa aku yang harus meninggalkan posisi di drum dan bernyanyi. Uh, sama sekali tidak nyaman rasanya. Sudah lama aku ingin meninggalkan mereka.”

“Wae?”

“Ngga pas. Mereka mainnya ga ke kontrol, suka ngawur...sesuka hati..ah, otteokhae?”

Hyung menepuk pundakku, “Jalani saja, bagus atau tidaknya nanti saat audisi hadapi. Kalau tidak lolos terserah kamu mau lanjut dengan mereka atau tidak.”

“Aku merasa tidak enak dengan mereka, tapi aku kesal juga dengan mereka.”
Hyung terus menepuk-nepuk pundakku, baru kali ini aku merasa ada seseorang yang benar-benar membuatku nyaman.

Lee Hong Ki’s Scene End

***

Di tempat yang berbeda....

“What’s wrong with you?” gadis ini mengambil sehelai tissue untuk sahabatnya yang sedang menangis.

“I quit!!” teriak gadis berstyle emo itu. Dia berlari meninggalkan gitarnya.

YA~ Jasmine! Gitarmu!”

Gadis itu kembali hanya untuk mengambil gitarnya.

“Sudahlah, jangan hiraukan dia. Lebih baik kita lanjutkan apa yang tertunda karenanya.”

“Dengarkan. Sudah lama aku tidak nyaman dengan hubungan kalian, aku tidak pernah melarang kalian berpacaran, tapi ngga begini caranya! Band kita jadi hancur hanya karena kalian!”

“Kalau begitu, kita akan teruskan tanpa dia!”

“Andwae, aku mundur. Cari saja drummer yang baru.” Gadis dengan gaya emo punk itu keluar dan meninggalkan cafe. Dia berjalan menyusuri malam dengan sepatu belelnya; robek di ujung sana dan sini. Berbekal stick drum, dia mencoba mencari lowongan dari cafe ke cafe, namun sepertinya malam ini bukan keberuntungannya.

‘DUKK!’

Seseorang telah menabrak pelan bahunya. Gadis itu menoleh, yang ia lihat hanya punggung mereka.

“Hey kalian!” teriak gadis berambut sebahu itu. “Jalan ini lebar, apa kalian tidak bisa berjalan lebih jauh dariku?”

Seseorang dari mereka menoleh, “Hm? Kamu berbicara pada kami?”

Gadis itu mendengus, “Memangnya ada orang lain selain kalian disini?”

“Apa tadi dia menabrakmu?” Orang itu menunjuk teman disampingnya. “Ah, maaf. Tidak sengaja.”

“Aku tidak menyuruhmu meminta maaf, aku mau temanmu yang meminta maaf!”

Kedua orang itu berlalu, “Sudahlah, maafkan saja orang ini sedang mabuk!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Merasa tidak terima, gadis itu menghadang. Dan benar saja, orang yang menyenggol bahunya itu tampak tidak normal.

“Aish, sudah ku bilang orang ini sedang mabuk!”

Gadis itu memindah pandangannya pada si cerewet, laki-laki dengan rambut gondrong yang bergelombang. “Kamu...ini laki-laki atau perempuan?”

YA!~ mau cari mati??!” ternyata kedua laki-laki ini adalah Geun Suk dan Hong Ki. Mereka baru saja meninggalkan daging panggang dengan percuma.

“Eh, cwesonghamnida Oppa!” gadis itu langsung kabur, ekspresinya sama seperti Hong Ki kala melihat Geun Suk untuk pertama kalinya.

“Dasar bocah tengik! Apa aku benar-benar mirip dengan wanita hah?”

***

Hong Ki menggeliat, efek Soju semalam membuat kepalanya pusing. “Hmm, dimana ini?” Hong Ki meraba alas tidurnya, sutra. ~`Ini bukan tempat tidurku..~`

“Hay bocah, cepat mandi dan bereskan tempat tidurku!” Terdengar suara Geun Suk mengomel dari kejauhan.

“Kamu yang membawaku pulang semalam?” Hong Ki mencoba membuka lebar matanya. “Aa. Gomawoyo..”

“Cepat pulanglah, keluargamu sudah menunggu.”

Pikiran Hong Ki masih belum tersambung dengan nyawanya, ia masih bermalas-malasan di kasur mahal itu. “Hyung, apa aku mabuk semalam?”

“Hmm, cepat bangun! Jika tidak aku akan menyirammu dengan air es!”

Hong Ki bangun dan menuju kamar mandi, “AAAAAAAAAAA~~!” terdengar teriakan Hong Ki yang mengagetkan Geun Suk. “Hyung! Apa yang Hyung lakukan padaku semalam?”
Geun Suk benar-benar tidak mengerti apa yang di maksud bocah bersuara nyaring ini.

“Apa ini Hyung? Kiss mark? Kiss mark dimana mana! Apa yang...hmmpphh...!”
Geun Suk memasukkan gumpalan kertas ke mulut bocah itu.

“Jangan berfikir kotor! Semalam banyak nyamuk, aku memukulnya disana dan disini.” Tunjuknya di bagian yang merah seperti kiss mark itu. “Walaupun aku gay, hargaku mahal!” ucapnya membuat Hong Ki buru-buru kabur meninggalkan rumah Geun Suk dengan gumpalan kertas yang masih menyumbat mulutnya.

“Mau kemana?! Kamu belum membereskan tempat tidurku! YA, YA~ !”

Hong Ki segera kabur dengan perasaan geli menyelimuti seluruh tubuhnya, padahal apa yang di katakan Geun Suk adalah sebuah  kebenaran.

“Sudah ku duga dari awal, orang itu bukan orang yang biasa saja...dia gay! Dan kini aku berteman dengan seorang gay? GAY? Argghh..!”

Dari kejauhan, Hong Ki melihat selebaran yang di tempel di tiang listrik. Karena ingin mengalihkan pikiran tentang Geun Suk yang gay, dia menghampirinya.

“Selebaran macam apa ini? Mencari anggota band, vokalis, gitaris, keyboardis,....kenapa tidak mencari drummer saja? Hhhh.” Hong Ki mengabaikan selebaran itu dan berlalu menuju rumahnya. Perutnya kosong, ia merasa lapar.

*

“Sepertinya ini percuma..” gumam gadis itu sambil menempelkan banyak kertas ke sebuah dinding kosong sepanjang jalan.

TING TING TIIING TING...’

Gadis itu mendengar samar-samar suara dentingan piano, ia melihat waktu, masih pukul 8 pagi. Ia mencari dimana asal suara itu berasal, dan sampailah ia di suatu rumah bergaya minimalis. Suara piano itu terangkai menjadi sebuah musik yang begitu menyentuh. Di bayangannya, ia sedang mengiringi melodi itu dengan drum khas gayanya. Namun melodi itu berhenti.

Geun Suk memandangi gadis yang terbengong di depan pagar rumahnya. “Kamu yang semalam kan?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan kemudian memandang Geun Suk, “Eh? Sepertinya aku pernah melihat....kamu yang semalam kan!? Iya kan?”

“Sedang apa berdiri di depan rumahku?”

Gadis itu memandang remeh Geun Suk, “Aku tidak percaya jika ini adalah rumahmu.”

“MAU CARI MASALAH?” teriak Geun Suk menggertak gadis sok itu.

“Buat apa teriak? Aku tidak tuli! By the way, siapa yang main piano tadi? Jangan bilang itu kamu!”

“Jika itu memang aku, mau apa?”

Gadis itu langsung merubah ekpressinya, dia berlutut. “Ku mohon, jadilah keyboardist untuk bandku!!”



~to be continue ... 
[part 3]